- Alfira Deanika dari Universitas Islam Indonesia menjuarai tunggal putri Campus League Badminton Regional Semarang 2026.
- Pertandingan final tersebut diselenggarakan di Polytron Stadium Universitas Diponegoro pada Sabtu, 29 Agustus 2026.
- Alfira berhasil mengalahkan Selvyra Khalifah asal UNESA dengan skor dua gim langsung 15-10, 15-13.
SuaraJawaTengah.id - Debut membawa nama kampus langsung berbuah gelar juara. Itulah yang dirasakan Alfira Deanika, mahasiswa baru Universitas Islam Indonesia (UII), setelah menaklukkan unggulan kedua Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Selvyra Khalifah, pada final tunggal putri Campus League Badminton Regional Semarang 2026.
Bertanding di Polytron Stadium, Universitas Diponegoro (Undip), Sabtu (29/8/2026), Alfira tampil tenang di tengah tekanan. Pemain kidal kelahiran 30 April 2007 itu mengamankan kemenangan dua gim langsung dengan skor 15-10, 15-13.
Gelar tersebut terasa istimewa bagi Alfira. Sebab, Campus League Regional Semarang menjadi ajang pertamanya membawa nama UII setelah berstatus mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi.
“Alhamdulillah bisa memberikan hasil terbaik. Saya juga masih maba dan baru pertama membawa nama kampus. Apalagi event ini bagus,” kata Alfira.
Perjalanan menuju podium emas tidak sepenuhnya mulus. Pada gim kedua, Alfira sempat berada dalam tekanan ketika permainan lawan berkembang dan sejumlah kesalahan mulai dibuatnya sendiri.
Dalam situasi tersebut, ia berusaha mengembalikan fokus. Pesan dari pelatih untuk tetap tenang dan menahan permainan menjadi salah satu kunci hingga mampu mengunci kemenangan.
“Saya sudah mulai tertekan, lawan juga sudah mulai berkembang. Saya eror juga. Tapi mau enggak mau, kalau mau dapat hasil baik harus fokus lagi,” ujarnya.
Menariknya, Alfira justru datang ke Semarang dengan persiapan yang relatif singkat. Ia baru saja menyelesaikan pertandingan di Jakarta sehingga tidak memiliki waktu panjang untuk menjalani persiapan khusus menghadapi Campus League.
Namun, pengalaman bertanding menjadi modal penting bagi pemain yang bernaung di PB Satria Sleman tersebut.
Baca Juga:Curhatan Pilu Susi Susanti Prestasi Dunianya Bak Habis Manis Sepah Dibuang
“Persiapan saya enggak terlalu. Mepet, saya baru saja dari pertandingan di Jakarta. Jadi persiapannya tidak terlalu berat,” ungkapnya.
Menurut Alfira, lawan paling berat justru hadir di partai final. Permainan Selvyra membuatnya harus bekerja keras untuk menjaga konsentrasi hingga poin terakhir.
Format pertandingan Campus League yang menggunakan gim pendek juga memberi tantangan tersendiri. Berbeda dengan format 21 poin yang sudah lazim dikenal para pemain, sistem baru membuat setiap poin terasa lebih menentukan.
“Kalau saya sendiri dengan sistem baru ini, gim pendek lebih suka. Lebih tegang sih. Kalau 21 kan lebih panjang,” katanya.
Keunikan lain Alfira adalah gaya bermainnya sebagai pemain kidal. Ia mengaku sudah menggunakan tangan kiri sejak kecil, meski sempat diarahkan untuk terbiasa menggunakan tangan kanan.
“Tangan kidal dari kecil. Pernah dari kecil disuruh biasa pakai tangan kanan, tapi kembali ke kiri,” ujarnya.