Budi Arista Romadhoni
Minggu, 21 Juni 2026 | 16:22 WIB
Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Tengah, Sumarno saat membuka acara Dieng Caldera Race (DCR) 2026 kategori 25K. [Dok Humas]
Baca 10 detik
  • Dieng Caldera Race 2026 yang berlangsung 19-21 Juni di Wonosobo diikuti sekitar 2.000 peserta, termasuk 150 pelari mancanegara.
  • Penyelenggaraan acara sport tourism ini bertujuan mempromosikan destinasi wisata Jawa Tengah melalui tantangan rute lari di Gunung Sindoro.
  • Ajang lari ini memberikan dampak positif bagi ekonomi lokal dengan estimasi perputaran uang mencapai Rp20 miliar bagi masyarakat.

SuaraJawaTengah.id - Gelap masih menguasai langit Pegunungan Dieng Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Suhu 14° celcius menggigilkan kulit saat waktu menunjukkan pukul 03.30 WIB pada Minggu, 21 Juni 2026.

Walakin, di Tambi Tea Resort, Wonosobo, asa sudah menyala lebih dulu. Para peserta Dieng Caldera Race (DCR) 2026 kategori 25K bersiap menjalani perlombaan lari melintasi pegunungan.

Dari ketinggian 2.330 meter, para pelari tak hanya mengejar garis finis—mereka mengejar harapan baru bagi pariwisata dan ekonomi Jawa Tengah.

Sebab, Dieng Caldera Race bukan sekadar ajang adu ketahanan fisik. Event trail run yang digelar di kawasan Dieng ini menjadi bagian dari upaya mendorong pertumbuhan pariwisata dan ekonomi daerah melalui konsep sport tourism.

Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Tengah, Sumarno, mengatakan penyelenggaraan DCR 2026 menjadi salah satu cara memperkenalkan potensi wisata Dieng kepada masyarakat luas, termasuk para pelari dari berbagai daerah dan mancanegara.

“Bagi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, trail run ini adalah salah satu pintu kita untuk pengembangan wisata. Olahraga bisa dikaitkan dengan pariwisata, menjadi sport tourism,” ujar Sumarno.

Menurutnya, kehadiran para peserta tidak hanya memberikan dampak saat mengikuti perlombaan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Para peserta dan pendamping diharapkan turut menikmati berbagai potensi wisata, menggunakan jasa penginapan, membeli produk lokal, hingga menikmati kuliner khas daerah.

“Kami berharap yang hadir di sini tidak hanya lari, tetapi juga bisa menikmati pariwisatanya, bisa berbelanja, makan, dan minimal menginap di sini. Ini menjadi bagian untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Wonosobo khususnya, dan Jawa Tengah pada umumnya,” katanya.

Baca Juga: Beli Mobil Listrik di Jateng Masih Bebas Pajak, Pemprov Kejar Mobilitas Ramah Lingkungan

Sumarno juga mengapresiasi konsistensi penyelenggara yang terus menghadirkan Dieng Caldera Race dengan konsep dan tantangan berbeda setiap tahun.

Menurutnya, perubahan rute pada tahun ini memberikan pengalaman baru bagi para peserta. Para pelari harus menghadapi rute baru dengan tantangan lebih berat karena melewati kawasan Gunung Sindoro.

“Rutenya berbeda dengan tahun lalu. Hari ini kita naik sampai puncak Sindoro. Cukup menantang, naiknya berat, turunnya lebih berat lagi,” tutur Sumarno yang berhasil menyelesaikan kategori 25K dengan catatan waktu 9 jam 25 menit.

Direktur Dieng Caldera Race 2026, Ade Hendrik Saputra, mengatakan perubahan rute menjadi salah satu daya tarik utama DCR tahun ini. Khusus kategori 25K, peserta diajak melewati jalur Gunung Sindoro yang sebelumnya belum menjadi bagian dari lintasan.

“Untuk kategori 25K tahun ini 100 persen berubah. Kita naik Sindoro. Ini yang menjadi daya tarik DCR 2026, karena peserta terbanyak tahun ini ada di kategori 25K,” jelasnya.

Menurut Hendrik, secara keseluruhan DCR 2026 diikuti sekitar 2.000 peserta dengan peningkatan jumlah peserta asing yang cukup signifikan. Tahun ini tercatat lebih dari 150 peserta asing ambil bagian, meningkat dibanding tahun sebelumnya yang berjumlah sekitar 44 orang.

Load More