- Tiga serangan bom berdaya ledak rendah terjadi di lingkungan sekolah Indonesia selama kurun waktu November 2025 hingga Juli 2026.
- Pelaku serangan adalah pelajar setempat yang memiliki latar belakang sebagai korban perundungan, namun tidak menyebabkan jatuhnya korban jiwa.
- Paparan paham ekstremisme kini menyasar generasi muda melalui ruang digital dan gim daring yang minim pengawasan interaksi sosial.
SuaraJawaTengah.id - Belum genap setahun, setidaknya di Indonesia sudah 3 kali terjadi serangan “bom” menyasar sekolah. Teranyar terjadi di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3, Padang, Sumatera Barat, Selasa (14/7/2026).
Dua kejadian sebelumnya; pada 3 Februari 2026 di SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat dan pada 7 November 2025 di SMA 72 Jakarta.
Penanganan kasus-kasus itu dilakukan “keroyokan”. Mulai dari otoritas pemerintah bidang perlindungan anak, aparat keamanan yang juga membidangi PPA, psikolog pendamping hingga Densus 88/Antiteror.
Ada benang merah dari ketiganya; pelakunya adalah pelajar sekolah setempat, rata-rata punya history jadi korban perundungan. Tak ada korban tewas dari 3 kejadian itu. Dari otoritas terkait, benda yang meledak itu kategori “low explosive” alias berdaya ledak rendah, lebih dekat ke petasan.
Ini tentu berbeda dari kejadian pengeboman berdaya ledak tinggi yang sempat terjadi di Indonesia. Sebut saja era-2000 ketika aksi teror dilakukan sistematis, dirancang jauh-jauh hari, dipersiapkan martirnya dan memang dilakukan untuk tujuan membunuh. Pelakunya ketika itu misalnya dari kelompok Jamaah Islamiyah (JI), salah satu jamaah “jihad” di Indonesia, yang organsasinya sudah ditetapkan sebagai terlarang, pada 2024 lalu membubarkan diri.
Namun, apakah serangkaian insiden yang terjadi di sekolahan itu kemudian dianggap tidak berbahaya? Tentu jawabannya tidak. Salah satu hal yang bisa dibaca dari kejadian itu adalah; kekerasan telah menyusup masuk ke usia anak-anak. Tak hanya paparan, tapi juga sudah meningkat menjadi aksi.
Psikolog Soegijapranata Catholic University (SCU) Semarang, Christa Vidia Rana Abimanyu, pada acara talkshow bersama Detasemen Khusus 88/Antiteror pada medio Juni lalu, mengingatkan bahwa proses seseorang tak terkecuali anak-anak, terpapar paham ekstrem tidak terjadi secara instan.
“Ada tahapan yang berlangsung perlahan, sering kali tanpa disadari. Secara psikologis, orang tidak terpapar hanya dalam semalam,” kata Psikolog Bima pada paparannya.
Dia menyebut, ada proses bertahap yang terjadi. Mulai dari intoleransi, kemudian radikalisme, meningkat menjadi ekstremisme hingga pada bentuk yang paling ekstrem yaitu terorisme. Aksi teror.
Baca Juga: Di Ambang Putus Sekolah, Ribuan Anak Miskin Jateng Diselamatkan Program Sekolah Kemitraan
Di kesempatan yang sama, ketika itu, Densus 88/Antiteror memaparkan ruang-ruang digital bahkan gim online, hari ini menjadi lahan baru paparan kekerasan. Prosesnya dari gim online dengan percakapan terbuka, kemudian beralih ke percakapan tertutup, grup-grup perpesanan, di mana terjadi komunikasi lebih intens, privat, sekaligus menyebarlah aneka bentuk konten yang berisi kekerasan.
“Sebut saja, misalnya ada grup Al Kohjah, adalagi TCC (True Crime Community),” kata salah satu perwira Densus 88.
Bima menambahkan, platform digital saat ini menggantikan banyak ruang interaksi sosial yang dulu digunakan untuk berinteraksi langsung antar-individu.
“Dulu, misalnya, ruang-ruang pertemuan ada di lapangan, di pos ronda, kita berkumpul kawan, bermain gitar, berinteraksi, sekarang seiring berkembangnya teknologi, semua itu hampir beralih ke ruang digital,” sambung Bima.
Sebab itu, menurut dia, ruang digital menjadi arena yang sangat strategis bagi berbagai pihak, termasuk kelompok yang ingin menyebarkan pengaruhnya.
Bagi generasi muda, tantangannya bukan hanya bagaimana menggunakan teknologi, tetapi juga bagaimana memahami informasi yang diterima dan membangun kemampuan berpikir kritis di tengah derasnya arus informasi dan paparan konten digital.
Berita Terkait
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- Tan Kian Orang Terkaya ke Berapa di Indonesia?
Pilihan
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
Terkini
-
Belum Setahun, Tiga Serangan 'Bom' Menyasar Sekolah di Indonesia, Pelaku Selalu Korban Perundungan?
-
35 SD Negeri di Temanggung Sepi Peminat, Satu Sekolah Nihil Murid Baru
-
Akses Pupuk Bersubsidi Diklaim Makin Mudah, Penyaluran Capai 5,13 Juta Ton
-
BPI Perkuat Kolaborasi dengan Masyarakat Pesisir Lewat Pelestarian Tradisi Sedekah Laut Roban
-
BRI Perkuat Kontribusi Fiskal, Pajak dan Dividen Capai Rp19,1 Triliun