Negara Sekarat, Penguasa Khianat! Rezim Prabowo Disebut KKN, Mahasiswa Kepung DPRD Jateng

Ratusan mahasiswa PMII Semarang mengepung DPRD Jateng, memprotes kebijakan rezim Prabowo-Gibran. Aksi sempat memanas, namun mereda saat azan Magrib.

Budi Arista Romadhoni
Rabu, 17 Juni 2026 | 20:32 WIB
Negara Sekarat, Penguasa Khianat! Rezim Prabowo Disebut KKN, Mahasiswa Kepung DPRD Jateng
Aksi mahasiswa Semarang di halaman Gubernuran, Jalan Pahlawan, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang [Suara.com/Ilma Latif]
Baca 10 detik
  • Ratusan massa PC PMII Kota Semarang menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor DPRD Jawa Tengah pada Rabu, 17 Juni 2026.
  • Mahasiswa memprotes kebijakan ekonomi dan politik pemerintah, termasuk menuntut evaluasi program Makan Bergizi Gratis serta Koperasi Desa Merah Putih.
  • Aksi berlangsung tegang dengan pembakaran poster dan upaya menjebol gerbang, sebelum akhirnya dibubarkan dengan ancaman demonstrasi susulan hari Jumat.

SuaraJawaTengah.id - Gelombang amarah mahasiswa di Kota Semarang, Jawa Tengah, benar-benar berada di titik nadir.

Hanya berselang dua hari setelah aliansi BEM Semarang Raya memadati jalanan, giliran ratusan massa dari Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kota Semarang yang mengepung Kantor DPRD Jawa Tengah pada Rabu (17/6/2026) sore hingga malam.

Aksi yang mengusung jargon perlawanan ekstrem #NEGARA_SEKARAT_PENGUASA_KHIANAT ini berjalan sangat tegang sejak dimulai pukul 16.30 WIB. Ratusan mahasiswa gabungan dari berbagai kampus besar mulai dari UIN Walisongo, Universitas PGRI Semarang (Upgris), hingga Universitas Negeri Semarang (Unnes), Universitas Diponegoro (Undip) turun ke jalan membawa akumulasi kekecewaan terhadap rapuhnya fondasi ekonomi, sosial, dan ekologi di bawah rezim Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang belum genap berjalan dua tahun.

Tak sekadar memblokade Jalan Pahlawan, aksi kali ini diwarnai oleh aksi bakar-bakaran, hingga letupan orasi radikal dari atas mobil komando yang secara terang-terangan menyerukan pemenggalan kepala sang kepala negara.

Baca Juga:Jateng Jadi Provinsi dengan Sertifikasi Tanah Wakaf Tertinggi Nasional

Detik-Detik Mencekam: Massa Jebol Gerbang DPRD dan Diadang APAR

Eskalasi massa di lapangan mencapai titik puncaknya saat memasuki pukul 17.40 WIB. Dipicu rasa frustrasi karena tidak diperbolehkan masuk halaman kantor DPRD Jateng, ratusan mahasiswa secara anarkis mencoba merobohkan gerbang besi Kantor DPRD Jateng. 

Gerbang raksasa tersebut diguncang hebat secara bersamaan diiringi pekikan yel-yel perlawanan. Beruntung, kokohnya struktur pagar dan ketatnya barikade polisi membuat upaya merobohkan gerbang tersebut gagal.

Tak berhasil menjebol pertahanan, massa yang telanjur emosi kemudian mengumpulkan sisa-sisa poster tuntutan untuk dibakar. Di tengah kepungan massa, api langsung disulut hingga membubung tinggi di sepanjang Jalan Pahlawan.

Aksi mahasiswa Semarang di halaman Gubernuran, Jalan Pahlawan, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang [Suara.com/Ilma Latif]
Aksi mahasiswa Semarang di halaman Gubernuran, Jalan Pahlawan, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang [Suara.com/Ilma Latif]

Melihat kobaran api yang kian membesar, aparat kepolisian bergerak represif. Petugas langsung menyemprotkan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) ke arah kerumunan massa demi memadamkan api. Akibatnya, kabut putih tebal dari gas APAR langsung menyelimuti kawasan sekitar, menciptakan atmosfer ketegangan yang sangat pekat di tengah senja yang mulai gelap.

Baca Juga:BRI Semarang A. Yani Perkuat Kesiapsiagaan Bencana Demi Jaga Layanan Nasabah

Redam Keganasan Massa dengan Lantunan Azan Magrib

Di tengah situasi genting dan mencekam pasca-penyemprotan APAR, pihak kepolisian mengambil langkah persuasif untuk mendinginkan kepala para demonstran yang berbasis massa Islam tersebut.

