alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Banjir di Kota Semarang Seakan Tak Pernah Usai, Ini Penyebabnya

Budi Arista Romadhoni Selasa, 16 Februari 2021 | 18:15 WIB

Banjir di Kota Semarang Seakan Tak Pernah Usai, Ini Penyebabnya
Kondisi jalur Kendal- Semarang lumpuh karena banjir. [ist]

Banjir di Kota Semarang terus terjadi, jika air laut pasang banjir rob merendam pesisir, maka jika musim hujan banjir pun kembali datang

SuaraJawaTengah.id - Beberapa daerah di Kota Semarang setiap tahunnya mengalami penurunan tanah hingga 19 sentimeter. Hal itu disebabkan ketergantungan Kota Semarang dengan air tanah melalui sumur bor.

Peneliti tata kelola air dan kota University of Amsterdam, Bosman Batubara mengatakan, ketergantungan pada air tanah relevan dengan pengelolaan banjir karena pengambilan air tanah yang berlebihan. Maka hal itu Kota Semarang mengalami penurunan tanah

Menurutnya, amblesan tanah berdampak pada peningkatan risiko banjir di Kota Semarang. Banjir yang dimaksud adalah bajir lokal akibat curah hujan di satu lokasi melebihi kapasitas sistem drainase yang ada.

"Dari akuifer tertekan dapat menyebabkan terjadinya amblesan tanah (land subsidence)," jelasnya melalui kepada awak media, Selasa (16/2/2021).

Baca Juga: Nikmati Banjir, Warga Pekalongan Keliling Kampung Sambil Nyanyi

"Yang kedua yaitu banjir rob yang terjadi akibat aliran dari air pasang atau aliran balik dari saluran drainase akibat terhambat oleh air pasang," imbuhnya.

Beberapa penyebab amblesan tanah selain pemanfaatan air tanah berlebihan adalah pembebanan bangunan, kompaksi (pemadatan) tanah aluvial, aktivitas tektonik.

Selain itu, pengerukan berkala yang dilakukan di Pelabuhan Tanjung Emas juga membuat sedimen di bawah Kota Semarang bergerak ke arah laut.

"Penyedotan air tanah berlebihan biasanya menyebabkan terjadi amblesan tanah dalam skala luas sedangkan pembebanan bangunan menyebabkan amblesan yang lebih lokal," katanya.

Bahkan, ketergantungan air tanah untuk kebutuhan air sehari-hari sampai 79,7 persen. Dari 79,7 persen tersebut, sebanyak 48.6 persen menggunakan air tanah dalam (ATDm) dan 31.1 persen menggunakan air tanah dangkal (ATDl).

Baca Juga: Bawa Bantal, Napi Lapas Pekalongan Mengungsi Karena Banjir

"Kami menemukan di  wilayah yang sudah tersedia jaringan PDAM, responden di lokasi tersebut menggunakan air tanah (ATDm) sebagai sumber air utama," ucapnya.  

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait