SuaraJawaTengah.id - Uang tunai ‘tidak laku’ di Pasar Pereng Kali, Desa Grenggeng, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Kebumen. Destinasi wisata ini menawarkan suasana pasar tradisional tempo dulu.
Pengelola Pasar Pereng Kali menggunakan alat transaksi berupa kepeng yang terbuat dari kepingan anyaman daun pandan. Pengunjung pasar terlebih dahulu menukar uang tunai dengan kepeng agar dapat digunakan berbelanja di pasar ini.
“Tujuan dibukanya Pasar Pereng Kali ini adalah pemberdayaan pemuda. Kami melihat pasar wisata menjadi potensi di Dukuh Pancasan, Desa Grenggeng,” kata Ketua Karang Taruna Desa Grenggeng, Taufik, Sabtu (6/6/2021).
Menurut Taufik, Pasar Pereng Kali dibuka pada akhir tahun 2018 lalu. Namun ditutup karena pandemi sekitar Maret 2020 dan hingga kini dibuka kembali.
“Pedagang mengeluhkan turunnya penghasilan akibat ditutupnya pasar ini. Sekarang dibuka kembali dengan hari pasaran sama seperti kemarin setiap selapanan (35 hari penanggalan Jawa), Sabtu Pahing,” ujar Taufik.
Selain unik karena tidak menggunakan uang tunai dalam transaksi, Pasar Pereng Kali menawarkan jajanan tradisional yang mulai jarang ditemui di pasar seperti centhil, ciwel, soto bathok, dan serabi.
Sambil menyantap jajanan tradisional, pengunjung dapat menikmati suasana pasar yang asri di bawah rimbunan rumpun bambu. Gemericik sungai di dekat pasar, menambah syahdu suasana.
Taufik mengakui sebelum membuka Pasar Pereng Kali, Karang Taruna Desa Grenggeng sempat berkunjung ke Pasar Papringan di Kabupaten Temanggung. Yang membedakan Pasar Pereng Kali dengan Pasar Papringan, adanya kerajinan anyaman daun pandan sebagai produk unggulan Desa Grenggeng.
“Dibukanya Pasar Pereng Kali jilid 2 menjadi tonggak awal untuk event-event yang ada di Grenggeng dengan protokol kesehatan yang ketat. Harapan kami sebagai pemuda, dapat membangkitkan ekonomi desa di tengah pandemi,” ujar Taufik.
Baca Juga: Fakta Pilu Terkuak dari Tragedi Petasan Maut Kebumen, Apa Itu?
Pembukaan Pasar Pereng Kali berlangsung 5-6 Juni 2021. Acara pembukaan dimeriahkan pertunjukan band lokal seperti Floyd, Susah Tidur, serta kesenian tradisional Gending Bodho dan kuda lumping.
Kontributor : Angga Haksoro Ardi
Berita Terkait
Terpopuler
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- 6 Tanda-Tanda Rumah Memiliki Energi Positif Chi yang Membuat Penghuni Tenang
- 5 Sunscreen untuk Flek Hitam Usia 30 Tahun ke Atas Sesuai Review dan Harga
- Media Italia Sebut Jay Idzes Masuk Radar PSG: Transfer Mewah untuk Sassuolo
Pilihan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
Terkini
-
Bupati Brebes Temui Siswa Sespimmen Polri, Bahas Persoalan Pupuk Subsidi
-
Produksi Melimpah Harga Jatuh, Wakil Ketua DPRD Jateng Soroti Nasib Petani Garam
-
Pemprov Jateng Uji Bata Interlock, Bangun Rumah Lebih Cepat dan Hemat
-
Sejarah Baru! 21 Ponpes Eks-Jamaah Islamiyah Siap Gelar Upacara HUT RI ke-81
-
BBWS Bengawan Solo Perkuat Distribusi Air Bersih Bagi Wilayah Terdampak Kekeringan