Dor! Dor! Suara Tembakan Terdengar Saat Satimin Melihat Wayang, PKI Dieksekusi di Cilacap

PKI dieksekusi di Cilacap, menurut kesaksian tembakan itu terus berbunyi di kebun karet, hingga bau amis tercium sampai ke pemukiman

Budi Arista Romadhoni
Kamis, 30 September 2021 | 16:00 WIB
Dor! Dor! Suara Tembakan Terdengar Saat Satimin Melihat Wayang, PKI Dieksekusi di Cilacap
Misrun, warga Dusun Pitulasi, Desa Mekarsari, Kecamatan Cipari, Kabupaten Cilacap menunjukkan lokasi Pemakaman Massal Singaranting. [Suara.com/Anang Firmansyah]

"Kebanyakan saya tidak tahu. Tapi kalau orang-orang sini juga ada yang dibawa tapi kan, sampai sekarang yang ga pulang ya ada yang pulang ya ada. Teman-teman bapak saya itu dahulu. Bapak saya juga pernah sampai pergi keluar dusun untuk cari perlindungan," ujarnya.

Menurut Misrun, bapaknya menggali satu lubang bisa untuk sekitar tiga sampai lima orang. Karena proses penguburan dilakukan saat gelap gulita, terkadang ada makam yang tidak sempurna.

"Kan malam ya, langsung dibunuh kemudian dimasukkan. Tapi karena gelap, kadang ngurug tanahnya belum sampai rapat. Bapak saya kan kerjanya juga diperkebunan, pagi-pagi kerjanya juga merapihkan. Karena masih ada yang kelihatan kadang kaki, atau kepala. Jadi memang tidak beraturan seperti adu kepala," katanya.

Misrun juga kerap mendengar cerita mistis di lokasi Makam Singaranting ini. Dahulu sebelum adanya kejadian ini, tiap Malam Jumat Kliwon, biasa terdengar gending wayang. Tapi anehnya, di sekitar Dusun Pitulasi tidak ada yang naggap acara tersebut.

Baca Juga:Tinjau Vaksinasi Door to Door, Jokowi: Kita Harap Percepat Program Vaksinasi di Indonesia

"Suara tangisan orang ya ada, minta tolong, terus gamelan dulunya tiap malem Jumat Kliwon bunyi gending wayang. Saya tidak tahu persisnya tapi kata orangtua saya penayagan (alat set gamelan) pernah bisa dipinjam oleh masyarakat. Tapi karena dari masyarakat menyalahi kesepakatan pesan dari lelembut. Tambang benang itu kan pake oyod (akar tumbuhan), tapi diganti sama warga jadi sampai sekarang hilang. Tidak pernah muncul lagi," tuturnya.

Ketua Presidium Serikat Tani Mandiri (STAM) Cilacap, Petrus Sugeng berujar Singaranting memang digunakan untuk pemakaman massal orang-orang diduga sebagai pengikut PKI. Namun di Kecamatan Cipari sendiri, ada beberapa tempat yang digunakan sebagai tempat pembantaian. Diantaranya di Sungai Citanduy, Gunung Wilis dan Singaranting.

 Ketua Presidium Serikat Tani Mandiri (STAM) Cilacap, Petrus Sugeng. [Suara.com/Anang Firmansyah]
Ketua Presidium Serikat Tani Mandiri (STAM) Cilacap, Petrus Sugeng. [Suara.com/Anang Firmansyah]

"Kuburan atau makam Singaranting, sebelumnya itu juga makam yang sudah dianggap wingit oleh warga masyarakat sekitarnya. Terus itu dijadikan tempat untuk mengeksekusi orang-orang PKI. Itu sangat luar biasa, orang siang saja mau lewat disitu juga kalau sendirian pada awalnya tidak berani kalau tidak ada temannya," kataya.

Keangkeran Makam Singaranting memang sudah banyak yang mengalami sendiri oleh warga sekitar. Bahkan sampai ada yang hilang sampai malam hari, begitu dicari ternyata berada di bawah pohon tepi sungai kecil. Hal ini dikisahkan oleh Sugeng yang sudah lebih dari 70 tahun hidup di wilayah Cipari.

"Ada warga yang ngomong ini kemarin si anu, siang-siang malah diajak ke sungai sampai larut malam. Kan dicari sama warga karena sore tidak pulang. Terus malam-malam dicari ketemu di bawah pohon di sekitar kuburan itu. Istilahnya kalau orang sini ngomong di selong," terangnya.

Baca Juga:Tanam Mangrove di Cilacap, Jokowi Harap Produksi Ikan dan Pendapatan Masyarakat Meningkat

Menurut Sugeng, ada kisaran 200 orang yang diduga PKI dieksekusi di Makam Singaranting. Terlebih ada juga yang dibawa ke Sungai Citanduy menggunakan truk. Anggapannya jika diisi penuh dalam satu truk memuat kurang lebih 50 orang.

"Sempat juga orang-orang di Kampung Laut, Nusakambangan, sampai menolak atau melarang agar aparat atau pemerintah jangan melakukan pembantaian di Sungai Citanduy. Biarpun itu anakan Sungai Citanduy tapi bermuara disitu. Apalagi waktu itu belum ada Bendung Citanduy, jadi mengalirnya langsung ke laut," ujarnya.

Penolakan oleh warga Kampung Laut dikarenakan berpengaruh pada penjualan ikan asin dari Kabupaten Cilacap tidak ada yang mau beli. Sebab muara Sungai Citanduy saat itu dipenuhi oleh bangkai manusia. Hingga akhirnya, komandan yang memimpin eksekusi saat itu menyetujui tidak ada lagi pembantaian di sekitar Sungai Citanduy dan memerintahkan agar jenazah di kubur di berbagai tempat termasuk pemakaman umum. 

Kontributor : Anang Firmansyah

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Paling Cocok Jadi Takjil Apa saat Buka Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak