Upaya Pertamina untuk memberikan penerangan bagi warga Dusun Bondan tidak berhenti sampai di situ, namun terus berkelanjutkan. Pertamina pun berkolaborasi dengan Politeknik Negeri Cilacap (PNC) untuk mengembangkan energi listrik di Dusun Bondan dengan daya 6.000 Watt Peak (WP) pada tahun 2018.
Selanjutnya pada tahun 2019, pembangkit listrik tenaga hibrida (PLTH) yang dibangun Pertamina bersama PNC dengan kapasitas 12.000 WP diresmikan pengoperasiannya dan pada akhir tahun 2020, PLTH yang dilengkapi dengan lima kincir angin dan 24 panel surya itu ditingkatkan kapasitasnya menjadi 16.200 WP.
"Alhamdulillah berkat pembinaan dari Pertamina yang bekerja sama dengan pihak terkait lainnya, ada sebuah terobosan berupa PLTH ini. Dari awal sebenarnya bukan berarti tidak memungkinkan karena memang kami tidak memiliki akses jalan, namun inilah yang tepat diterapkan di Dusun Bondan untuk sistem energi listriknya, pemasangan listrik PLN susah, tidak ada akses jalan," kata Juru Bicara Pengurus PLTH Dusun Bondan Muhammad Jamaludin di Dusun Bondan, Rabu (6/10).
Ia mengakui sejak adanya PLTH itu, Dusun Bondan mengalami banyak perubahan dari sisi ekonomi dan sebagainya termasuk memaksimalkan kegiatan belajar anak-anak di rumah pada malam hari.
Baca Juga:Waspada! Kabupaten Cilacap Jadi Daerah yang Paling Rawan Jika Terjadi Tsunami
"Dulu ketika saya (masih sekolah) belum seperti itu, belajar sekadarnya saja karena gelap sekali. Alhamdulillah adik-adik saya, anak-anak di Dusun Bondan sekarang bisa belajar maksimal ketika malam hari," kata dia yang juga Ketua Koperasi Bondan Sukses Sejahtera.
Hingga saat ini, kata dia, aliran listrik dari PLTH mampu menerangi sekitar 40 rumah warga dengan daya sebesar 500 watt per rumah sehingga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan perangkat listrik seperti televisi dan penanak nasi.
Warga yang memanfaatkan aliran listrik dari PLTH tersebut hanya dibebani biaya perawatan yang relatif murah, yakni sebesar Rp25.000 per bulan.
Kendati demikian, dia mengatakan jika terjadi kendala dalam aliran listrik, pihaknya memberikan kompensasi berupa pengurangan iuran warga pada bulan berikutnya.
Selain untuk penerangan dan kebutuhan perangkat elektronik warga, listrik yang dihasilkan PLTH juga dimanfaatkan untuk kebutuhan kegiatan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) serta fasilitas Sidesimas (Sistem Desalinasi Berbasis Masyarakat) bantuan Pertamina dan PNC yang ditujukan untuk mengolah air payau menjadi layak konsumsi.
Baca Juga:BMKG Sarankan Jalur Evakuasi Tsunami di atas Pipa Pertamina Ditutup
Jamal mengatakan kehadiran Sidesimas yang diresmikan pada tahun 2020 juga sangat membantu warga Dusun Bondan yang selama ini memenuhi kebutuhan air layak konsumsi pada musim kemarau dengan cara membeli atau mencarinya di Pulau Nusakambangan yang perjalanannya membutuhkan waktu lebih kurang tiga jam menggunakan perahu.