Misteri siapa saja yang dieksekusi dan dimakamkan di Makam Singaranting terkuak dari mulut Misrun (66). Ia merupakan warga asli Dusun Pitulasi. Bapaknya, dahulu merupakan pekerja di perkebunan karet. Namun pada Bulan September tahun 1965 bapaknya mendapat tugas tambahan membuat lubang untuk memakamkan warga yang dieksekusi.
"Waktu itu saya diceritani sama bapak saya karena waktu itu kan kerja di perkebunan. Nah terus dikasih kerjaan untuk membikin lubang untuk ngubur orang-orang diduga PKI yang dibunuh. Membunuhnya itu malam hari. Sekitar jam 9 sudah mulai, kadang-kadang sampai pagi baru selesai, tidak mesti," ungkap Misrun.
Tidak hanya bertugas untuk menggali, bapaknya juga disuruh untuk mengurug kembali setelah eksekusi selesai. Waktu itu, karena usia Misrun masih kecil, belum begitu paham apa yang sebenarnya terjadi. Hampir dua bulan lamanya, orangtua Misrun mendapatkan tugas tambahan tersebut.
"Bapak saya menggali itu waktunya tidak tentu. Bisa dua hari sekali, tidak pasti. Kurang lebih sekitar dua bulanan. Tapi tidak setiap malam, kadang juga seminggu sekali atau dua kali," terangnya.
Baca Juga:Tinjau Vaksinasi Door to Door, Jokowi: Kita Harap Percepat Program Vaksinasi di Indonesia
Misrun tidak mengetahui persis identitas orang yang dieksekusi di Makam Singaranting. Menurutnya, teman dari bapaknya ada yang dibawa oleh KKO namun tidak diketahui keberadaannya. Apakah dieksekusi di tempat lain atau menjalani hukuman penjara.
"Kebanyakan saya tidak tahu. Tapi kalau orang-orang sini juga ada yang dibawa tapi kan, sampai sekarang yang ga pulang ya ada yang pulang ya ada. Teman-teman bapak saya itu dahulu. Bapak saya juga pernah sampai pergi keluar dusun untuk cari perlindungan," ujarnya.
Menurut Misrun, bapaknya menggali satu lubang bisa untuk sekitar tiga sampai lima orang. Karena proses penguburan dilakukan saat gelap gulita, terkadang ada makam yang tidak sempurna.
"Kan malam ya, langsung dibunuh kemudian dimasukkan. Tapi karena gelap, kadang ngurug tanahnya belum sampai rapat. Bapak saya kan kerjanya juga diperkebunan, pagi-pagi kerjanya juga merapihkan. Karena masih ada yang kelihatan kadang kaki, atau kepala. Jadi memang tidak beraturan seperti adu kepala," katanya.
Misrun juga kerap mendengar cerita mistis di lokasi Makam Singaranting ini. Dahulu sebelum adanya kejadian ini, tiap Malam Jumat Kliwon, biasa terdengar gending wayang. Tapi anehnya, di sekitar Dusun Pitulasi tidak ada yang naggap acara tersebut.
Baca Juga:Tanam Mangrove di Cilacap, Jokowi Harap Produksi Ikan dan Pendapatan Masyarakat Meningkat
"Suara tangisan orang ya ada, minta tolong, terus gamelan dulunya tiap malem Jumat Kliwon bunyi gending wayang. Saya tidak tahu persisnya tapi kata orangtua saya penayagan (alat set gamelan) pernah bisa dipinjam oleh masyarakat. Tapi karena dari masyarakat menyalahi kesepakatan pesan dari lelembut. Tambang benang itu kan pake oyod (akar tumbuhan), tapi diganti sama warga jadi sampai sekarang hilang. Tidak pernah muncul lagi," tuturnya.