Sebelum teraliri listrik, warga mengandalkan lampu teplok untuk penerangan di rumah saat malam hari. "Listrik baru masuk tiga tahun yang lalu," ujar Husein.
Menurut Husein, tanah yang dia dan warga lain tinggali merupakan tanah milik pemerintah. Dia pun harus bersiap jika sewaktu-waktu diminta pindah.
"Dulunya tanah kosong, tidak berpenghuni. Ini tidak sewa, bayar listrik saja. Nanti kalau disuruh pindah ya pindah lagi," tutur pria yang sehari-hari bekerja sebagai nelayan harian itu.
Ketiadaan akses jalan yang memadai tak hanya menyulitkan warga ketika hendak menuju ke wilayah lain, tetapi juga membuat sejumlah anak di Kampung Tirang putus sekolah.
Baca Juga:Awas Kualat! Mitos Angker Sukses Merawat Alam di Desa Margoyoso Magelang
Seperti dialami Muhamad Pasetyo. Di usainya yang menginjak 14 tahun, Prasetyo seharusnya sudah duduk di bangku SMP. Namun dia terakhir kali bersekolah kelas 2 SD.
"Dia tidak mau sekolah karena sekolahnya di Kelurahan Tegalsari jauh, harus menyeberang pakai rakit. Kadang tidak ada yang nyebrangin. Pernah pindah ke SD yang di Kelurahan Muarareja biar tidak usah nyeberang, tapi akhirnya juga keluar karena jalannya jauh dan rusak," ujar Sumiyati, 46, ibu Prasetyo.
Selain bersama Prasetyo, Sumiyati tinggal di Kampung Tirang bersama suami dan tiga anaknya yang lain. Dua kakak Prasetyo juga tak tamat SD dan bekerja menjadi ABK di kapal pencari cumi.
"Suami juga nelayan tapi ini lagi nggak melaut, mau buat warung. Kalau anak yang paling kecil usianya 4 tahun. Nggak tahu nanti sekolah apa nggak," tuturnya.
Kontributor : F Firdaus
Baca Juga:Kampung Paweden, Ini Jejak Kampung Pecinan di Kota Tegal