alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Kisah Santri Malas Dikutuk Jadi Monyet Ekor Panjang di Banyumas

Ronald Seger Prabowo Kamis, 15 April 2021 | 18:24 WIB

Kisah Santri Malas Dikutuk Jadi Monyet Ekor Panjang di Banyumas
Masjid Baitussalam atau Saka Tunggal di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, yang memiliki sejarah panjang menjadi masjid tertua di Kabupaten Banyumas, Kamis (15/4/2021). [Suara.com/Anang Firmansyah]

Monyet ini dipercaya sudah ada sejak awal mula didirikannya Masjid Saka Tunggal.

SuaraJawaTengah.id - Pagi jelang siang, sekira pukul 10.00 WIB suasana sepi dan hening menyelimuti kawasan Masjid Baitussalam atau lebih dikenal Masjid Saka Tunggal di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas.

Wajar saja, lokasinya memang berada di ujung jalan, celah bukit desa setempat. Jarak dari jalan raya saja sekitar 4 kilometer. Jika dari wilayah Kota Purwokerto berkisar 30-an kilometer.

Jika masa liburan, wilayah ini juga menjadi destinasi wisata karena keunikan masjidnya yang bersaka tunggal, seperti namanya. Lokasinya yang masih asri membuat hewan liar masih ditemukan di sini. Monyet ekor panjang atau Macaca Fascicularis salah satunya.

Monyet ini dipercaya sudah ada sejak awal mula didirikannya Masjid Saka Tunggal. Tidak ada yang tahu persis kapan berdirinya masjid ini, namun menurut Juru Kunci Masjid Saka Tunggal, Sulam (50), masjid ini sudah berdiri sebelum adanya kerajaan Demak yang memiliki sejarah panjang.

Baca Juga: Malam Ini Tarawih Perdana, Jemaah Aboge Banyumas Jalani Puasa Pertama Besok

"Tidak ada yang tahu persis kapan didirikan, tapi yang jelas sebelum adanya Kerajaan Demak sana. Pendirinya adalah mbah Mustolih, dahulu dia adalah tokoh penyebar agama Islam di daerah sini," katanya saat ditemui, Kamis (15/4/2021).

Meskipun tidak diketahui kapan berdirinya, di salah satu sisi tiang saka tunggal yang berukuran 40 x 40 centimeter dengan tinggi sekitar 5 meter, tertulis angka 1288 dengan jelas menggunakan bahasa Arab yang diduga merupakan tahun berdirinya Masjid Saka Tunggal dalam kalender Hijriyah. Jika diartikan dalam kalender Masehi artinya angka tersebut menjadi 1522.

"Saka nya memang ada banyak, tapi itu hanya penopang. Kalau Saka Guru nya hanya satu. Saka itu tidak pernah diganti dari awal berdiri. Jenis kayunya tidak ada yang tahu memang. Tapi yang jelas masih kokoh sampai sekarang," terangnya.

Mayoritas penduduk Desa Cikakak juga merupakan pengikut Islam Aboge. Mereka mempunyai penentuan tanggal menggunakan tanggalan Jawa, Alif Rebo Wage atau Islam Aboge.

"Mayoritas ya hampir 90 persen pengikut Aboge. Ribuan lah jumlahnya, saya tidak tahu persis. Nah karena perhitungan itu makanya kami baru mengawali puasa pada hari Rabu (15/4/2021) kemarin. Beda dengan penetapan pemerintah. Tapi itu tidak jadi soal lah," jelasnya.

Baca Juga: Kisah Guru Agama di Banyumas Ajak Siswanya Nyantri Virtual Saat Ramadhan

Santri Buat Gaduh

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait