- Polres Pemalang menetapkan siswa kelas 8 sebagai ABH karena membuli adik kelasnya di SMP Randudongkal pada Juli 2026.
- Korban sempat dirawat di rumah sakit sebelum akhirnya meninggal dunia pada hari Minggu, 2 Agustus 2026.
- Polisi memeriksa 17 saksi dan menjerat pelaku menggunakan Undang-Undang Perlindungan Anak yang berlaku.
SuaraJawaTengah.id - Penyidik Satuan Reserse Kriminal Polres Pemalang menetapkan seorang siswa SMP jadi Anak Berhadapan Dengan Hukum (ABH). Kasusnya melakukan bullying kepada adik kelasnya hingga tewas di salah satu SMP di Kecamatan Randudongkal, Kabupaten Pemalang.
“Terduga ABH pelajar kelas 8, sementara anak korban adalah pelajar kelas 7, di sekolah yang sama,” kata Kapolres Pemalang AKBP Rendy Setia Permana kepada wartawan, Senin (24/8/2026).
Kasus dugaan tindak pidana kekerasan terhadap anak itu, ungkap Kapolres, terjadi sebanyak 4 kali pada bulan Juli 2026. Lokasinya di lingkungan sekolah.
“Lokasi kejadiannya di bawah pohon dekat gerbang sekolah, depan ruang laboratorium IPA, depan ruang kelas 7D dan di depan toilet sekolah,” bebernya.
Pasca-kejadian, lanjutnya, anak korban sempat mendapat perawatan medis di Puskesmas Randudongkal dan RS Muhammadiyah Mardhatillah. Tapi, pada Minggu 2 Agustus 2026 pukul 20.00 WIB, korban meninggal dunia dalam perawatan rumah sakit.
“Ibu dari anak korban ini melaporkan ke Polres Pemalang,” sambungnya.
Total ada 17 saksi yang dimintai keterangan, mulai dari guru mata pelajaran, guru BK, teman sekolah hingga tenaga medis. Penetapan ABH itu didasari bukti-bukti yang diamankan dan pemeriksaan saksi-saksi.
Kapolres Pemalang mengatakan, proses penanganan perkara dilakukan sesuai dengan Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak.
“Terhadap ABH, dikenakan Pasal 80 ayat 2 dan atau ayat 3 UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak,” kata Kapolres Pemalang.
Baca Juga: Tragis! Kronologi Bocah 7 Tahun di Pemalang Tewas Tenggelam di Dasar Kolam Saat Les Perdana
Kapolres Pemalang mengimbau pihak sekolah, orangtua dan masyarakat untuk bersama-sama meningkatkan pengawasan dan pembinaan terhadap anak, menciptakan lingkungan sekolah aman dan bebas kekerasan.
Kontributor : Eka Setiawan
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Desil Mendadak Melonjak, Warga Jogja Terancam Kehilangan Bansos
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
Jet Tempur Sukhoi TNI AU Tergelincir Nyaris Hantam Jalan Raya di Maros
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
Terkini
-
Bully Berujung Maut di Pemalang, Siswa Kelas 8 Ditetapkan Jadi ABH, 17 Saksi Diperiksa
-
BRI Hadirkan BRImo Taiwan Untuk Mudahkan Transaksi PMI
-
Lewat Skema Transfer, Kendal Tornado FC Datangkan Fikron Afriyanto dari Persijap
-
Ribuan Warga Padati Halaman Kantor Gubernur, Bersholawat dan Doa Bersama untuk Korban Bencana NTT
-
Suami-Istri Kompak Pelaku Pencurian Kambing, Dijual Lewat COD Berujung Apes