Ketua Presidium Serikat Tani Mandiri (STAM) Cilacap, Petrus Sugeng berujar Singaranting memang digunakan untuk pemakaman massal orang-orang diduga sebagai pengikut PKI. Namun di Kecamatan Cipari sendiri, ada beberapa tempat yang digunakan sebagai tempat pembantaian. Diantaranya di Sungai Citanduy, Gunung Wilis dan Singaranting.
![Ketua Presidium Serikat Tani Mandiri (STAM) Cilacap, Petrus Sugeng. [Suara.com/Anang Firmansyah]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2021/09/26/46579-saksi-pki-cilacap.jpg)
"Kuburan atau makam Singaranting, sebelumnya itu juga makam yang sudah dianggap wingit oleh warga masyarakat sekitarnya. Terus itu dijadikan tempat untuk mengeksekusi orang-orang PKI. Itu sangat luar biasa, orang siang saja mau lewat disitu juga kalau sendirian pada awalnya tidak berani kalau tidak ada temannya," kataya.
Keangkeran Makam Singaranting memang sudah banyak yang mengalami sendiri oleh warga sekitar. Bahkan sampai ada yang hilang sampai malam hari, begitu dicari ternyata berada di bawah pohon tepi sungai kecil. Hal ini dikisahkan oleh Sugeng yang sudah lebih dari 70 tahun hidup di wilayah Cipari.
"Ada warga yang ngomong ini kemarin si anu, siang-siang malah diajak ke sungai sampai larut malam. Kan dicari sama warga karena sore tidak pulang. Terus malam-malam dicari ketemu di bawah pohon di sekitar kuburan itu. Istilahnya kalau orang sini ngomong di selong," terangnya.
Baca Juga:Tinjau Vaksinasi Door to Door, Jokowi: Kita Harap Percepat Program Vaksinasi di Indonesia
Menurut Sugeng, ada kisaran 200 orang yang diduga PKI dieksekusi di Makam Singaranting. Terlebih ada juga yang dibawa ke Sungai Citanduy menggunakan truk. Anggapannya jika diisi penuh dalam satu truk memuat kurang lebih 50 orang.
"Sempat juga orang-orang di Kampung Laut, Nusakambangan, sampai menolak atau melarang agar aparat atau pemerintah jangan melakukan pembantaian di Sungai Citanduy. Biarpun itu anakan Sungai Citanduy tapi bermuara disitu. Apalagi waktu itu belum ada Bendung Citanduy, jadi mengalirnya langsung ke laut," ujarnya.
Penolakan oleh warga Kampung Laut dikarenakan berpengaruh pada penjualan ikan asin dari Kabupaten Cilacap tidak ada yang mau beli. Sebab muara Sungai Citanduy saat itu dipenuhi oleh bangkai manusia. Hingga akhirnya, komandan yang memimpin eksekusi saat itu menyetujui tidak ada lagi pembantaian di sekitar Sungai Citanduy dan memerintahkan agar jenazah di kubur di berbagai tempat termasuk pemakaman umum.
Kontributor : Anang Firmansyah
Baca Juga:Tanam Mangrove di Cilacap, Jokowi Harap Produksi Ikan dan Pendapatan Masyarakat Meningkat