Melalui pengeras suara komando kepolisian, petugas mencoba menenangkan massa dengan mengumandangkan azan Magrib.

Lantunan azan yang menggema di tengah Jalan Pahlawan itu perlahan berhasil meredam tensi tinggi antara mahasiswa dan aparat.

Massa aksi akhirnya menahan diri dan kembali ke barisan komando masing-masing untuk menyuarakan orasi selanjutnya.

Orasi Radikal UIN Walisongo: "Sopan Kepada Orang Jahat Itu Mustahil!"

Sebelum ketegangan memuncak di depan gerbang, kader PMII UIN Walisongo, Ahmad Alfani Hasan, sempat naik ke atas mobil komando untuk membakar semangat massa dengan narasi perlawanan berdarah.

Ia menegaskan bahwa rezim saat ini adalah representasi nyata dari kolonialisme modern yang hobi meremehkan tangisan rakyat kecil.

"Kritik kita bukan lagi dibungkam, bukan lagi dikejam, tapi di-yenyenye-kan! Dan kita masih disuruh untuk sopan?" teriak Alfani, Rabu (17/6/2026).

"Tidak mungkin kita bisa sopan kepada orang yang jahat! Tidak mungkin kita bisa sopan kepada orang yang pernah menculik para aktivis sebagian daripada kita semua! Tidak mungkin kita sopan kepada orang yang merampas tanah rakyat di Papua!" lanjutnya berapi-api.

Alfani kemudian membandingkan situasi krisis sosial-ekonomi di Indonesia dengan sejarah radikalisme Revolusi Prancis yang berdarah-darah demi meruntuhkan monarki yang korup.

"Jika seandainya kesejahteraan yang tidak bisa diaplikasikan di Indonesia ini terjadi di Prancis, maka kepala Prabowo halal untuk dipenggal! Saya katakan kepala Prabowo halal untuk dipenggal! Rakyat kita terlalu baik, rakyat kita terlalu sopan. Kritik disuruh sopan, kritik disuruh santun. Maka apakah boleh saya santun dalam memenggal kepala presiden? Sangat-sangat boleh bahkan halal!" kecam Alfani yang langsung disambut gemuruh takbir dari barisan massa.

Bagi kader PMII yang berbasis Manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja), Alfani menegaskan bahwa diam di tengah kezaliman adalah bentuk pengkhianatan terhadap para pendiri organisasi.

"Perjuangan melawan rezim pada akhirnya bagi kita umat Islam bukan lagi sebagai keos-an, tapi fardhu ain! Jika seandainya kalian diam, maka kalian akan mempermalukan para muassis (pendiri) yang lantang melakukan perlawanan!" pekiknya.

Bawa Kajian Akademik 15 Kampus, Mahasiswa Kecewa Dilarang Masuk

Ketua Kopri PC PMII Kota Semarang, Fardha Nihayatul Ulum, mengungkapkan bahwa selama dua minggu terakhir, 15 komisariat kampus di bawah naungan PMII Semarang telah membedah instabilitas negara dan merumuskannya dalam sebuah naskah akademik untuk diserahkan ke Komisi E DPRD Jateng. Namun, niat baik itu diadang barikade ketat.

"Kami ingin masuk bukan untuk chaos atau rusuh. Kami ingin berdialog secara langsung menyampaikan kajian-kajian dari 15 kampus yang telah kami buat dari grassroots—sesuatu yang mungkin tidak pernah dilakukan oleh para rezim," sesal Fardha saat ditemui Suara.com di sela-sela aksi.

Fardha tidak bisa menyembunyikan kekecewaan mendalam atas sikap arogan para pejabat daerah yang memilih bersembunyi saat rakyatnya menjerit di jalanan.

"Sampai saat ini belum ada respons sama sekali, baik dari Gubernur, Wakil Gubernur, Wali Kota, maupun DPRD. Sangat, sangat kecewa. Kami datang bawa hasil penelitian! Pesan spesifik kami untuk para pimpinan di Jawa Tengah: Silakan Bapak dan Ibu keluar temui kami! Kami akan sampaikan kajian ini supaya Anda tidak salah lagi dalam mengambil kebijakan yang mencekik rakyat," tegas Fardha.

