Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Waduh! Ternyata Jaringan Teroris di Jateng Tersebar Hingga ke Luar Negeri

Budi Arista Romadhoni Rabu, 23 September 2020 | 15:30 WIB

Waduh! Ternyata Jaringan Teroris di Jateng Tersebar Hingga ke Luar Negeri
Penjemputan napiter yang bebas, Edy Susanto dari Nusakambangan pada Rabu (9/9/2020). (Istimewa)

Bahkan Santoso yang merupakan gembong teroris Poso merupakan warga Temanggung, Jawa Tengah

SuaraJawaTengah.id - Yayasan Putra Persaudaraan Anak Negeri (Persadani) sudah menjemput beberapa eks narapidana teroris. Dari awal berdiri, sedikitnya dua narapida yang dijemput saat ini sudah berbaur dengan masyarakat. 

"Dari maret awal berdiri kami sudah jemput dua orang, ada Eko Purwanto, warga kendal eks Jaringan Santoso dan Gilang Nabaris, warga Slawi Tegal, dulu Jaringan Maarawi Filipina," kata Ketua Persadani, Machmudi Hariono alias Yusuf kepada Suara.com Senin (21/9/2020)

Yusuf mengaku sebelum yayasan berdiri juga telah melakukan program penguatan RTRW dan menjemput tiga eks narapidana teroris. Antara lain Supianto alias Yusuf, dari Batang dan sebelumnya merupakan Jaringan Santoso.

Kemudian Suprayitno alias Lukman, warga Kendal juga jaringan Jaringan Santoso. Dan Edi Susanto, warga Klaten yang juga Jaringan santoso

Menurut Yusuf, Jawa Tengah bisa dikatakan daerah rawan  terbentuknya jaringan teroris. Saat ini di Jateng, ada sekitar 150 napiter yang sudah keluar, 80-90 orang merupakan warga Solo Raya.  

"Data akan selalu berkembang. Di Nusakambangan ada 230an napiter di tahan. Di Jateng ini merupakan jaringan terbesar setelah Poso Sulteng," ujarnya

Yusuf menceritakan, pelaku teroris dari Jateng bisa dikatakan tersebar di seluruh Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Maka perlu dilakukan pendekatan secara intensif. 

"Kadang di Poso yang bermain orang jateng, Santosa kan orang Temanggung Jawa Tengah. Di Suriah yang jadi eksekutor juga orang Klaten," ucapnya. 

Namun demikian, menurut Yusuf pencegahan lebih baik dilakakun sejak dini, sebelum aksi radikal kembali terjadi. 

"Kalau pendekatan organisasi kami lebih ke tokoh-tokoh saja. Untuk mempengaruhi tidak radikal masih sulit. Tapi kalau diminta untuk membantu kita siap. Ya kita yang kenal kita lakukan negosiasi," ucapnya. 

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait