Kemudian, bila merasa tidak nyaman hingga membuat Anda cemas dan panik dengan pemberitaan yang ada di televisi atau media lainnya, sebaiknya berhenti dulu mengaksesnya.
Sebisa mungkin, kendalikan diri dalam menerima informasi yang masuk. Menurut Tala, di kondisi saat ini, informasi yang datang bisa sangat banyak baik itu valid atau justru hoaks.
"Kita tidak bisa berharap orang lain akan terus mengingatkan, tetapi kita harus sadar bahwa sudah mulai capek dengan pemberitaan ini, membuat tidak nyaman dan jadinya cemas. Mundur dulu, istirahat dulu, ganti dulu tayangan media yang biasa kita lihat supaya kita bisa lebih rileks," tutur dia.
Kalau pun Anda sudah terlanjur mengalami panic buying, mungkin saja bisa tersadar. Biasanya, saat Anda melihat barang-barang yang dibeli tidak terpakai muncul pikiran, 'ngapain beli sampai diborong semua'.
Ketika sudah sadar, di sanalah peran orang terdekat untuk membantu mengingatkan Anda tak perlu memborong, membeli produk yang sebetulnya tak diperlukan.
"Kalaupun mau preventif, tidak perlu sampai harus memborong, cukup beli sesuai kebutuhan," demikian pesan Tala.
Hal senada diungkapkan psikolog yang berfokus pada masalah kecemasan dan isu terkait di Macquarie University, Melissa Norberg. Dia yang pernah melakukan penelitian mengenai panic buying di Australia, salah satunya pada produk tisu toilet menyarankan orang-orang memikirkan sejenak barang-barang apa yang benar-benar dibutuhkan sebelum membelinya.
Berpegang teguhlah pada daftar belanjaan Anda dan ingatkan diri tentang apa yang Anda punya di rumah dapat membantu mengurangi dorongan untuk memborong suatu produk atas alasan berjaga-jaga.
Menimbun barang misalnya tisu toilet tidak berarti Anda akan merasa lebih baik.
Baca Juga: PT IMIP Berikan Bantuan 500 Ton Oksigen untuk Medis kepada Pemerintah
"Jika Anda melihat orang lain melakukannya dan rak kosong, tetap berpegang pada daftar apa yang Anda butuhkan dan ingatkan diri Anda bahwa Anda bisa melewatinya," ujar dia seperti dikutip dari ABC News, Rabu.
Menurut Norberg, mereka yang paling mungkin panic buying sudah memiliki kecemasan tentang kesehatan pribadi mereka, menganggap produk tertentu akan langka serta melihat orang lain panic buying.
Dosen psikologi dari University of the Sunshine Coast, Jacob Keech dan rekannya, Karina Rune juga mempelajari fenomena panic buying. Mereka juga menemukan, ketakutan kekurangan produk menjadi sebagian alasan sebagian orang mengantre di toko-toko seperti Coles and Woolworths di Australia setelah lockdown diumumkan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Total Dana Korban Penipuan Tembus Rp811,1 Miliar, Sebanyak 702.833 Rekening Diblokir
- Media Inggris: FIFA ASEAN Cup Akal-akalan Infantino Pertahankan Posisi, Prabowo Kena Prank
- Arti Mimpi Ketemu Orang yang Sudah Meninggal tapi Tidak Bicara Menurut Primbon Jawa
- Aliran Minyak di Selat Hormuz Sudah Normal, Mengapa Harga BBM Masih Mahal?
- Selamat Tinggal Kevin Diks, Cabut Lebih Cepat dari Skuad Timnas Indonesia Usai Juara
Pilihan
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
-
PDI Perjuangan: Gibran Lebih Baik Mundur dari Wapres
-
Satgas PKH Pamer Tumpukan Duit Rp13 Triliun Hasil Penyelamataan Keuangan Negara di Hadapan Prabowo
-
Nama Puan Disebut Jadi Pengganti Gibran, Begini Respons Ketua DPR
Terkini
-
Berawal dari 5,76 Gram Sabu, Polisi Bongkar Simpanan 81,86 Gram di Kos Kendal
-
Kairul Anwar Terpilih Aklamasi Jadi Ketua PSSI Jawa Tengah 2026-2030
-
Sebelum Proyek Giant Sea Wall Dimulai, Pemerintah Bersiap Tanam Mangrove Massal di Demak
-
Java United Butuh Dukungan di Jatidiri, Tiket Lawan Borneo FC Dipangkas Jadi Rp27 Ribu
-
Buntut Viral Video Penyalahgunaaan Narkoba, 125 Narapidana Rutan Depok Dipindah ke Nusakambangan