Menurutnya, rekam jejak mereka yang positif serta pencitraan yang dibangun tim kampanye juga berhasil merebut simpati masyarakat Kota Semarang.
Kegagalan Yoyok Sukawi – Joko Santoso
![Calon wali kota dan wakil wali kota Semarang, Yoyok Sukawi dan Joko Santoso saat ditemui di Grand Mercure Solo Baru, Sukoharjo, Sabtu (5/10/2024). [Dok Pribadi]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2024/10/05/37321-yoyok-sukawi.jpg)
Di sisi lain, pasangan Yoyok Sukawi dan Joko Santoso (Yoyok-Joos), meskipun diusung koalisi besar Koalisi Indonesia Maju Plus (KIM Plus), menghadapi sejumlah kendala yang melemahkan peluang mereka. Salah satu masalah utama adalah kurangnya koordinasi dalam membangun kepentingan bersama di internal koalisi.
“Kerja-kerja pemenangan dari tim koalisi tidak berjalan maksimal dan justru terlalu menggantungkan logistik pada pasangan calon saja,” jelas Kholidul Adib.
Baca Juga:Top Skor El Salvador Resmi Gabung PSIS Semarang, Siap Gacor di Putaran Kedua!
Akibatnya, paslon Yoyok-Joos mengalami kekurangan logistik pada hari pemungutan suara, yang sangat memengaruhi efektivitas operasi lapangan. Selain itu, motivasi pendukung yang berbeda-beda dalam koalisi besar ini menciptakan dinamika internal yang tidak kondusif.
Makna Demokrasi Lokal
Meski persaingan ini menunjukkan perbedaan pendekatan strategi, baik Jaguar maupun Yoyok-Joos telah memberikan warna tersendiri bagi demokrasi lokal di Kota Semarang.
“Keduanya memperlihatkan pentingnya soliditas, strategi logistik, dan performa publik dalam memenangkan kontestasi politik,” tutup Kholidul Adib.
Pilwalkot Semarang 2024 tidak hanya menjadi ajang perebutan kekuasaan, tetapi juga mencerminkan dinamika politik yang kompleks di tengah persaingan antara PDIP dan koalisi lainnya, yang berdampak signifikan pada masa depan demokrasi di Jawa Tengah.
Baca Juga:Kronologi Penembakan GRO: Dari Tawuran hingga Insiden Fatal di Ngaliyan