- Pelaku usaha mendesak Pelabuhan Tanjung Emas segera dikembangkan menjadi gerbang utama ekspor-impor Jawa Tengah dalam forum diskusi Pelindo pada Kamis (10/9/2026).
- Pertumbuhan industri yang pesat tidak diimbangi infrastruktur memadai sehingga memicu risiko pengalihan logistik kontainer ke pelabuhan lain.
- TPK Semarang mencatat arus peti kemas mencapai 698.500 TEUs hingga Agustus 2026 serta menargetkan kapasitas 1,2 juta TEUs pada 2030.
Ketua DPC Indonesian National Shipowners Association (INSA) Semarang, Hari Ratmoko berpendapat Pelabuhan Tanjung Emas perlu terus dikembangkan agar mampu menangkap potensi ekonomi Jateng, khususnya arus peti kemas yang masuk dan keluar daerah. Dari sisi jumlah muatan, Hari menilai Tanjung Emas telah mengalami peningkatan kelas dan hampir sejajar dengan Pelabuhan Tanjung Priok maupun Tanjung Perak. Karena itu, pemerintah dan operator diminta bergerak lebih cepat dalam meningkatkan kapasitas pelabuhan.
“Sudah waktunya jangan ragu lagi, harus gerak cepat supaya ini cepat berkembang dan tumbuh sehingga semua potensi ekonomi bisa kita capture. Bilamana pelabuhan ini besar, semua jenis cargo bisa masuk dan potensi lapangan pekerjaan yang terserap bisa luar biasa,” beber Hari.
Dia menyebut kedalaman alur pelayaran menjadi salah satu tantangan utama Tanjung Emas. Selain itu, kolam pelabuhan perlu dikeruk dan dermaga diperpanjang untuk meningkatkan kemampuan pelayanan kapal.
“Alur pelayaran harus diperdalam. Kolam di dalam Pelabuhan Tanjung Emas juga harus dikeruk karena kedalamannya sudah berkurang. Kemudian dermaga juga harus diperpanjang,” jelasnya.
Ketua DPW Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia atau ALFI/ILFA Jateng-DIY, Teguh Arif Handoko, turut mengamini berbagai persoalan yang disampaikan pelaku usaha. Menurutnya, pertumbuhan kawasan industri di Semarang Raya membuat Pelabuhan Tanjung Emas menjadi pilihan logistik yang ekonomis sekaligus menjadi jantung distribusi barang ekspor-impor dan domestik antarpulau.
“Pelabuhan Tanjung Emas menjadi pintu gerbang utama memang wajib. Jangan sampai Pemerintah Provinsi Jateng menggenjot investasi luar biasa, tetapi infrastruktur logistiknya tidak terpenuhi,” kata Teguh.
Menurutnya, ketidakseimbangan antara pertumbuhan investasi dan kesiapan infrastruktur logistik dapat mendorong pergeseran arus barang ke pelabuhan lain. Kondisi tersebut pada akhirnya berpotensi mengurangi manfaat ekonomi yang seharusnya dapat ditangkap Jateng.
Karena itu, Teguh mendorong TPK Semarang memiliki target pengembangan yang realistis dan bertahap. Salah satunya dengan menargetkan kapasitas pelayanan hingga 1,2 juta TEUs pada 2030.
Target tersebut berarti TPK Semarang harus mampu melayani rata-rata sekitar 100.000 TEUs per bulan atau sekitar 3.300 TEUs per hari. Namun, karena volume harian dapat berfluktuasi, sistem pelayanan juga harus memiliki kapasitas cadangan untuk menghadapi lonjakan arus kontainer.
Baca Juga: Bukan Cuma untuk Umat Islam, MTQ Nasional di Semarang Jadi Pesta Rakyat Lintas Agama
“Kita harus punya patokan, misal patokan awalnya dulu. Kita tidak usah bicara lima atau 10 tahun mendatang bisa empat juta TEUs. Sampai 2030 bagaimana kita melayani 1,2 juta TEUs,” ucap Teguh.
Tanjung Emas Siap Dikembangkan
Sementara itu, Terminal Head TPK Semarang, I Nyoman Sutrisna, mengatakan forum tersebut digelar untuk menghimpun masukan dari berbagai stakeholder terkait potensi dan kebutuhan pengembangan TPK Semarang. Dia mengatakan salah satu masukan yang banyak disampaikan berkaitan dengan pertumbuhan kawasan industri baru, termasuk pengembangan kawasan industri di Kabupaten Batang. Perkembangan tersebut menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan dalam penyusunan rencana pengembangan TPK Semarang.
Di sisi lain, TPK Semarang telah mendapat tambahan empat crane untuk meningkatkan kapasitas pelayanan terminal. Namun, penambahan peralatan tersebut tetap perlu diikuti dengan perencanaan jangka panjang guna mengantisipasi pertumbuhan arus peti kemas.
“Dengan adanya empat crane itu sebenarnya untuk meningkatkan kapasitas di terminal kita sekarang. Tapi kita sudah harus bicara long term-nya seperti apa,” bebernya.
Pertumbuhan arus peti kemas di TPK Semarang sendiri menunjukkan tren positif. Nyoman menyebut pertumbuhan pada 2023-2025 mencapai 16%, sedangkan pada 2026 berada di kisaran 9%. Adapun arus peti kemas sepanjang 2025 telah mencapai 1 juta TEUs.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Desain Final Stadion Kendal Tornado FC Dirilis, Pembangunan Dimulai Tahun Depan
-
Buntut Penggeledahan "Ponpes" di Sukoharjo, Taj Yasin Pastikan Pendampingan Psikologis Anak-Anak
-
Ancaman Megathrust di Wisata Jateng, Sarif Abdillah Desak Hotel dan Destinasi Punya Standar Mitigasi
-
Bikin Bangga Indonesia! Inovasi Kelas Dunia Antarkan Semen Gresik Raih 4 Bintang di APQO 2026
-
BRI Raih Empat Penghargaan, Dorong UMKM Naik Kelas dan Makin Berdaya