SuaraJawaTengah.id - Wacana impor beras dari pemerintah pusat membuat para petani kebingungan. Sebab, harga gabah langsung anjlok.
Petani pun siap-siap menanggung kerugian akibat wacana impor beras. Kebijakan itu memberikan sentimen negatif terhadap harga jual gabah di pasaran
"Gara-gara muncul wacana impor beras, banyak penebas padi yang memanfaatkan momen tersebut dengan menawar gabah petani dengan harga di bawah rata-rata harga jual di pasaran dengan pertimbangan khawatir terjadi impor beras," kata Ketua KTNA Kabupaten Kudus Hadi Sucahyono dilansir dari ANTARA di Kudus, Minggu (4/4/2021).
Alasan penebas, kata dia, memang masuk akal karena beras yang dibeli ketika tidak bisa langsung terjual habis, kebetulan muncul beras impor di pasaran tentunya harga jualnya juga akan turun sehingga bisa merugikan. Akibatnya, petani yang sangat dirugikan karena tidak bisa mendapatkan keuntungan, sedangkan pedagang masih bisa tetap untung.
Harga jual gabah kering panen di pasaran, kata dia, berkisar Rp3.300 per kilogram, sedangkan normalnya bisa mencapai Rp4.500 hingga Rp4.600/kg.
Menurut dia dengan harga jual gabah sebesar Rp3.300 petani memang belum untung, karena bisa disebut hanya balik modal mengingat biaya produksi per hektare berkisar Rp8 juta, belum termasuk biaya sewa bagi petani yang lahannya menyewa.
"Jika dihitung secara matematis, memang ada selisih biaya dari penjualan dalam 1 hektare tanaman padi bisa mendapatkan uang hingga Rp19,8 juta. Akan tetapi, biaya produksi selama empat bulan tersebut belum termasuk biaya tenaga petani sendiri yang mengolah lahan," ujarnya.
Idealnya, kata dia, harga jual gabah yang bisa menguntungkan petani berkisar Rp4.000 hingga Rp4.600/kg. Untuk itulah, wacana impor beras di saat musim panen perlu dihindari agar tidak menimbulkan sentimen negatif karena petani yang dirugikan.
Untuk saat ini, katanya, petani mulai tertarik menanam padi khusus, seperti ketan, beras organik maupun beras merah yang tidak begitu terpengaruh secara signifikan dengan wacana impor beras, sebagai salah satu upaya meningkatkan kesejahteraan petani.
Baca Juga: Tolak Rencana Impor Beras, Mahasiswa Banyuwangi Demo di Depan Gedung DPRD
Kasi Fasilitasi Perdagangan Dinas Perdagangan Kudus Teddy Hermawan menambahkan wacana beras impor memang memberikan sentimen negatif terhadap harga jual gabah karena penebas juga bisa mempermainkan harga jual di pasaran dengan alasan akan ada beras impor.
Padahal, kata dia, harga jual beras di pasaran cenderung stabil, sedangkan harga gabah justru cenderung turun saat musim panen pertama ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- 50 Orang Berambut Cepak 'Serbu' Polda Metro Jaya: 'Mau Ambil Saksi Kasus Jampidsus'
- Jampidsus Febrie Adriansyah Tengah Disorot Publik, Keberadaannya Masih Misterius
- Surat Edaran Rahasia Kejagung Bocor, Jaksa Diminta Waspada dan Dilarang Berkomentar soal Perkara
- Bedak Apa yang Bisa Menghilangkan Flek Hitam? Ini 5 Pilihan Terbaik sesuai Review dan Harga
- 4 Toko Online Terpercaya untuk Beli Sepatu Lari di Indonesia, Dijamin Original
Pilihan
-
Jadi Tersangka Bareng Eks Jampidsus Febrie, Don Ritto Sudah Ditahan di Rutan Polda Metro Jaya
-
Polri Tetapkan Febrie Adriansyah dan DR Tersangka Kasus Dugaan Korupsi serta TPPU
-
Jampdisus Febrie Adriansyah Akhirnya Mundur
-
Tangan Terborgol, Mulut Bungkam: Raut Wajah Bupati Sukoharjo Pakai Rompi Oranye KPK Tengah Malam
-
Ironi Hukum: Menuju Indonesia Emas, Ternyata Emasnya Ada di Rumah Febrie!
Terkini
-
Jangan Lewatkan Hari Pertama, Pemprov Jateng Minta Ayah Antar Langsung Anak ke Sekolah
-
KPK Tetapkan Bupati Sukoharjo Tersangka Pemerasan, Pemprov Jateng Belum Tunjuk Plt
-
Yoyok Sukawi Pastikan PSIS Semarang Bebas dari Larangan Transfer FIFA
-
Wakil Ketua DPRD Jateng Dorong Pendampingan Desa Wisata agar Naik Kelas
-
Sisi Kelam Embun Es Dieng: Saat Wisatawan Berfoto, Petani Menanggung Rugi Miliaran Rupiah