SuaraJawaTengah.id - Kota Semarang memang lekat dengan sejarah. Bangunan tua menjadi saksi bisu Semarang pernah menjadi pusat ekonomi di Indonesia.
Misalnya kawasan Pecinan, bagi Kota Semarang ibarat brankas museum. Di sana tersimpan berbagai kepingan sejarah, mulai dari bangunan, kuliner dan beragam kisah.
Salah satu kepingan bersejarah di Pecinan itu adalah sebuah pabrik kopi kuno yang bernama Margo Redjo. Pabrik kopi kuno yang punya nama asli Koffie Branderij Margo Redjo ini berada di Jalan Wotgandul 12 Kota Semarang.
Menyadur dari Ayosemarang.com, nama Margo Redjo mungkin masih asing, namun jika disebut dengan Dharma Boutique Roastery barangkali akan lebih akrab di telinga. Sebab tempat ini sering jadi rujukan bagi para pemilik usaha kopi dalam memperoleh bahan baku untuk dagangannya.
Baca Juga:Ganjar Pranowo Gagas Tanjung Emas Jadi Pelabuhan Hortikultura
Margo Redjo sendiri merupakan produk kopi yang dikelola secara turun-temurun. Saat ini dikelola Widayat Basuki Dharmowiyono. Basuki, panggilan akrabnya, merupakan generasi ketiga Tan Tiong Ie, sang pendiri pabrik.
Tan Tiong Ie di era kolonial juga bukan sembarang orang. Seperti yang termaktub di buku Orang-Orang Tionghoa (1935) Tan Tiong Ie bahkan masuk dalam daftar crazy rich di Jawa.
“Kopi ini malah bukan didirikan di Semarang, tapi di Bandung. Kakek saya merantau dulu ke sana,” kata Widayat Basuki Dharmowiyono.
Bisnis ini bukan yang pertama dilakukan kakek Basuki ketika mengadu nasib ke Tanah Sunda. Sebelumnya, Tan Tiong Ie membuat roti dan berbisnis kayu. Tidak puas dua pekerjaan, jiwa bisnisnya kembali terpanggil dan membuka usaha baru.
Kemudian pada 1916, Tan Tiong Ie membuka pabrik penyangraian kopi Eerste Bandoengsche Electrische Koffiebranderij Margo-Redjo.
Baca Juga:Mahasiswa KKN UIN Walisongo Menerima 50 Bibit Pohon dari DLH Kota Semarang
“ 'Margo' itu jalan. 'Redjo' itu kemakmuran. Maksudnya mungkin Jalan Kemakmuran,” terangnya.