Jamasan Pusaka di Bulan Suro Bukan Ritual Mistis, Tapi Karena Mencintai Budaya

Banyak yang menyebut penjamasan pusaka adalah kegiatan mistis dan musrik, ini tanggapan para pelaku penjamasan pusaka

Budi Arista Romadhoni
Senin, 16 Agustus 2021 | 17:17 WIB
Jamasan Pusaka di Bulan Suro Bukan Ritual Mistis, Tapi Karena Mencintai Budaya
Konservator menata benda pusaka usai melakukan proses jamasan di Museum Pusaka, TMII, Jakarta, Selasa (10/8/2021). [Suara.com/Angga Budhiyanto]

SuaraJawaTengah.id - Bulan suro atau dalam islam muharam menjadi waktu yang istimewa bagi orang jawa maupun atau pecinta budaya. 

Banyak ritual dilakukan saat bulan suro ini. Kalangan budayawan misalnya, memanfaatkan bulan suro untuk melakukan ritual penjamasan pusaka.

Umumnya penjamasan pusaka dilakukan di rentang waktu antara tanggal satu hingga sepuluh pada bulan Suro (Muharam).

Menyadur Jatengnews.id, Seorang penjamas pusaka di Kota Semarang Ali Tuba Asy’arie mengatakan, bahwa ritual penjamasan pusaka merupakan bagian dari merawat budaya, bukan ritual mistis yang menjurus pada kemusyrikan.

Baca Juga:Mitos Malam 1 Suro dan Bedanya dengan 1 Muharram

“Karena mencintai budaya adalah bagian dari mencintai Indonesia. Sementara generasi muda sekarang ini banyak yang mengabaikan hal-hal semacam ini. Nah karena itu kami berniat ingin melestarikan budaya-budaya itu,” katanya usai melakukan ritual penjamasan pusaka di rumahnya, di Kelurahan Gondoriyo, Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang, Senin (16/8/2021). 

Di rumahnya, Ali Tuba juga memiliki pusaka yang pernah ditawar oleh kolektor barang kuno seharga Rp 10 Juta, namun Ia tidak melepasnya. Pusaka itu bernama Tosan Aji, yang Ia dapatkan dari gurunya.

“Dan ini adalah Tosan Aji, senjata dari Damaskus yang saya dapat dari guru saya untuk disimpan di rumah. Dan konon katanya hanya beberapa orang yang memiliki pusaka ini makanya saya rawat seperti ini,” terang lelaki yang juga seorang Pimpinan Majelis Panembahan Saung Cinta dan Gubug Mahabbah tersebut.

Tidak hanya itu, Ia juga mendapat titipan pusaka dari seorang kolektor untuk dirawat. Pusaka dengan nama Keris Petir Langit itu juga berharga fantastis.

“Lalu ini ada pusaka bernama Keris Petir Langit, tahun 1997 pernah ditawar 30 juta rupiah. Sama dengan tadi tidak saya lepas. Kalau sekarang harganya naik sekitar 60 juta, dan saya tidak mau melepasnya,” jelasnya, sambil menunjukkan pusaka Keris Petir Langit.

Baca Juga:4 Potret Terkini Pemain Film Satu Suro, Jauh dari Kesan Horor

Ali Tuba mengatakan dirinya mendapatkan bermacam-macam pusaka tersebut melalui berbagai cara.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini