Scroll untuk membaca artikel
Ronald Seger Prabowo
Minggu, 13 Agustus 2023 | 11:49 WIB
Penampakkan makam yang diduga pejuang yang tewas ditembak mati Tentara Jepang dalam Pertempuran Lima Hari di Semarang. Sabtu (12/8) [Suara.com/Ikhsan]

Muhaimin pun tidak mempersalahkan soal perbedaan tersebut. Namun cerita dari mulut ke mulut warga kauman sesuai dengan apa yang diceritakan pamannya.

Kebetulan paman Muhaimin seorang polisi yang saat Pertempuran Lima Hari di Semarang rentan waktu 15-19 Oktober 1945, pamannya ditugaskan menjaga wilayah Kauman dan sekitarnya.

"Kalau ada rujukannya makam itu mbah siapa ya monggo. Yang pasti rujukan saya dari pakde. Bisa dibilang cukup masuk akal karena alun-alun dengan lokasi pertempuran tidak terlalu jauh," paparnya.

Diakui Muhaimin memang kurang populer. Tidak banyak peziarah yang datang ke sana. Bahkan orang-orang kauman sendiri jarang ada yang berziarah ke makam tersebut.

Baca Juga: Kisah Menyayat Hati Jugun Ianfu, Ketika Wanita Pribumi Dipaksa Layani Hasrat Seksual Tentara Jepang di Semarang

"Saya juga tidak paham, coba tanya orang-orang kauman sini pernah ziarah ke makam itu nggak? Jawabannya pasti nggak pernah. Taunya makam itu seorang pejuang," tukasnya.

Kontributor: Ikhsan

Load More