Krisis Ladang Tani hingga Demam AI Global Jadi Biang Kerok Inflasi Jawa Tengah Mei 2026

Jawa Tengah catat inflasi 0,23% (mtm) pada Mei 2026. Dipicu kenaikan harga pangan, ponsel (efek AI), dan LPG non-subsidi, tapi terkendali di bawah angka nasional (0,28%).

Budi Arista Romadhoni
Senin, 08 Juni 2026 | 10:51 WIB
Krisis Ladang Tani hingga Demam AI Global Jadi Biang Kerok Inflasi Jawa Tengah Mei 2026
Ilustrasi inflasi di Jateng naik. (Freepik)
Baca 10 detik
  • Provinsi Jawa Tengah mencatatkan inflasi sebesar 0,23% pada Mei 2026, angka tersebut masih berada dalam koridor sasaran pemerintah.
  • Kenaikan inflasi dipicu krisis komoditas hortikultura, lonjakan harga komponen telepon seluler global, serta penyesuaian tarif gas LPG non-subsidi.
  • Pemerintah daerah melalui Forum TPID berkoordinasi melakukan intervensi pasar guna menjaga stabilitas pasokan dan distribusi barang di Jawa Tengah.

SuaraJawaTengah.id - Isi dompet dan belanjaan warga Jawa Tengah mulai mengalami tekanan pada periode Mei 2026. Setelah sempat menikmati penurunan harga (deflasi) tipis pada bulan sebelumnya, Provinsi Jawa Tengah kini resmi mencatatkan inflasi sebesar 0,23% secara bulanan (month-to-month/mtm).

Meskipun grafik merangkak naik, angka ini sebenarnya masih berada di dalam koridor aman target sasaran pemerintah, yaitu 2,5±1%, bahkan lebih rendah dari rata-rata inflasi nasional yang menyentuh 0,28%.

Plh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Anggis Rakhmi, menjelaskan bahwa pergerakan angka ini merupakan dinamika wajar yang terus dipantau ketat.

"Secara bulanan, Provinsi Jawa Tengah pada Mei 2026 mengalami inflasi sebesar 0,23% (mtm) setelah pada bulan sebelumnya deflasi sebesar 0,03% (mtm). Inflasi Jawa Tengah pada Mei 2026 lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 0,28% (mtm)," jelas Anggis Rakhmi dalam keterangan resminya di Semarang dikutip pada Senin (8/6/2026).

Baca Juga:Polisi Bubarkan Perkemahan Pemuda Ahmadiyah, Jubir JAI: Itu Cuma Camping Anak-Anak dan Olahraga

Namun, di balik angka yang terkendali tersebut, Bank Indonesia membeberkan tiga kelompok masalah unik—mulai dari krisis ladang tani lokal hingga efek tren teknologi global—yang menjadi aktor utama penarik pasokan uang warga:

1. Krisis Hortikultura: Amukan Cuaca di Temanggung, Demak, dan Pati

Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,07%. Dapur warga bergegolak akibat lonjakan harga trio komoditas utama: cabai merah, bawang merah, dan cabai rawit.

Anggis Rakhmi menyebutkan bahwa kelangkaan barang di pasar dipicu oleh runtuhnya produktivitas di sejumlah daerah penyangga utama akibat cuaca ekstrem dan hama.

"Komoditas penyumbang inflasi pada kelompok tersebut antara lain cabai merah, bawang merah, dan cabai rawit seiring dengan penurunan produktivitas akibat perubahan cuaca ekstrim, serangan organisme pengganggu tumbuhan, dan kekeringan yang terjadi di sejumlah sentra produksi seperti Temanggung untuk cabai, serta Pati dan Demak untuk bawang merah. Selain itu, terjadi peningkatan permintaan menjelang HBKN Idul Adha dan musim hajatan," urai Anggis.

Baca Juga:Musim Kemarau Sudah Dekat, BMKG Beri Peringatan Hujan Masih akan Mengguyur Wilayah Jateng

Situasi kelompok pangan ini kian berat karena minyak goreng ikut naik imbas keterbatasan pasokan serta lonjakan biaya produksi pada komponen pendukung seperti plastik kemasan.

Beruntung, pembengkakan harga makanan ini sedikit tertahan oleh jatuhnya harga daging dan telur ayam ras karena stok yang melimpah di tingkat peternak.

2. Demam AI Global Seret Harga Handphone Warga Jateng

Hal yang paling mengejutkan, inflasi Jateng juga dipicu oleh Kelompok Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan (andil 0,06%). Komoditas telepon seluler (HP) di pasar lokal Jawa Tengah merangkak naik akibat dampak tidak langsung dari revolusi teknologi di tingkat global.

"Komoditas telepon seluler kembali mengalami inflasi seiring dengan kenaikan harga komponen elektronik seperti chipset dan memory akibat keterbatasan pasokan yang dipengaruhi oleh peningkatan permintaan untuk kebutuhan industri kecerdasan buatan (artificial intelligence)," ungkap Anggis.

3. Efek Domino Gas LPG Non-Subsidi

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak