- Tim Ahli Cagar Budaya Banjarnegara mengajukan Prasasti Mangulihi dan Arca Nandisawahanamurti menjadi cagar budaya nasional tahun 2026.
- Prasasti Mangulihi menunjukkan tata kelola tempat ibadah yang rapi, sementara Arca Nandisawahanamurti menampilkan keunikan bentuk seni arsitektur masa lalu.
- Pemerintah Banjarnegara menargetkan puluhan peninggalan sejarah dan infrastruktur lain di wilayahnya menyusul memperoleh pengakuan peringkat nasional.
SuaraJawaTengah.id - Kawasan Dieng tak hanya menyimpan panorama alam dan kompleks percandian. Di balik lanskap pegunungan tersebut tersimpan jejak peradaban masa lalu yang dinilai memiliki nilai penting bagi sejarah Indonesia.
Kini, Prasasti Mangulihi dan Arca Nandisawahanamurti di Museum Kailasa, Dieng, tengah didorong naik kelas menjadi cagar budaya peringkat nasional pada 2026.
Usulan tersebut diajukan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Banjarnegara sebagai bagian dari upaya memperkuat pengakuan terhadap peninggalan budaya yang berada di kawasan Dieng.
Ketua TACB Banjarnegara, Heni Purwono, mengatakan kedua peninggalan tersebut telah masuk dalam proses pengajuan sebagai cagar budaya nasional.
“Alhamdulillah, Prasasti Mangulihi dan Arca Nandisawahanamurti, keduanya di Dieng, di Museum Kailasa, tahun ini diajukan menjadi cagar budaya nasional,” kata Heni di Banjarnegara dikutip dari ANTARA pada Kamis (3/9/2026).
Yang hendak diangkat bukan sekadar usia benda-benda tersebut, tetapi pengetahuan dan peradaban yang terekam di dalamnya.
Prasasti Ungkap Tata Kelola Tempat Ibadah
Prasasti Mangulihi dinilai memiliki arti penting karena memberikan gambaran mengenai bagaimana tempat ibadah dikelola pada masa lalu.
Menurut Heni, keberadaan prasasti tersebut memperlihatkan bahwa pengelolaan tempat ibadah pada zamannya telah memiliki sistem yang tertata. Prasasti itu sekaligus menjadi bukti mengenai kemampuan literasi masyarakat pada masa tersebut.
Baca Juga: Rekor Terbanyak! 7.500 Lebih Atlet Pelajar Siap Guncang Popda Jateng 2026
“Prasasti Mangulihi istimewa karena menunjukkan sistem yang sangat rapi tentang pengelolaan tempat ibadah dan juga tentu saja kekuatan literasi masyarakat saat itu,” ujarnya.
Dengan kata lain, peninggalan tersebut menjadi jendela untuk melihat bagaimana masyarakat masa lalu membangun sistem sosial dan keagamaan, bukan hanya meninggalkan bangunan atau artefak.
Arca Unik yang Menunjukkan Tingginya Pengetahuan
Sementara itu, Arca Nandisawahanamurti menawarkan cerita berbeda.
Arca tersebut memiliki bentuk yang tidak lazim karena menggambarkan sapi berbadan manusia sebagai wahana atau tunggangan Dewa Siwa.
Keunikan bentuk tersebut dinilai memperlihatkan kekayaan gagasan dan kemampuan masyarakat Dieng pada masa lalu dalam mengembangkan seni serta arsitektur.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Sepatu untuk Jalan Kaki 20 Ribu Langkah, Empuk dan Tidak Cepat Pegal
- Cetak 6 Gol dalam 6 Laga Bersama Persija, Shin Tae-yong Angkat Topi untuk Alexander Jeremejeff
- Korupsi Rp18,7 Miliar, Wakil Bupati Indramayu Resmi Ditahan, Lucky Hakim Masih Bungkam
- Cara Menggunakan Minyak Zaitun Mustika Ratu untuk Wajah dan Rambut
- 7 Cara Membuat Pengharum Ruangan Wangi Tahan Lama Meski Rumah Tidak Pakai AC
Pilihan
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
-
Polisi Bunuh Polisi karena Bully, Bharatu Valdo 4 Kali Didor dan Digorok Junior
-
Kamaruddin Simanjuntak Pengacara Brigadir J Meninggal Dunia di RS Pelni
Terkini
-
Kekeringan Jateng Belum Usai, Purworejo Catat 172 Hari Tanpa Hujan
-
22 Kasus Kekerasan di Pondok Pesantren Jateng Catat 85 Korban, Pencegahan Jadi Sorotan
-
Semarang Cerah Berawan, Sejumlah Wilayah Jateng Berpotensi Hujan Ringan
-
Divonis 8,5 Tahun Penjara, Sudewo Sebut Ada Intervensi Politik
-
Sudewo Melawan! Tolak Vonis 8,5 Tahun Penjara dan Siapkan Banding