Perwaris Sesalkan Aksi Persekusi Serang 'Boti', di Semarang Mereka dapat Ruang Nyaman

Perwaris mengecam persekusi terhadap komunitas LGBTQ di Bogor yang dipicu Perpres 111/2025. Perwaris tetap berkontribusi positif melalui kolaborasi dengan Pemko.

Budi Arista Romadhoni
Sabtu, 18 Juli 2026 | 15:34 WIB
Perwaris Sesalkan Aksi Persekusi Serang 'Boti', di Semarang Mereka dapat Ruang Nyaman
Penyerahan bantuan daging kurban terhadap transpuan lansia, bekerjasama dengan Lazismu Provinsi Jawa Tengah. [Dok. Perwaris for Suara.com]
Baca 10 detik
  • Sejumlah warga di Bogor melakukan persekusi terhadap individu yang dianggap berperilaku menyimpang dengan menyiramkan air kencing.
  • Ketua Perwaris menilai aksi diskriminatif tersebut dipicu oleh Perpres Nomor 111 Tahun 2025 tentang ancaman LGBTQ.
  • Komunitas Perwaris Semarang tetap tampil pada acara Kesbangpol di Simpanglima sebagai upaya menjaga silaturahmi dengan masyarakat.

SuaraJawaTengah.id - Viral di media sosial beberapa jam terakhir, memperlihatkan aksi persekusi oleh sejumlah warga di Bogor terhadap mereka yang sebut 'boti', yang dinilai berperilaku menyimpang.

Video amatir dan narasi yang beredar memperlihatkan mereka dikejar-kejar, disiram air kencing yang sudah disiapkan dalam botol. Unggahan yang beredar di sejumlah platfrom media sosial, seperti Instagram maupun X mendapat aneka respons; dari mendukung hingga menyesalkan terjadinya persekusi.

Di Indonesia sendiri, teranyar ada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 111 Tahun 2025, mencantumkan penyebaran budaya Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender dan Queer (LGBTQ) sebagai ancaman non-militer.

Fenomena ini direspons Persatuan Waria Semarang (Perwaris). Ketua Perwaris Semarang Silvy Mutiari berargumen fenomena persekusi terhadap LGBTQ tidak bisa dilepaskan dari perpres teranyar itu, yang mencantumkan LGBTQ sebagai ancaman non-militer.

Baca Juga:BMKG: Cuaca Semarang Berawan Tebal Hari Ini, Aktivitas Luar Ruangan Diperkirakan Tetap Kondusif

“Tentang kejadian di Bogor dan sejumlah daerah lain, kami pertama ucapkan duka cita terhadap korban-korban persekusi dan tindakan diskriminatif yang menimpa teman-teman komunitas transpuan di manapun. Kami mengutuk pelaku tindak kekerasan itu oleh siapapun, entah itu oleh aparat ataupun masyarakat umum,” kata Silvy, sapaannya, kepada Suara.com via telepon seluler, Sabtu (18/7/2026).

“Akar permasalahannya ya adanya Perpres 2025 itu, dianggap sebagai ancaman non-militer. Jadi itu dipakai untuk melegalkan aksi-aksi persekusi dan tindakan diskriminatif. Itu juga jadi kekhawatiran dan ketakutan kami, khususnya di Semarang,” sambungnya.

Dia bercerita, Perwaris hingga saat ini mendapatkan ruang dan tempat yang nyaman. Di Kota Semarang, komunitas ini, yang pada akhirnya berbentuk yayasan berbadan hukum, sudah ada sejak 2009.

Keberadaannya sudah didaftarkan, mendapatkan akta notaris dan mendapatkan SK dari Menteri Hukum dan HAM (Menkumham). Menempati sekretariat di daerah Randusari, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang.

Aktivitasnya beragam, termasuk menggandeng kerjasama dengan pemerintah, lembaga bantuan hukum, maupun tentu saja ormas-ormas lain di Ibu Kota Jawa Tengah ini. Sebut saja; dengan LBH Semarang, LBH Apik. Mereka juga mempunyai paralegal yang salah satunya bisa mendampingi anggota jika mendapat persoalan hukum ataupun menjadi korban kekerasan.

Baca Juga:Jeritan Warga Jateng saat Antrean BBM Mengular: Lebih Baik Turun Kasta ke Pertalite daripada Boncos

“Kalau jumlah anggotanya sekitar 60 orang, nggak ada angka pasti. Saat ini kami tidak memakai kartu anggota, ini jadi salah satu mitigasi, mengurangi dampak buruk ke depan (jika ada yang kontra dengan keberadaan mereka),” jelas Silvy.

Tampil di Ormas Expo Semarang

Di Kota Semarang, komunitas itu mendapat tempat. Teranyar, Perwaris hari ini, akan perform pada acara bertajuk Kick Off: Kinerja Ormas – Ormas Bersatu Semarang Maju. Acara dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Semarang, Sabtu (18/7/2026) di Parkiran Barat (ex Plaza) Simpanglima Semarang.

Sesuai rundown acara yang dilihat Suara.com, Perwaris akan tampil 25 menit, mulai pukul 19.00 – 19.25 WIB, sebagai penampil puncak sebelum ditutup live music lokal band Kota Semarang.

Ormas atau komunitas lain yang terlibat di sana di antaranya; Persaudaraan Setia Hati Terate, Komunitas Sahabat Difabel, Bankom Kota Semarang, Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia, Wanita Katolik Republik Indonesia DPC Kota Semarang, Komunitas Waroeng Keroncong, Badan Pengurus Kota Oi Semarang, Komunitas Wedang Jae, wanita Hindu Dharma Indonesia, Forum Potensi Relawan Semarang hingga KBPPP (Keluarga Besar Putra Putri) POLRI Resor Semarang.

Berdasarkan unggahan resmi Kesbangpol Kota Semarang di Instagram @kesbangpolkotasemarang, kegiatan itu sendiri jadi semacam penghargaan sekaligus mendorong setiap ormas agar terus berkembang. Setidaknya ada 4 kriteria: memperkuat tata kelola organisasi, membangun organisasi yang berkelanjutan, menghadirkan program yang bermanfaat bagi masyarakat dan menunjung tinggi etika, kolaborasi dan kepatuhan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak