Budi Arista Romadhoni
Rabu, 07 Juli 2021 | 20:00 WIB
Ilustrasi Sejumlah warga mengantre untuk mengisi ulang tabung oksigen di salah satu depot pengisian oksigen di kawasan Manggarai, Jakarta, Senin (28/6/2021). Meningkatnya Kasus COVID-19 membuat masyarkat panik, hingga terjadi kelangkaan oksigen dan obat-obatan. [Suara.com/Angga Budhiyanto]

Kemudian, bila merasa tidak nyaman hingga membuat Anda cemas dan panik dengan pemberitaan yang ada di televisi atau media lainnya, sebaiknya berhenti dulu mengaksesnya. 

Sebisa mungkin, kendalikan diri dalam menerima informasi yang masuk. Menurut Tala, di kondisi saat ini, informasi yang datang bisa sangat banyak baik itu valid atau justru hoaks.  

"Kita tidak bisa berharap orang lain akan terus mengingatkan, tetapi kita harus sadar bahwa sudah mulai capek dengan pemberitaan ini, membuat tidak nyaman dan jadinya cemas. Mundur dulu, istirahat dulu, ganti dulu tayangan media yang biasa kita lihat supaya kita bisa lebih rileks," tutur dia. 

Kalau pun Anda  sudah terlanjur mengalami panic buying, mungkin saja bisa tersadar. Biasanya, saat Anda melihat barang-barang yang dibeli  tidak terpakai muncul pikiran, 'ngapain beli sampai diborong semua'. 

Ketika sudah sadar, di sanalah peran orang terdekat untuk membantu mengingatkan Anda tak perlu memborong, membeli produk yang sebetulnya tak diperlukan. 

"Kalaupun mau preventif, tidak perlu sampai harus memborong, cukup beli sesuai kebutuhan," demikian pesan Tala. 

Hal senada diungkapkan psikolog yang berfokus pada masalah kecemasan dan isu terkait di Macquarie University, Melissa Norberg. Dia yang pernah melakukan penelitian mengenai panic buying di Australia, salah satunya pada produk tisu toilet menyarankan orang-orang memikirkan sejenak barang-barang apa yang benar-benar dibutuhkan sebelum membelinya. 

Berpegang teguhlah pada daftar belanjaan Anda dan ingatkan diri tentang apa yang Anda punya di rumah dapat membantu mengurangi dorongan untuk memborong suatu produk atas alasan berjaga-jaga. 

Menimbun barang misalnya tisu toilet tidak berarti Anda akan merasa lebih baik.

Baca Juga: PT IMIP Berikan Bantuan 500 Ton Oksigen untuk Medis kepada Pemerintah

"Jika Anda melihat orang lain melakukannya dan rak kosong, tetap berpegang pada daftar apa yang Anda butuhkan dan ingatkan diri Anda bahwa Anda bisa melewatinya," ujar dia seperti dikutip dari ABC News, Rabu. 

Menurut Norberg, mereka yang paling mungkin panic buying sudah memiliki kecemasan tentang kesehatan pribadi mereka, menganggap produk tertentu akan langka serta melihat orang lain panic buying.

Dosen psikologi dari University of the Sunshine Coast, Jacob Keech dan rekannya, Karina Rune juga mempelajari fenomena panic buying. Mereka juga menemukan, ketakutan kekurangan produk menjadi sebagian alasan sebagian orang mengantre di toko-toko seperti Coles and Woolworths di Australia setelah lockdown diumumkan.

Load More