Makanan jadul ini kalah familiar dari makanan instan, atau camilan berunsur Jepang dan Korea yang digandrungi anak-anak muda.
Bu Suad yang saat ini menginjak usia 78 tahun belajar membuat legondo dari budenya. Alasannya sederhana: agar ada yang meneruskan tradisi menyajikan legondo saat Lebaran di lingkungan keluarga.
Sebagai anak bungsu yang tinggal serumah dengan sang ibu, dari dulu Fuad terbiasa membantu Bu Suad membuat legondo. Dia hafal betul cara membuat legondo yang terbilang rumit.
“Serba teng cengklunik. Bikinnya rumit. Lama dan melelahkan,” kata Ernalia Masli istri Fuad yang setelah menikah sering terlibat dalam membuat legondo.
Baca Juga:Tinjau Candi Borobudur, Jokowi Minta Bikin Seni Pertunjukkan Secara Rutin
Bahan utama legondo adalah beras ketan, pisang, santan, dan gula. Ketan yang sudah direndam kemudian diaron bersama santan kelapa. Setelah setengah matang, ketan dimasak kembali dengan cara dikukus.
Usai dikukus, ketan dibungkus menggunakan daun pisang. “Jadi ketan itu kita kepel-kepel, kemudian ditaruh irisan pisang kepok kuning atau pisang raja di atasnya," ucapnya.
Orang awam sekilas melihat bungkusan legondo mirip lemper. Bedanya legondo diikat menggunakan 3 tali yang terbuat dari seratan bambu.
Menurut Fuad tali yang mengikat legondo memiliki filosifi tersendiri. “Jadi talinya harus 3 karena itu ada pakemnya. Ada filosofinya," tegasnya.
Ketiga tali itu menggambarkan ikatan manusia pada 3 unsur: Allah. Rasulullah. Manusia lainnya.
Baca Juga:Dorongan Tiga Periode Makin Meluas, Presiden Jokowi: Tetap Taati Konstitusi
Manusia terikat kepada Allah sebagai pencipta alam semesta. Begitu juga ikatan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa risalah agama Islam.