alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

BMKG: Jawa Tengah Bagian Selatan Masih Berpotensi Hujan Ekstrem

Erick Tanjung Kamis, 29 Oktober 2020 | 16:58 WIB

BMKG:  Jawa Tengah Bagian Selatan Masih Berpotensi Hujan Ekstrem
Personel Basarnas Cilacap dan TNI membantu mengevakuasi warga saat banjir melanda daerah Kroya, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Hujan deras menyebabkan banjir di wilayah itu. (ANTARA/HO-Basarnas Cilacap)

Hujan yang terjadi sejak tanggal 26 Oktober cukup ekstrem, terutama untuk wilayah Cilacap bagian timur dan selatan, curah hujannya rata-rata di atas 100 milimeter, kata Teguh.

SuaraJawaTengah.id - Kepala Kelompok Teknisi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo mengatakan bahwa hujan lebat hingga ekstrem masih berpotensi terjadi di wilayah Jawa Tengah bagian selatan, khususnya Kabupaten Cilacap dan sekitarnya.

"Hujan yang terjadi sejak tanggal 26 Oktober cukup ekstrem, terutama untuk wilayah Cilacap bagian timur dan selatan, curah hujannya rata-rata di atas 100 milimeter," kata Teguh di Cilacap, seperti dilansir dari Antara, Kamis (29/10/2020).

Menurut dia, hujan lebat hingga ekstrem sekarang masih terkonsentrasi di wilayah timur Cilacap termasuk Kabupaten Banyumas bagian selatan dan Kebumen dan menimbulkan bencana di daerah tersebut.

Kondisi cuaca ekstrem semacam itu, ia melanjutkan, juga berpotensi terjadi di wilayah barat Kabupaten Cilacap dan sekitarnya karena fenomena La Nina moderat yang memicu peningkatan curah hujan masih berlangsung hingga November.

"Nanti (La Nina moderat) pada bulan Desember, Januari, dan Februari diharapkan sudah mulai melemah," ujarnya.

Kendati demikian, Teguh mengimbau masyarakat di wilayah pegunungan tengah Jawa Tengah, terutama yang bermukim di daerah rawan longsor, tetap waspada mengingat puncak musim hujan diprakirakan berlangsung Desember 2020 hingga Februari 2021.

"Jadi mulai Oktober sampai Februari ini harus waspada terhadap bencana alam hidrometeorologi," tutur dia.

Teguh menjelaskan bahwa selain karena efek La Nina, hujan lebat hingga ekstrem yang menyebabkan banjir dan tanah longsor di Kabupaten Cilacap, Banyumas, serta Kebumen pekan ini terjadi karena pengaruh Madden Julian Oscillation (MJO) yang aktif dan masuk ke wilayah perairan Indonesia serta belokan angin.

Menurut dia, kombinasi dari tiga gangguan tersebut menyebabkan hujan turun dengan intensitas tinggi di wilayah Jawa Tengah bagian selatan dan menyebabkan bencana di Cilacap, Banyumas, dan Kebumen.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Seksi Operasi dan Siaga Kantor Pencarian dan Pertolongan (KPP/Basarnas) Cilacap Mulwahyono mengatakan Basarnas Cilacap telah menyiagakan personel di Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap, untuk membantu mengevakuasi warga yang terdampak banjir.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait