SuaraJawaTengah.id - Wilayah Tambakrejo, Kota Semarang terdapat satu daerah yang hilang. Daerah tersebut hanya menyisakan bangunan mati dan makam hingga warga menyebutnya tanah yang hilang.
Sekitar 50 meter sebelum bibir makam, terlihat banyak tiang-tiang bambu yang tertancap. Tiang bambu tersebut menjadi penanda talud pencegah abrasi yang dahulu dibuat untuk menghalangi air laut masuk ke permukiman warga.
Pembuatan talud dilakukan lebih dari sekali. Namun karena kondisi air laut yang terus naik dan dibarengi dengan penurunan tanah, membuat talud tersebut hancur menyisakan bangunan kosong dan puluhan makam.
“Beberapa nisan, baik terbuat dari semen batu maupun dari kayu, terlihat sudah dicabut. Ada juga yang dipinggirkan di daratan,” kata warga Tambakrejo, Sabar kepada SuaraJawaTengah.id, Selasa (2/2/2021).
Sabar juga mempunyai empat saudara yang masih dibiarkan di makam tersebut. Meski tak tega, Sabar terpaksa membiarkannya karena tak sanggup membayar biaya pemindahan makam.
Untuk memindahkan jenazah di makam Tambakrejo tak seperti di makam pada umumnya. Terkadang jenazah bisa bergeser ke makam sebelah bahkan hilang karena terseret ombak ke tengah laut.
"Saat mencari ikan, Saya juga pernah menemukan tengkorak di permukaan makam tersebut. Saya sampai terngiang-ngiang karena terus terbayang-bayang," ujarnya.
Langkah pencegahan, dengan menanam mangrove sebenarnya sudah pernah diupayakan. Sayangnya, kesadaran tersebut datang ketika laut sudah mulai menenggelamkan bibir laut Tambakrejo.
"Sebenarnya, lokasi itu sudah ditanami mangrove, baik oleh warga maupun para aktivis lingkungan. Tapi itu terjadi setelah abrasi parah menerjang. Laju abrasi lebih cepat dari pertumbuhan mangrove," katanya.
Baca Juga: Antisipasi Hujan Abu Merapi, Candi Asu dan Candi Pendem Ditutup Plastik
Sabar menambahkan, mulai tahun 2014 TPU tersebut sudah tidak dipergunakan sebagai tempat pemakaman mengingat kondisi air laut yang semakin meninggi.
"Kalau pas rob di sini tenggelam semua. Tak ada yang kelihatan nisannya," ujar dia.
Jika warga yang akan berziarah harus menggunakan perahu kecil untuk mencapai lokasi makam. Sebagian warga ada yang sengaja menancapkan bilah bambu sebagai penanda makam sanak saudaranya.
Dengan demikian saat rob muncul tidak sulit mencari makam untuk diziarahi.
"Tancapkan bilah bambu yang diberi nama. Gunanya kalau saat ziarah bersamaan dengan rob. Tanda makamnya ya bilah bambu itu. Tapi kadang bilah bambunya hilang kalau nggak kuat diterjang ombak," katanya.
Jika dilihat, bekas sisa-sisa kehidupan di tempat tersebut masih ada, seperti bangunan pom pertamina dan Tempat Penampungan Ikan (TPI) juga masih terlihat atapnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- Urutan Skincare Wardah Pagi dan Malam untuk Wajah Bercahaya
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Kiai Cabul Pati Buron ke Luar Jateng, Polda Turunkan Tim Jatanras Buru Pelaku!
-
Kiai Cabul Ashari Menghilang, Polisi Terus Buru Pelaku Pelecehan Seksual Ndholo Kusumo
-
Novita Wijayanti Datangi Gudang Bulog Cilacap, Kawal Harga Gabah Petani dan Stok Beras
-
5 Fakta Menyeramkan Kasus Kiai Cabul Pati, hingga Saksi Mundur Ketakutan
-
Terkuak! Fakta-fakta Mengerikan di Balik Ponpes Pati, Doktrin Kiai Cabul Halalkan Istri Orang