- Pemprov Jawa Tengah merancang proyek aglomerasi pariwisata Keburejo-Gelangmanggung untuk mendistribusikan kunjungan wisatawan dari Borobudur ke lima wilayah penyangga sekitarnya.
- Gubernur Jawa Tengah menargetkan pembentukan 165 desa wisata baru serta peningkatan festival kebudayaan di wilayah eks-Karesidenan Kedu tahun 2027.
- Strategi integrasi infrastruktur dan kalender acara ini diharapkan menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi mandiri bagi daerah di Jawa Tengah.
SuaraJawaTengah.id - Era di mana Candi Borobudur berdiri sebagai destinasi tunggal yang egois segera berakhir. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah resmi merancang megaproyek aglomerasi pariwisata berkelanjutan bertajuk Keburejo-Gelangmanggung (Kebumen, Purworejo, Kabupaten Magelang, Kota Magelang, dan Temanggung).
Strategi ini sengaja disiapkan untuk mengalirkan omzet turis Borobudur ke lima daerah penyangga di sekitarnya.
Cetak biru konektivitas ini matang dibahas dalam forum Rembug Pembangunan Jawa Tengah di Pendopo Kabupaten Temanggung, Rabu (3/6/2026).
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan bahwa wilayah eks-Karesidenan Kedu harus meniru ekosistem pariwisata global seperti di Turki, di mana satu tiket gerbang utama otomatis terkoneksi dengan paket perjalanan ke kawasan penyangga.
Baca Juga:Pemprov Jateng Pastikan Penanganan, Perbaikan Jalan Randublatung-Cepu Masuk Tahapan Lelang
“Di Turki, begitu masuk ke sana langsung ditawari destinasi ke beberapa tempat. Semua sudah terkoneksi. Di wilayah eks Karesidenan Kedu juga harus begitu. Dampak Borobudur bisa dirasakan oleh Kebumen, dan pantai-pantai Kebumen yang bagus juga bisa dirasakan oleh wisatawan di Borobudur,” tegas Luthfi.
Amunisi 2027: Serbu dengan 165 Desa Wisata Baru & Genjot Event
Pemerintah daerah tidak ingin membuang waktu. Tahun 2026 ini dijadikan fase krusial untuk mematangkan infrastruktur jalan akses serta kesiapan basis komunitas.
Target ambisius yang dicanangkan mencakup pembentukan 165 Desa Wisata Baru yang tersebar di lima wilayah koordinasi:
- Kabupaten Magelang: 50 desa wisata.
- Purworejo: 45 desa wisata.
- Kebumen: 35 desa wisata.
- Temanggung: 30 desa wisata.
- Kota Magelang: 5 desa wisata.
Selain kesiapan fisik desa, Luthfi juga menuntut dinas pariwisata setempat untuk melipatgandakan festival dan pertunjukan kebudayaan karena sektor pariwisata terbukti sebagai industri yang kebal terhadap resesi ekonomi global.
Baca Juga:Ritual Sakral Waisak: Puluhan Biksu Jemput Air Berkah Umbul Jumprit untuk Sucikan Jiwa Manusia
Dobrakan Kepala Daerah: Dari Borobudur Night Tour hingga Kalender Bersama
Gagasan radikal ini mendapat lampu hijau dan dukungan penuh dari para kepala daerah yang hadir. Mereka membawa misi dan usulan taktis masing-masing untuk menggolkan proyek sabuk emas pariwisata ini:
![Infografis gagasan kolaborasi wisata Jawa Tengah. [Dok. Suara.com]](https://media.suara.com/pictures/original/2026/06/04/90982-infografis-wisata-jateng.jpg)
Melalui integrasi total penataan infrastruktur, desa wisata, dan kalender acara ini, Pemprov Jateng menargetkan kawasan "Keburejo-Gelangmanggung" tidak hanya menjadi penonton kemegahan Borobudur, melainkan menjadi lokomotif baru pertumbuhan ekonomi yang mandiri dan berkelanjutan.