- Dieng Culture Festival 2026 diselenggarakan di Banjarnegara pada 28 hingga 30 Agustus untuk menggerakkan ekonomi masyarakat.
- Tingkat okupansi penginapan mencapai 95 persen karena lonjakan arus wisatawan di kawasan Dieng dan sekitarnya.
- Festival budaya ini menampilkan ritual ruwatan anak berambut gimbal serta pameran UMKM guna meningkatkan perekonomian warga.
SuaraJawaTengah.id - Dieng Culture Festival (DCF) 2026 tak sekadar menjadi panggung pelestarian tradisi dan budaya. Festival yang digelar di Dataran Tinggi Dieng, Desa Dieng Kulon, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, 28-30 Agustus itu ditargetkan menjadi penggerak ekonomi masyarakat setempat.
Tanda geliat ekonomi mulai terlihat dari tingginya permintaan akomodasi menjelang pelaksanaan festival. Tingkat keterisian penginapan di kawasan Dieng disebut telah mencapai sekitar 95 persen.
Koordinator Umum DCF Alif Faozi mengatakan tingginya okupansi menunjukkan besarnya arus wisatawan yang datang sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat lokal.
"Kalau penginapan terinformasi mungkin sudah 95 persen. Kalaupun ada yang masih kosong mungkin satu-dua, bahkan saya juga kesulitan ketika beberapa teman mencari penginapan," kata Alif dari ANTARA di Banjarnegara, Rabu (26/8/2026).
Baca Juga:Dieng Culture Festival 2024: Kembali ke Akar Budaya Tanpa Harmoni Atas Awan
Lonjakan permintaan akomodasi bahkan tidak hanya terjadi di Dieng Kulon. Wisatawan turut mencari penginapan di Desa Karangtengah dan sejumlah wilayah lain di sekitar Dataran Tinggi Dieng, termasuk Dieng Wetan, Kabupaten Wonosobo.
Menurut Alif, kondisi tersebut memperlihatkan bahwa dampak ekonomi DCF tidak berhenti di lokasi utama festival. Pergerakan wisatawan turut menyebar ke desa-desa dan pelaku usaha di kawasan sekitar Dieng.
Karena itu, DCF 2026 dirancang dengan pendekatan pariwisata berbasis komunitas. Masyarakat lokal tidak hanya ditempatkan sebagai penonton, tetapi diberi ruang untuk menangkap peluang ekonomi dari kedatangan wisatawan.
"Festival kami adalah festival gotong royong yang melibatkan masyarakat, sivitas akademika, media, pemerintah, hingga para pelaku usaha atau bisnis," ujarnya.
Sejumlah agenda pun diarahkan untuk memperbesar keterlibatan pelaku usaha lokal. Salah satunya Ekspo UMKM di Venue Arjuna yang menjadi ruang promosi dan pemasaran produk masyarakat.
Baca Juga:Dieng Culture Festival 2024 Belum Pasti Digelar, Ini Alasannya
Festival Kopi Dieng juga dihadirkan untuk mengangkat komoditas lokal sekaligus memperluas pasar kopi Dieng. Sementara Jazz Atas Awan Showcase di Venue Gatotkaca menjadi bagian dari strategi memperkuat daya tarik wisata dan memperpanjang aktivitas ekonomi selama festival.
Besarnya potensi ekonomi DCF juga tercermin dari catatan sebelumnya. Bupati Banjarnegara Amalia Desiana mengatakan laporan Bank Indonesia pada 2025 mencatat perputaran uang di kawasan Dataran Tinggi Dieng selama festival mencapai lebih dari Rp40 miliar.
"Meski wisatawan rata-rata hanya menginap satu malam," kata Amalia.
Menurut Amalia, capaian tersebut memperlihatkan DCF telah berkembang menjadi industri pariwisata berbasis komunitas. Selama 16 tahun, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dieng Pandawa mengembangkan festival dengan melibatkan masyarakat Desa Dieng Kulon.
Pemerintah Kabupaten Banjarnegara pun mendukung DCF sebagai salah satu instrumen untuk meningkatkan perekonomian masyarakat, khususnya di kawasan Dieng.
Di tengah target memperbesar dampak ekonomi, DCF tetap mempertahankan identitas utamanya sebagai festival budaya. Salah satu agenda puncak adalah Ruwatan Anak Berambut Gimbal di kompleks Candi Arjuna pada 29 Agustus.