Scroll untuk membaca artikel
Budi Arista Romadhoni
Minggu, 28 April 2024 | 19:36 WIB
Subiantoro membersihkan altar doa Gua Maria Grabag. (Suara.com/ Angga Haksoro).

“Tapi saat itu umat di Grabag tidak bisa langsung merespon. Tidak bisa langsung membuat Gua Maria. Umat di sini sedikit. Sumber daya kami kurang.”

Kebetulan Yulius Hartono (75 tahun), salah seorang jemaat gereja berasal dari Gamping, Sleman, Yogyakarta. Di sekitar kampungnya banyak terdapat batu-batu putih yang tidak ditemui di Grabag.

“Beliau mengumpulkan batu-batu itu terus dibawa kesini. Dibuatlah Gua Maria itu. Dari dulu kami sudah berpikiran bahwa Gua Maria ini untuk masyarakat luas. Pokoknya umat disini sekadar bikin.”  

Gua Maria yang selesai dibangun tahun 2002 sangat sederhana. Berada di area terbuka seluas 18 meter persegi, di belakang bangunan kapel.

Baca Juga: Jadwal Imsakiyah Magelang dan Sekitarnya Jumat 15 Maret 2024, Disertai Bacaan Niat Puasa Ramadan

Baru sekitar tahun 2016, area berdoa Gua Maria diperluas. Ruangan pasturan di sisi kanan kapel dipugar menjadi altar doa.

Posisi patung Bunda Maria dinaikan agar sejajar dengan tinggi altar. Pembangunan menggunakan dana donasi dari para peziarah yang datang.

Doa Permohonan

Pengurus Kapel Santo Yusup Grabag sangat terbuka menerima para peziarah. Tidak hanya untuk umat Katolik, Gua Maria sering didatangi umat agama lain untuk berdoa.

“Kami rasakan sampai saat ini, orang yang datang kesini itu nyaman. Betah. Itu kesaksian para peziarah. Jadi kalau datang kesini nggak ingin buru-buru pulang.”

Baca Juga: Jadwal Imsakiyah Magelang dan Sekitarnya Kamis 14 Maret 2024, Disertai Bacaan Niat Puasa Ramadan

Subiantoro mengumpulkan sejumlah pengalaman spiritual yang diceritakan para peziarah. Dari menyaksikan penampakan Bunda Maria, hingga terkabulnya doa yang dipanjatkan.

Load More