- Wakil Ketua DPRD Jateng Sarif Abdillah meminta pemda mengubah paradigma penanggulangan bencana menjadi preventif.
- Pemerintah daerah wajib mengalokasikan anggaran APBD untuk investasi pencegahan dan mitigasi risiko bencana sejak perencanaan.
- Penguatan mitigasi di tingkat komunitas bertujuan mengurangi kerugian ekonomi serta melindungi keselamatan warga dari bencana.
SuaraJawaTengah.id - Pemerintah daerah (Pemda) diminta mengubah paradigma penanggulangan bencana dari pendekatan reaktif menjadi preventif berbasis mitigasi.
Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Sarif Abdillah menegaskan, investasi dalam pencegahan dan pengurangan risiko bencana harus menjadi prioritas agar dampak terhadap keselamatan masyarakat, lingkungan, dan perekonomian dapat ditekan.
"Semua Pemda perlu membangun ketangguhan bencana melalui paradigma baru yang responsif dan antisipatif. Pendekatan lama yang cenderung reaktif, harus diganti melalui penguatan upaya mitigasi dan investasi kebencanaan sejak tahap perencanaan," ungkapnya.
Kakung, sapaan akrab Sarif menekankan pentingnya peran kepala daerah dalam memahami karakteristik, kebutuhan, dan risiko kebencanaan di masing-masing wilayah.
"Pemahaman tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kebijakan kebencanaan yang sesuai dengan kondisi daerah," sebut Ketua DPW Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jateng ini.
Kakung menegaskan, upaya antisipasi dan mitigasi bencana perlu masuk dalam perencanaan Pemda. Karena itu, ketika anggaran publik dialokasikan untuk pembangunan, penggunaannya tidak hanya diarahkan pada pembangunan infrastruktur.
"Tetapi juga untuk mendukung berbagai kebutuhan mitigasi bencana melalui mekanisme Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)," terangnya.
Menurutnya, upaya mitigasi perlu diperkuat sejak tingkat komunitas agar masyarakat memiliki kapasitas
untuk mengenali ancaman, memahami langkah evakuasi, dan merespons potensi bencana secara cepat.
Baca Juga: Bukan Sekadar Jualan, UMKM Kuliner Semarang Diajak Ubah Chat WhatsApp Jadi Omzet
Langkah tersebut juga penting untuk mengurangi ketergantungan pada pembiayaan penanganan darurat dan pemulihan setelah bencana terjadi.
"Anggaran mitigasi bukan beban negara, melainkan investasi untuk menyelamatkan nyawa, melindungi lingkungan, dan mengurangi kerugian ekonomi," jelas legislator dari daerah pemilihan (dapil) Banyumas dan Cilacap ini.
Kakung menegaskan, penguatan mitigasi harus menjadi bagian penting dari kebijakan penanggulangan bencana nasional.
"Dengan perencanaan dan pembiayaan yang memadai, pemerintah diharapkan tidak hanya mampu merespons bencana, tetapi juga mengurangi risiko dan melindungi masyarakat sebelum bencana terjadi," tandasnya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Kajian UGM: Durasi Pidato Prabowo Naik Tiga Kali Lipat, Ucapan Tidak Pantas Tercatat 311 Kali
- 3 Sepatu Puma Tanpa Tali yang Nyaman Buat Jalan, Bergaya hingga Lari
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- 5 HP OPPO Terbaru di Indonesia, dari Midrange Tangguh hingga Flagship Superior
- Buntut Panjang RI Pangkas Ekspor Gas, Bahlil Kini Ketakutan Impor Pertalite Distop Singapura
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
UNDIP dan Bhimasena Power Luncurkan Produk Hilirisasi Riset AFA dan APR
-
Bukan Sekadar Pintar, Ini Tantangan Terberat Pemimpin Muda di Era Digital Menurut Gus Yasin
-
Tragedi Porprov Jateng 2026: Dua Atlet Berprestasi Meninggal Dunia, Polisi Periksa Keterangan Dokter
-
Bukan Cuma Hiburan, Sarif Abdillah Sebut Kesenian Tradisional Simpan Petuah Penting
-
Konflik PPP Memanas, Mardiono Depak Waketum Agus Suparmanto dan Taj Yasin