Scroll untuk membaca artikel
Budi Arista Romadhoni
Minggu, 28 April 2024 | 19:36 WIB
Subiantoro membersihkan altar doa Gua Maria Grabag. (Suara.com/ Angga Haksoro).

“Awal-awal dulu kalau kami berdoa seolah-olah itu banyak sekali yang datang kesini. Ikut berdoa. Kami merasakan itu. Pas kami berdoa seperti ada suara mobil yang masuk. Tapi setelah kami tengok nggak ada.”

Baru-baru Gua Maria selesai dibangun, hampir tiap malam jemaat Kapel Santo Yusup berdoa bersama. Biasanya doa dimulai setelah lewat pukul 12 malam. 

Lampu-lampu kapel dimatikan. Penerngan hanya menggunakan cahaya lilin. Dalam kondisi gelap, berdoa biasanya lebih tenang dan khusyuk.

Karena jemaat sedikit, Subiantoro hafal suara siapa-siapa saja yang hadir. Anehnya dia sering mendengar suara asing yang ikut berdoa.    

Baca Juga: Jadwal Imsakiyah Magelang dan Sekitarnya Jumat 15 Maret 2024, Disertai Bacaan Niat Puasa Ramadan

“Tapi kok suka ada suara lain yang ikut berdoa. Misal tidak ada anak-anak, tapi ada suara anak. Itu kan berarti banyak sekali sosok arwah yang datang kesini.”

Melalui bimbingan salah seorang peziarah asal Bedono, Kabupaten Semarang, jemaat kapel dianjurkan menggelar doa arwah. Mereka merapal 1.000 doa Salam Maria atau sebanyak 20 kali putaran Rosario.

“Setelah kami doakan para arwah itu, banyak sekali yang istilahnya mendapatkan pengampunan. Seolah (arwah) yang datang kesini itu sudah berubah. Dulu itu suasananya beda. Tidak sembarangan orang berani (berdoa) disini,” kata Subiantoro.

Suasana sunyi di Gua Maria menghadirkan perasaan tentram. Hiruk pikuk kendaraan yang melintas Jalan Grabag-Cokro, hanya sayup terdengar hingga altar doa.

Meski atap altar di dekat Gua Maria menggunakan bahan galvalum, cuaca Grabag yang panas siang itu tidak begitu terasa.

Baca Juga: Jadwal Imsakiyah Magelang dan Sekitarnya Kamis 14 Maret 2024, Disertai Bacaan Niat Puasa Ramadan

Lintas Agama

Load More