Lukisan Gus Dur yang tangannya merangkul pundak Buya Syafii, menunjukkan ekspresi rindu mendalam setelah lama sekian lama tidak bertemu sahabatnya itu.
“Polarisasi semakin menguat di dunia. Bukan hanya di Indonesia. Kita perlu lebih banyak lagi tokoh-tokoh publik yang menyuarakan agar keutuhan bangsa itu lebih terjaga,” kata Yeni Wahid, putri kedua Gus Dur disela pembukaan pameran “Mata Air Bangsa. Persembahan untuk Gus Dur dan Buya Syafii Maarif”.
Menurut Yeni, selama hidup Abdurrahman Wahid dan Buya Safii Maarif berjuang menjaga keutuhan bangsa. Keduanya memangku nilai-nilai kebebasan dan perdamaian.
“Ini adalah upaya untuk terus menghidupkan nilai-nilai yang dulu diusung oleh kedua beliau tersebut,” kata Yeni yang memiliki nama lengkap Zannuba Ariffah Chafsoh Wahid.
Baca Juga:Pameran MANIFESTO VIII Hadirkan 108 Karya Perupa Indonesia
Pamitnya dua guru bangsa ini meninggalkan ruang toleransi yang melompong. Hari-hari mendatang -terlebih mendekati Pemilu 2024- kamar media sosial bakal gaduh oleh ujaran kebencian dan akrobat politik yang menghalalkan segala cara demi meraih kekuasaan.
Algoritma media sosial menurut Yeni Wahid membuat masyarakat terbelah. Masyarakat dikondisikan untuk melihat masalah secara hitam-putih.
Disisi lain masyarakat tidak memiliki cukup stamina untuk sabar membaca pesan. Masyarakat memahami masalah hanya dari membaca judul. Pemahaman mereka dangkal dan mudah disesatkan.
Gus Dur dan Buya Syafii yang merepresentasikan NU-Muhammadiyah punya peran mengkonsolidasikan kalangan umat untuk meminimalkan kerusakan itu.
Sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, NU-Muhammadiyah punya kewajiban menjaga umat tetap berpikir waras. Membangun kontra narasi menghadang praktik politik yang merusak tatanan sosial.
Baca Juga:Bulog Jamin Daging Kerbau Beku Impor Asal India Bebas PMK
“Kami berterima kasih atas keinginan dan tindakan para seniman untuk terus mengusung nilai-nilai kebebasan, perdamaian. Semua nilai yang selama ini diusung oleh Abdurahman Wahid dan Buya Safii Maarif,” kata Yeni Wahid.