SuaraJawaTengah.id - Tradisi Syawalan di Kota Semarang sempat ramai diperbincangkan di media sosial karena terdapat ketupat unik di Kota Semarang yang diberi nama ketupat jembut.
Dalam akun instagram @infokejadiansemarang menyebut jika tradisi membagikan ketupat jembut merupakan budaya khas yang ada di Pedurungan, Kota Semarang.
Dalam video yang diposting akun tersebut terlihat ratusan anak berlarian sembari membawa plastik yang berisi ketupat jembut.
Postingan tersebut kini sudah dikomentari ratusan orang. Bahkan sebagian netizen yang mengaku warga Semarang mengaku belum mengetahui jika Kota Semarang mempunyai tradisi menyebarkan ketupat jembut.
"Kok aku wong Semarang awet cilik sampe gede kok nembe reti kupat jembut ya," tulis akun @ekhatox dalam kolom komentar, Kamis (20/5/2021).
Namun, tradisi ketupat jembut terancam akan hilang lantaran belum ada generasi penerus yang bisa membuat ketupat jembut. Juwarti (72) merupakan generasi terakhir sekaligus satu-satunya orang yang bisa membuat ketupat jembut di Pedurungan Tengah.
"Di sini yang bisa buat hanya saya," kata Juwarti saat ditemui di rumahnya.
Sampai saat ini belum ada generasi penerus yang dapat meneruskan keahliannya membuat ketupat jembut. Bahkan anak dan cucunya belum ada yang berminat meneruskan keahlian tersebut.
"Saya juga bingung, tak ada generasi penerus," ujarnya.
Baca Juga: Musim Pancaroba di Kota Semarang Diprediksi akan Terjadi Akhir Mei Ini
Dia masih ingat betul jika dengan pesan orang tua terdahulu yang berpesan untuk tak meninggalkan tradisi tersebut. Menurutnya, ketupat jembut tak hanya makanan namun juka tradisi yang mempunyai makna mendalam.
"Artinya itu perjuangan siap saling memaafkan dan juga saturahmi. Itulah arti yang ada di ketupat jembut dngan harapan warga Pedurungan bisa sehat dan aman semua," imbuhnya.
Untuk perayaan tahun ini, dia hanya membuat 80 ketupat jembut. Hal itu disebabkan karena dia sudah tak sanggup untuk memproduksi dengan jumlah yang lebih banyak lagi.
"Sekarang badannya sudah tak kuat buat banyak-banyak," paparnya.
Ketua RW 1 Pedurungan Tengah, Wasihi Darono mengatakan, bahwa tradisi bagi ketupat ini sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu. Warga sekitar tak banyak yang tau arti dibalik tradisi weh-wehan ketupat jembut itu.
"Hanya sedikit yang tau, katanya simbol perjuangan," jelasnya saat ditemui di rumahnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- 5 Sabun Mandi Vitamin C Terbaik untuk Mencerahkan Kulit Belang, Lengkap dengan Review Pengguna
- Daftar Shio yang Paling Tidak Cocok dengan Shio Macan dalam Bisnis dan Asmara
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Gubernur Sulsel Telepon Langsung Pemilik SPBU
Pilihan
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
-
Drone Thermal Dikerahkan, SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Perairan Anak Krakatau
Terkini
-
Holding UMi Genap 5 Tahun, BRI Perluas Ekosistem Keuangan untuk Masyarakat
-
Kafilah Maluku Utara Terkesan, Ungkap Sisi Lain Keramahan Warga Jateng di MTQ Nasional 2026
-
Bubur Cirebon Go International, Kisah Tati Purwanti Bangun Usaha di Taipei
-
Kembalinya MTQ Nasional ke Jateng Setelah 47 Tahun, Pawai Ta'aruf di Semarang Langsung Diserbu Warga
-
Bukan Cuma untuk Umat Islam, MTQ Nasional di Semarang Jadi Pesta Rakyat Lintas Agama