Scroll untuk membaca artikel
Budi Arista Romadhoni
Sabtu, 01 Juni 2024 | 19:26 WIB
Tapa mutih penghayat kepercayaan memperingati Hari Lahir Pancasila di kompleks candi Sengi, Magelang, Jumat (31/5) malam. (MLKI Kabupaten Magelang). 

SuaraJawaTengah.id - Pada lempir lontar Kakawin Sutasoma, pupuh 139 bait 5, Mpu Tantular mengguratkan pepaling. Pesan yang kemudian menjadi pondasi kesatuan bangsa Indonesia.

Sebagai penganut Buddha Tantrayana, Mpu Tantular terkesan dengan pemerintahan Majapahit. Kerajaan penganut Hindu Siwa, mampu mengayomi seluruh rakyatnya yang berbeda keyakinan.    

Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa

Bhineki rakwa ring apan kena parwanosen

Baca Juga: Lingsir Suryo dan Pertapaan Hyang Agung: Selamat dari Ancaman Gaib Lewat Tapa Manembah Yang Maha Kuasa

Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal

Bhineka tunggal ika tan hana dharma mangrwa

Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda

Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali?

Sebab kebenaran jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal

Baca Juga: Sejarah Panjang Majalah Magelang Vooruit, Strategi Para Etis Belanda Mempromosikan Tanah Koloni

Terpecah belahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.

Load More