- Gubernur Ahmad Luthfi meresmikan elektrifikasi mesin penggilingan padi di Magelang untuk memperkuat swasembada pangan.
- Penggunaan mesin listrik menurunkan biaya operasional penggilingan padi di Jawa Tengah hingga hampir 60 persen.
- Program elektrifikasi periode 2025-2026 ini menjangkau 14 penggilingan skala kecil dengan anggaran sekitar Rp3,1 miliar.
Manfaat elektrifikasi mulai dirasakan kelompok tani penerima bantuan. Perwakilan Gapoktan Maju Makmur, Sudarno, mengatakan penggunaan mesin diesel sebelumnya membutuhkan biaya bahan bakar cukup besar dan tenaga lebih banyak untuk operasional.
Bahkan, proses menghidupkan mesin diesel masih dilakukan secara manual. Ketersediaan solar juga terkadang menjadi kendala karena proses pengadaannya membutuhkan waktu.
Setelah beralih menggunakan listrik, kapasitas penggilingan meningkat dengan biaya operasional yang dinilai lebih efisien.
"Kalau sebelumnya butuh 20 liter untuk 2 ton beras, setelah elektrifikasi beli token listrik Rp500 ribu bisa 5-6 ton," ujarnya.
Baca Juga:Harga Cabai Tembus Rp90 Ribu per Kg, Pemprov Jateng Gelar Pasar Murah
Dia mengaku bantuan elektrifikasi membuat aktivitas penggilingan lebih lancar sehingga semakin banyak masyarakat tani yang memanfaatkan layanan tersebut.
"Setelah menggunakan listrik, alhamdulillah, dengan bantuan dari Gubernur ini, penggilingan bisa berjalan lebih lancar dan lebih banyak lagi masyarakat tani yang memanfaatkan dan konsumen juga lebih tertarik pada beras yang dihasilkan," katanya.
Perkuat Pembiayaan hingga Penyerapan Hasil Panen
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Jawa Tengah Widi Hartanto menyampaikan, program elektrifikasi penggilingan padi merupakan hasil kolaborasi Pemprov Jateng, Bank Indonesia, PLN, dan sejumlah pihak terkait.
Selain modernisasi mesin, penguatan sektor hilir juga dilakukan melalui dukungan permodalan bagi kelompok usaha pangan.
Baca Juga:Keluarga Jadi Korban Gempa, Mahasiswa NTT di Jateng Dapat Bantuan Biaya Kos dari Gubernur Luthfi
Hingga kini, subsidi bunga sebesar Rp62,37 juta telah disalurkan dengan total kredit mencapai Rp1,425 miliar. Pembiayaan tersebut dimanfaatkan oleh 24 gabungan kelompok tani (gapoktan).
Kerja sama pemasaran beras juga diperkuat melalui keterlibatan badan usaha milik daerah (BUMD), salah satunya PT Jateng Agro Berdikari, untuk mendukung penyerapan hasil produksi petani.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat rantai usaha pertanian, mulai dari produksi, pengolahan hingga pemasaran hasil panen.
Di sisi lain, Pemprov Jateng juga berupaya memastikan penguatan produksi dan pengolahan pangan diikuti dengan keterjangkauan harga bagi masyarakat.
Melalui Gerakan Pangan Murah, sebanyak 2.217 kegiatan telah dilaksanakan di Jawa Tengah dengan total omzet mencapai Rp39 miliar.
Dalam kegiatan GPM di Desa Ngadirojo, sejumlah kebutuhan pokok dijual kepada masyarakat, mulai dari beras, minyak goreng, telur, hingga bawang merah dan bawang putih.