- SDN Purwoyoso 01 Semarang hanya menerima tiga siswa baru pada hari pertama MPLS, Senin, 13 Juli 2026.
- Penurunan jumlah siswa terjadi karena perubahan demografi warga lanjut usia dan migrasi keluarga muda ke daerah perbatasan.
- Pihak sekolah tetap menyelenggarakan kegiatan MPLS bertema sirkus dengan fasilitas lengkap guna menunjang proses belajar siswa tersebut.
SuaraJawaTengah.id - Hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Kota Semarang menghadirkan potret kontras dunia pendidikan. Di saat sejumlah sekolah kebanjiran pendaftar, SDN Purwoyoso 01, Kecamatan Ngaliyan, justru hanya mengawali tahun ajaran 2026/2027 dengan tiga peserta didik baru.
Padahal, melalui Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), sekolah tersebut sempat menerima lima calon siswa. Namun, dua di antaranya memutuskan tidak melakukan daftar ulang sehingga hanya tiga siswa yang resmi mengikuti MPLS.
"Yang mendaftar secara online ada lima anak, tetapi dua tidak daftar ulang, sehingga yang benar-benar masuk tinggal tiga siswa," ujar Kepala SDN Purwoyoso 01, Hajar Ristianni, Senin (13/7/2026).
Jumlah tersebut jauh di bawah daya tampung sekolah yang mencapai 28 murid. Kendati demikian, kondisi itu tidak menyurutkan semangat pihak sekolah menyambut tahun ajaran baru.
Pembukaan MPLS tetap dikemas meriah dengan tema sirkus. Guru-guru menghadirkan badut sebagai maskot penyambutan agar tiga murid baru tetap merasakan pengalaman hari pertama sekolah yang menyenangkan.
"Berapa pun jumlah muridnya, kami tetap semangat. Kami ingin anak-anak merasa senang dan bersemangat memulai sekolah," katanya.
Hajar menilai minimnya pendaftar bukan disebabkan kualitas sekolah, melainkan perubahan kondisi demografi di lingkungan sekitar. Kawasan Purwoyoso kini lebih banyak dihuni warga lanjut usia, sementara keluarga muda dengan anak usia sekolah dasar semakin berkurang.
Selain itu, banyak pasangan muda memilih tinggal di perumahan subsidi di wilayah perbatasan Semarang-Kendal, seperti Kaliwungu dan Boja. Akibatnya, jumlah calon siswa di sekitar sekolah terus menurun.
Ia menambahkan, sekolah-sekolah dasar lain di sekitar wilayah tersebut juga mengalami kondisi serupa sehingga tidak ada perpindahan atau limpahan calon peserta didik.
Baca Juga: KPK Tetapkan Bupati Sukoharjo Tersangka Pemerasan, Pemprov Jateng Belum Tunjuk Plt
Meski kekurangan murid, SDN Purwoyoso 01 mengklaim tetap memiliki fasilitas pembelajaran yang lengkap. Mulai dari laboratorium komputer, perpustakaan, ruang UKS, musala, Smart TV bantuan pemerintah, hingga sarana olahraga tersedia untuk menunjang proses belajar mengajar.
Untuk menarik minat masyarakat, sekolah juga memberikan perlengkapan belajar gratis berupa topi, dasi, dan atribut kelas kepada siswa baru. Bahkan, pihak sekolah berencana membagikan seragam batik dan seragam olahraga tanpa biaya.
Rangkaian MPLS diisi dengan penyambutan di gerbang sekolah, upacara pembukaan, pengalungan kokarde, perkenalan guru dan tenaga kependidikan, tur mengenal lingkungan sekolah, permainan edukatif, hingga kegiatan mewarnai sebagai bagian dari adaptasi siswa baru.
Berita Terkait
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan 12 Juli 2026, Masa Sulit Diprediksi Berakhir
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 Pilihan Motor Anti Low Back Pain, Cocok Buat Touring di Akhir Pekan
- Tan Kian Orang Terkaya ke Berapa di Indonesia?
Pilihan
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
-
Iran Luncurkan Serangan Balasan ke Amerika, Serbuan Drone Meluncur
-
Garda Revolusi Iran Tutup Lagi Selat Hormuz Sampai Batas Waktu Tak Ditentukan
Terkini
-
Ironi Hari Pertama Sekolah, SD Negeri di Semarang Hanya Ada Tiga Murid Baru
-
Usai OTT KPK, Ahmad Luthfi Gerak Cepat Tunjuk Eko Sapto Purnomo Jadi Plt Bupati Sukoharjo
-
Drama Brankas di Kota Jamu: Ketika 'Setoran' Berakhir dengan Rompi Oranye
-
Wakil Ketua DPRD Jateng Soroti Minimnya Hilirisasi, Usulkan Cold Storage di Pelabuhan Cilacap
-
Kisah Anak Pengemudi Ojek dan Buruh Tani: Tetap Bisa Sekolah Meski Terhambat Ekonomi