Bedah Tuntutan: Soroti "Borok" Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Merah Putih

Dalam kajian naskah akademik yang dibawa PMII, dua program prioritas andalan Prabowo-Gibran, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) , menjadi sasaran kritik paling tajam. Program-program populis tersebut dinilai gagal total, dipaksakan, dan justru hanya menguntungkan lingkaran elite penguasa.

Fardha Nihayatul Ulum membongkar fakta mengenai ketidaksesuaian serapan anggaran MBG di lapangan dengan realita yang dijanjikan di awal kampanye.

"Kami menyoroti bagaimana program MBG ini banyak merugikan masyarakat. Kita tahu kepala Badan Gizi Nasional (BGN) kemarin menyatakan MBG tidak akan bubar karena pemiliknya adalah polisi, tentara, dan juga DPR. Itu valid, Kepala BGN yang bilang! Nah, per hari ini, perputaran anggaran MBG larinya semua ke kaum-kaum rezim saja," bongkar Fardha.

Janji manis pemerintah yang mengklaim akan menyerap hasil produksi pangan dan pertanian dari masyarakat lokal di akar rumput terbukti zonk.

"Sampai hari ini tidak terbukti. Banyak sekali ketidaksesuaian anggaran yang turun dengan apa yang ada di masyarakat. Koperasi Desa Merah Putih pun sama, tidak menggambarkan adanya prinsip koperasi yang sesungguhnya. Ketika rakyat sudah menolak, kenapa terlalu memaksakan hal seperti itu?" cetusnya.

Oleh karena itu, PMII menuntut agar pendanaan program populis yang tidak efisien tersebut segera dihentikan total dan dialihkan untuk membiayai sektor pendidikan nasional yang kian mahal.

Piagam Perlawanan: 8 Tuntutan Mutlak PMII Kota Semarang

Melalui rilis resmi yang ditandatangani oleh Ketua Umum PC PMII Kota Semarang, Moh. Afis Nur Cahaya, mahasiswa menegaskan tidak ada kata damai sebelum delapan poin tuntutan ini dipenuhi oleh pemerintah:

1. Restrukturisasi APBN secara total, turunkan harga BBM nonsubsidi maupun subsidi, dan pulihkan daya beli ekonomi rakyat yang melemah.

2. Revisi UU Polri dan UU TNI, kembalikan supremasi sipil, dan tendang jauh-jauh militerisme dari ruang jabatan sipil karena mengancam lapangan kerja pemuda.

3. Hentikan praktik KKN di kabinet Prabowo-Gibran dan mendesak DPR RI segera mengesahkan UU Perampasan Aset.

4. Evaluasi total program populis (MBG dan KDMP) yang dinilai tidak efisien, lalu alihkan pendanaannya untuk sektor pendidikan.

5. Hentikan retorika kosong, bersihkan kabinet dari pejabat inkompeten, serta kembalikan transparansi dan akuntabilitas nyata demi kesejahteraan rakyat.

6. Tuntut tanggung jawab Pemerintah Pusat dan Daerah atas kehancuran ekologi serta kemiskinan struktural yang terjadi di Jawa Tengah.

7. Jalankan Reforma Agraria sejati dengan mengembalikan kepemilikan tanah kepada rakyat kecil.

8. Usut tuntas dan hentikan segala bentuk tindakan represif aparat penegak hukum terhadap rakyat sipil.

Tutup Aksi dengan Mars PMII, Ancam Gelombang Ketiga Hari Jumat

Setelah situasi berhasil ditenangkan, massa aksi akhirnya sepakat untuk membubarkan diri secara teratur pada pukul 18.15 WIB. Sebelum meninggalkan Jalan Pahlawan, ratusan mahasiswa membentuk lingkaran besar dan menutup aksi dengan menyanyikan lagu Mars PMII secara khidmat di bawah temaram lampu jalan.

Meskipun membubarkan diri dengan tertib, PMII Semarang menegaskan bahwa ini bukanlah akhir, melainkan sebuah babak pembuka. Target mahasiswa sudah bulat, mereka tidak akan berhenti turun ke jalan sebelum seluruh poin tuntutan dikabulkan.

"Demonstrasi bagi kami tidak bisa hanya satu kali selesai. Ini adalah komitmen follow up dari kawan-kawan PMII. Hari ini adalah pembuka. Karena hari ini kami dibungkam dan tidak diizinkan masuk, maka kami pastikan hari Jumat nanti kami akan kembali datang dengan gelombang masa yang jauh lebih besar untuk melumpuhkan jalanan!" pungkas Fardha dengan nada mengancam.

Kontributor : Ilma Latif

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak