- Wakil Ketua MK Saldi Isra mengingatkan generasi muda agar tidak bergantung pada kecerdasan buatan.
- Pesan tersebut disampaikan di Gedung MK, Jakarta, pada Rabu (28/10/2026), dalam acara peringatan Hari Sumpah Pemuda.
- Ketergantungan pada AI berisiko menghilangkan kemampuan membaca, menulis, komunikasi, serta menghambat analisis mahasiswa.
SuaraJawaTengah.id - Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Saldi Isra mengingatkan generasi muda agar tidak bergantung pada kecerdasan buatan (AI) hingga kehilangan kemampuan membaca, menulis, dan berkomunikasi.
Menurutnya, AI seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti kemampuan berpikir manusia.
Pesan itu disampaikan Saldi dalam talkshow Open House dan Ngopi Bareng #Courtizen Jilid V di Gedung MK, Jakarta, Rabu (28/10/2026), dalam rangka Hari Sumpah Pemuda.
“Saya termasuk orang yang khawatir dengan AI dan turunannya. Sepanjang AI itu digunakan sebagai alat bantu dan tidak membunuh tiga hal tadi, salah sih, fine saja,” kata Saldi melansir ANTARA, Kamis (29/10/2026).
Baca Juga:Tim Hukum Ahmad Luthfi-Taj Yasin Pede Hadapi Gugatan Rival di Mahkamah Konstitusi
Ia menilai, ketergantungan pada AI berisiko menghambat kemampuan analitis mahasiswa. Misalnya, ketika mendapat tugas makalah, mahasiswa cukup memasukkan perintah ke AI tanpa mengembangkan keterampilan menulis dan menyusun argumentasi sendiri.
Saldi juga menyoroti keterbatasan AI dalam menggantikan peran hakim, terutama dalam menilai perilaku dan konsistensi keterangan pihak yang berperkara di persidangan.
“Orang kalau berbohong, apa yang dibicarakan awal itu di ujungnya akan kelihatan dari penyimpangannya, dan itu akan tidak bisa dideteksi dengan AI,” ujarnya.
Terkait proses peradilan, Saldi menegaskan seluruh putusan MK disusun tanpa bantuan AI. Prosesnya melibatkan sembilan hakim konstitusi melalui rapat permusyawaratan hakim (RPH), termasuk pembahasan rancangan putusan dan pertimbangan hukum secara bersama-sama.
Saldi mengaku hingga kini tidak menggunakan AI, kecuali kamus besar bahasa Indonesia daring, karena ingin menjaga kemampuan dan keahliannya sendiri.
Baca Juga:Usai Aksi Demo di Semarang, BEM Unissula Tegaskan Kawal Terus Putusan MK
“Karena apa? Karena saya tidak mau keahlian saya diganti oleh AI itu,” katanya.
Ia berpesan agar generasi muda tetap mengasah kemampuan berpikir kritis dan mengembangkan keahlian secara mandiri di tengah pesatnya perkembangan teknologi.