- PT Bhimasena Power Indonesia, UNDIP, dan Pemkab Batang berkolaborasi mengembangkan riset Artificial Fish Apartment serta Artificial Patch Reef.
- Program pemulihan habitat laut di Batang tersebut memanfaatkan material FABA dari PLTU Batang melalui pendekatan ekonomi sirkular.
- Pemantauan UNDIP tahun 2025 di Karang Sebapang mencatat sembilan belas spesies ikan karang pada delapan unit Artificial Patch Reef.
SuaraJawaTengah.id - PT Bhimasena Power Indonesia (BPI), pengelola PLTU Batang, bersama Universitas Diponegoro (UNDIP) dan Pemerintah Kabupaten Batang memperkuat kolaborasi dalam pengembangan dan hilirisasi riset Artificial Fish Apartment (AFA) dan Artificial Patch Reef (APR).
Inisiatif ini bertujuan mendorong penerapan hasil penelitian untuk mendukung pemulihan habitat laut, pelestarian keanekaragaman hayati, dan keberlanjutan ekosistem pesisir Kabupaten Batang.
Kegiatan ini menandai penguatan kerja sama antara BPI dan UNDIP, serta kerja sama Pemerintah Kabupaten Batang dengan UNDIP, untuk mendorong inovasi berbasis riset yang dapat diterapkan di lapangan dan memberikan manfaat bagi lingkungan maupun masyarakat.
Bupati Batang, M. Faiz Kurniawan, S.H., M.H., mengapresiasi kolaborasi antara UNDIP, BPI, dan seluruh pihak yang mendukung pengembangan AFA dan APR. Menurutnya, sinergi antara pemerintah, akademisi, dan dunia usaha menjadi kunci untuk menjawab tantangan pembangunan daerah.
Bupati menegaskan bahwa hasil penelitian perlu diwujudkan menjadi inovasi konkret yang dapat diterapkan dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Sejalan dengan semangat Program Hilirisasi Riset Prioritas dan Strategis – Ajakan Industri 2026, keberhasilan hilirisasi tidak hanya diukur dari kecanggihan teknologi, tetapi juga dari penerapan, kebermanfaatan, serta keberlanjutan hasilnya bagi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.
Dalam sambutannya, Bupati juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kelestarian ekosistem pesisir dan keberlanjutan mata pencaharian masyarakat.
Nelayan dan masyarakat pesisir perlu dilibatkan secara aktif dalam pelaksanaan, pemeliharaan, dan pemantauan program. Manfaat ekologis maupun ekonomi dari program tersebut juga perlu dievaluasi secara terukur.
Bupati Batang juga berkomitment untuk mengembangkan area implementasi AFA-APR sebagai destinasi eduwisata di Kabupaten Batang.
Baca Juga: Siswa Keracunan Makan Bergizi Gratis di Batang, Wali Murid Beri Pesan Tegas ke Gibran
Rektor Universitas Diponegoro, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si., menyampaikan apresiasi atas kerja sama UNDIP dan BPI dalam mengembangkan hasil riset menjadi inovasi yang dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan di lapangan.
“UNDIP mengapresiasi kerja sama dengan PT Bhimasena Power Indonesia dalam pengembangan dan hilirisasi riset Artificial Fish Apartment (AFA) dan Artificial Patch Reef (APR). Kolaborasi ini merupakan wujud komitmen UNDIP untuk terus bergerak bersama dunia industri dan menjawab kebutuhan industri di Kabupaten Batang melalui riset, inovasi, dan penerapan ilmu pengetahuan. Kami berharap kerja sama ini dapat terus berkembang dan memberikan manfaat nyata bagi industri, lingkungan, dan masyarakat,” ujar Rektor UNDIP.
AFA dirancang untuk menyediakan dan memperluas habitat ikan, sedangkan APR berfungsi mendukung pemulihan habitat dasar laut dan pertumbuhan terumbu karang. Dalam pengembangannya, program ini memanfaatkan Fly Ash and Bottom Ash (FABA) dari PLTU Batang sebagai material habitat buatan melalui pendekatan ekonomi sirkular, dengan tetap memperhatikan kajian ilmiah, pengelolaan yang bertanggung jawab, serta pemantauan berkala.
Chief Operating Officer PT Bhimasena Power Indonesia, Naofumi Yasuda, menyampaikan bahwa pengembangan AFA dan APR merupakan bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) sekaligus dukungan terhadap pengelolaan lingkungan dan pelestarian ekosistem pesisir.
“Sebagai perusahaan yang beroperasi di Batang, kami senantiasa membangun sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan. Kami percaya bahwa hasil terbaik dapat dicapai ketika semua pihak bekerja bersama sebagai satu tim,” ujar Naofumi Yasuda.
BPI juga terus berupaya memenuhi komitmen pengelolaan dan pemantauan lingkungan sebagaimana tercantum dalam dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), termasuk Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RKL-RPL). Upaya ini mencakup pengelolaan lingkungan, perlindungan ekosistem pesisir, serta pemantauan kondisi lingkungan dan keanekaragaman hayati bersama mitra yang memiliki kompetensi ilmiah.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kajian UGM: Durasi Pidato Prabowo Naik Tiga Kali Lipat, Ucapan Tidak Pantas Tercatat 311 Kali
- 3 Sepatu Puma Tanpa Tali yang Nyaman Buat Jalan, Bergaya hingga Lari
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- 5 HP OPPO Terbaru di Indonesia, dari Midrange Tangguh hingga Flagship Superior
- Buntut Panjang RI Pangkas Ekspor Gas, Bahlil Kini Ketakutan Impor Pertalite Distop Singapura
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
UNDIP dan Bhimasena Power Luncurkan Produk Hilirisasi Riset AFA dan APR
-
Bukan Sekadar Pintar, Ini Tantangan Terberat Pemimpin Muda di Era Digital Menurut Gus Yasin
-
Tragedi Porprov Jateng 2026: Dua Atlet Berprestasi Meninggal Dunia, Polisi Periksa Keterangan Dokter
-
Bukan Cuma Hiburan, Sarif Abdillah Sebut Kesenian Tradisional Simpan Petuah Penting
-
Konflik PPP Memanas, Mardiono Depak Waketum Agus Suparmanto dan Taj Yasin