Suara Generasi Muda Jadi Kunci
Menanggapi hasil survei ini, pengamat politik Universitas Diponegoro Semarang, Wahid Abdulrahmah mengatakan, bahwa salah satu menjadi kunci kemenangan dalam Pilwakot Semarang ialah suara generasi milenial dan generasi Z yang jumlahnya mencapai 54 persen.
Menurutnya, masing-masing kandidat bisa mengambil suara pemilih muda melalui gagasan atau program yang kemudian dikemas dengan menarik dan kreatif melalui kampanye di media sosial. Namun dua hal ini harus didukung oleh figur atau ketokohan dari masing-masing paslon.
"Yang bisa menarik dari para paslon adalah gagasan paslon. Kedua adalah media, milenial dan Gen Z adalah pemakai media sosial. Terakhir adalah figure," ungkap dia.
Baca Juga:Setelah 9 Tahun Buron, Terpidana Penyelundupan Kayu di Semarang Ditangkap
Sejauh pengamatannya, dari kedua pasangan calon yang berkontestasi di Pilwakot 2024, semuanya melakukan pendekatan dengan generasi muda di media sosial. Namun gagasan atau program yang ditawarkan belum menyentuh persoalan dan kebutuhan anak muda.
"Kalau dari dua pasangan calon saya lihat belum ada spesifik melihat gagasan bagaimana membangun sumber daya manusia ke depan," kata pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro tersebut.
Menurut pengamat politik UIN Walisongo Semarang, Nur Syamsuddin, ada beberapa persoalan generasi muda yang bisa dijadikan perhatian dari kedua paslon dalam menggalang dukungan. Misalnya terbukanya akses lapangan pekerjaan yang luas dan merata.
"Milenial dan generasi Z memang menjadi perhatian, apa sih yang diinginkan? Yaitu soal pekerjaan. Maka para paslon perlu mendekati mereka dengan cara memberikan kemudahan pekerjaan dan hidup," ucap dia.
"Kedua adalah isu soal lingkungan menjadi perhatian mereka, seperti banjir, cuaca yang tidak baik bisa membuat mereka tidak bisa kemana-mana. Kemudian program yang berhubungan dengan teknologi dan inovasi," imbuh Nur Syamsuddin.
Baca Juga:Survei Poltracking: Suara Emak-Emak Jadi Kunci Kemenangan di Pilgub Jateng?
Selain itu, menurutnya, pola pikir generasi muda cenderung pragmatis, sehingga tidak tertarik dengan wacana politik. Generasi muda lebih menyukai program yang sesuai dengan hobinya, misalnya keberadaan ruang publik dan akses internet gratis.