Para biksu yang sebagian besar warga Thailand mendoakan warga dengan cara Buddha. Video biksu thudong yang berdoa di pelataran Masjid Baiturrohmah sempat viral di media sosial.
"Kalau orang yang tidak tahu, dikiranya (para biksu) beribadah. Yang salah persepsi kan itu. Orang yang tidak ngerti, mengiranya masjid untuk tempat ibadah orang Buddha. Itu yang orang keliru," kata Fatkhulrohman.
Sebagai tuan rumah yang baik, warga Bengkal balik mendoakan para biksu agar selamat di perjalanan. Doa dipimpin oleh salah seorang sesepuh Desa Bengkal.
"Kalau yang pro kontra ya teko luweh to (kalau yang pro dan kontra ya dibiarkan saja). Kami niatnya menjamu tamu. Niatnya bukan terus mempersilakan beribadah. Terus mereka (para biksu) juga nggak gimana-gimana kok."
Menurut Fatkhulrohman, warga muslim Desa Bengkal bermaksud menunjukkan wajah Islam yang damai kepada para biksu. Terlebih kebanyakan biksu adalah warga luar negeri yang mungkin belum mengenal ajaran Islam yang ramah.
"Kami ingin menunjukkan Islam itu ya seperti ini. Rahmatan lil alamin. Tidak seperti yang dibayangkan orang. Apalagi (para biksu) dari luar negeri. Masak di sini mau istirahat saja disepelekan? Semampu kami (menyambut tamu). Semaksimal mungkin cara kami menerima tamu."
Sambutan hangat warga kepada para biksu thudong tidak berhenti sampai di Bengkal. Hingga tiba di Candi Borobudur para biksu terus mendapat kawalan personel Bantuan Ansor Serbaguna (Banser).
Sejak rombongan biksu thudong masuk wilayah Magelang, secara estafet personel Banser mengawal biksu di tiap kecamatan yang dilintasi. Puluhan personel dikerahkan untuk melakukan pengawalan.
"Kami mengawal dari Gerbang Kalpataru di pertigaan Blondo, Mungkid. Sekitar 17 kilometer hingga tiba di Candi Borobudur," kata Kepala Sekretariat Markas (Kasetma) Banser Kecamatan Mungkid, April.
Baca Juga: Waisak 2024: Candi Borobudur Siap Jadi Tempat Ritual Keagamaan
Sebelumnya panitia Walubi meminta dukungan pengawalan kepada Satkorcab Banser Kabupaten Magelang. Mereka diminta mengawal para biksu dari perbatasan Temanggung ke Magelang.
"Kami senang sekali karena merasa dibutuhkan. Bisa membantu sesama, juga masih diperlukan oleh orang lain. Meskipun berbeda agama. Kami untuk relawan itu saling menghormati umat beragama."
Ritual Mengembara Biksu Thudong
Pemimpin rombongan biksu thudong, Bhante Kamsai Sumano Mahathera menyebut selama perjalanan 60 kilometer dari Vihara Buddha Dipa di Semarang, hingga tiba di Candi Borobudur mereka tidak pernah merasa kesepian.
Di sepanjang jalan warga masyarakat menyambut hangat kedatangan para biksu thudong. Mereka merasakan betul rasa persaudaraan yang ditunjukkan oleh warga.
"Kami itu (merasa) sangat persaudaraan. Menjadi kerukunan seperti keluarga sendiri. Memberikan semangat. Sepanjang jalan sejauh 60 kilometer (kami) tidak pernah kesepian. Kami diundang untuk mampir oleh sekolah, kecamatan," kata Bhante Kamsai.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Mobil Bekas 50 Jutaan dari Suzuki, Ideal untuk Harian karena Fungsional
- Dua Tahun Sepi Pengunjung, Pedagang Kuliner Pilih Hengkang dari Pasar Sentul
- Apakah Habis Pakai Cushion Perlu Pakai Bedak? Ini 5 Rekomendasi Cushion SPF 50
- 5 Rekomendasi HP RAM 8GB Rp1 Juta Terbaik yang Bisa Jadi Andalan di 2026
- 34 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 20 Januari: Sikat TOTY 115-117 dan 20.000 Gems
Pilihan
-
Rebut Hadiah Berlimpah! Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel Jadi Penggerak Potensi Daerah
-
ASEAN Para Games 2025: Nurfendi Persembahkan Emas Pertama untuk Indonesia
-
Perbedaan Jaring-jaring Kubus dan Balok, Lengkap dengan Gambar
-
Rupiah Loyo, Modal Asing Kabur Rp 27 Triliun Sejak Awal Tahun
-
Izin Tambang Emas Martabe Dicabut, Agincourt Resources Belum Terima Surat Resmi dari Pemerintah
Terkini
-
Apel Siaga Bulan K3 Nasional, Semen Gresik Tegaskan K3 sebagai Budaya dan Prioritas Utama
-
Warga Pati Berpesta: Kembang Api Sambut Tumbangnya Bupati Sudewo
-
7 Fakta Mengejutkan Kasus Korupsi Bupati Pati: Dari Jual Beli Jabatan hingga Suap Proyek Kereta Api
-
Pantura Jateng Siaga Banjir dan Longsor! BMKG Keluarkan Peringatan Dini Hujan Lebat Ekstrem
-
3 MPV Bekas Rp50 Jutaan Tahun 2005 ke Atas: Mewah, Nyaman, dan Kini Gampang Dirawat!