SuaraJawaTengah.id - Dunia perfilman Indonesia berhasil menyabet gelar kejuaraan dalam festival perfilman internasional yang bermarkas di Montana, Amerika Serikat. Film dokumenter yang disutradarai Wasis Wardhana, pria lulusan jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto ini, berhasil menyingkirkan 300 peserta dari berbagai negara yang mengikuti kompetisi tersebut.
Ditemui di kediamannya, Desa Karangnangka, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, Wasis mengaku tidak menyangka jika film garapannya ini berhasil juara 1 kategori Living With Wildlife, International Wildlife Film Festival 2021.
Pasalnya film yang diberi judul "Home For All" ini tidak direncanakan untuk diikutkan dalam festival film internasional. Ia hanya mengumpulkan footage disela pekerjaannya untuk sebuah Non Governmental Organization (NGO). Kebetulan ia sudah lama tertarik mengangkat isu harmonisasi antara masyarakat sekitar hutan yang bersinggungan langsung dengan Harimau Sumatra.
Pengambilan gambar tersebut dimulai dari tahun 2019. Hingga akhirnya selesai menjadi film "Home For All" pada awal tahun 2021. Sebagian besar gambar yang didapat mengenai perilaku hewan endemik Pulau Sumatra ini dari kamera perangkap milik beberapa Balai Konservasi dan mendapatkan persetujuan untuk diikutkan dalam festival ini.
Baca Juga:Formasi CPNS di Daerah dari DIY hingga Jawa Timur
Karena menurutnya sangat tidak mungkin mengambil footage Harimau Sumatra di alam liar dengan kamera yang langsung dioperasionalkan sendiri. Secara hak cipta, film ini dibawah naungan Forum Harimau Kita (FHK). Karena saat diikutkan dalam festival ini, menggunakan nama forum tersebut.
Footage yang didapatkan pun, berasal dari forum tersebut yang meminta izin ke balai konservasi. Pengambilan gambar yang diambil sendiri, sebagian besar dari saksi mata masyarakat di sekitar hutan yang bersinggungan langsung dengan Harimau Sumatra.
"Diluar projek saya memang saya mengambil gambar sendiri. Saya senang isu harmonisasi antara manusia dan satwa. Nah jadi saya kan punya kumpulan footage yang kuat tuh, begitu tahun ini ada kategori Living With Wildlife saya langsung berpikiran, wih masuk nih cerita-cerita yang sudah saya kumpulin. Baru saya rangkai. Makanya kalau ditanya kapan terakhir film ini jadi ya, rangkaian terakhir Bulan Februari 2021. Tapi awal mula pengambilan dari tahun 2019," kata bapak dua anak ini kepada Suara.com, Sabtu (5/6/2021).
Ini merupakan festival tahunan yang sudah berlangsung ke 44 kali. Artinya sudah berumur 44 tahun. Setiap tahunnya berlangsung di Montana, Amerika Serikat. Pesertanya dari seluruh dunia. Namun yang sering mengikuti kejuaraan ini dari Negara India.
Sepengetahuannya, film "Home For All" karyanya menjadi pemenang pertama dari Negara Indonesia sejak diadakannya festival ini. Meski begitu, ia tidak mau menyebutkan berapa hadiah yang didapat. Karena hak itu sepenuhnya milik Forum Harimau Kita.
Baca Juga:Termasuk Kapolsek, Begini Kronologi 22 Anggota Polsek Cilongok Terpapar Covid-19
Hadiah bukan tujuan utama baginya. Karena yang terpenting, pesan yang ingin disampaikannya bisa sampai ke masyarakat luas. Penghargaan ini hanya bonus. Sebab, harmonisasi antara hewan Harimau Sumatra dengan masyarakat sekitar hutan harus terjaga terus.
Selama ini, masyarakat luas hanya mengetahui harimau liar menjadi ancaman bagi kehidupan manusia. Ditambah narasi oleh media massa yang kebanyakan menyebutkan harimau bisa memangsa manusia. Faktanya tidak begitu. Harimau hanya akan menyerang jika merasa terancam.
Cerita ini, didapatnya langsung dari salah satu narasumber penyadap getah karet di salah satu lokasi, yang pernah bertemu mata dengan Harimau Sumatra. Artinya, narasumbernya ini masih hidup dan tidak dimangsa karena tahu bagaimana langkah harus diambil saat bertemu dengan Harimau Sumatra.
"Memang ada juga yang mati dengan kondisi jasad tidak utuh. Tapi apakah itu artinya dimangsa? Karena tidak ada jurnal resmi dan saksi mata yang mengatakan begitu. Nah peran media massa juga memperburuk citra itu. Saya membuat film ini ingin memposisikan diri sebagai Harimau Sumatra. Ia sebagai puncak rantai makanan tidak boleh dimusnahkan karena jika itu terjadi, akan merugikan manusia juga. Babi hutan sebagai hama bagi petani akan over populasi," jelasnya.
Habitat Harimau ini, bersebelahan dengan masyarakat sekitar hutan, baik itu hutan konservasi maupun hutan yang masih liar. Otomatis kerap terjadi interaksi. Nilai berita yang diangkat media massa pasti selalu dihubungkan dengan konflik. Namun faktanya tidak semua interaksi seperti itu.
"Ada interaksi yang sifatnya positif. Artinya tidak terjadi konflik. Film ini mencuplik contoh-contoh manusia yang tinggal di tepi hutan terjadi interaksi dengan harimau tapi tidak berujung pada konflik. Saya ambil contoh Pak Latif di bukit barisan Lampung. Dia mengakalinya dengan membagi relung waktu. Jadi dia lama-lama paham, jam edarnya harimau itu pukul 17.00 WIB sore sampai jam 05.00 WIB subuh," terangnya.