“Bahwa (dalam) perbedaan yang satu itu, tidak ada dharma atau laku yang mendua. Jadi, baik (Hindu) Siwa maupun Buddha, sama-sama menjalankan dharmanya dalam kehidupan,” ujar Agung.
Ritus Pancasila di Candi Aso
Pemahaman itu yang kembali direnungi oleh para penghayat kepercayaan melalui ritus tapa mutih dan prasawya. Ritual yang digelar sebagai rangkaian memperingati Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2024.
Diterangi nyala oncor, puluhan penghayat kepercayaan khusyuk melakukan ritual berjalan kaki mengelilingi tiga situs suci di kompleks candi Sengi: Pendem, Aso, dan Lumbung.
“Candi itu suci. Pancasila juga suci. Pancasila diadopsi dari naskah-naskah kuno. Kearifan lokal. Kearifan luhur di Nusantara. Termasuk candi-candi ini juga,” kata Presidium MLKI Kabupaten Magelang, KiKis Wantoro.
Warga penghayat kepercayaan meyakini kompleks candi Sengi sebagai pusat permukiman kuno di lereng Gunung Merapi. Peradaban yang kemudian hilang terkubur abu letusan vulkanik.
Ritual prasawya atau jalan mengitari candi ke arah kiri (berlawanan arah jarum jam) dimulai dari Candi Lumbung. Ritual ini memiliki makna manusia kembali pada kematian atau penyucian diri.
Candi Lumbung dipilih sebagai tempat permulaan ritual karena dianggap sebagai candi pertimah. Di candi pertimah warga biasanya menggelar upacara doa sebelum mulai bercocok tanam.
“Terus ke Candi Lumbung. Tempat penyimpanan padi. Candi Lumbung kami meyakini itu candi Dewi Sri. Jadi untuk sembahyang mengucapkan sukur kepada pencipta atas karunia hasil panen.”
Ritual para penghayat kepercayaan kemudian berakhir di Candi Aso. Candi yang diyakini oleh sebagian orang sebagai tempat “istirahat” Maharaja Rakai Kayuwangi.
“Istilah Aso itu kan artinya istirahat. Kalau sekarang ditulis Candi Asu, memang karena yang lebih dikenal nama itu. Tapi kami meyakini bahwa ini Candi Aso atau candi untuk beristirahat.”
Merujuk pada siklus tanam padi oleh masyarakat kuno Merapi, Candi Aso mewakili masa jeda setelah panen. Tanah diistirahatkan sebelum digarap kembali.
Siklus tanam padi yang dijalankan secara arif itu menunjukkan bahwa peradaban kuno Merapi tidak bertujuan mengeksploitasi hasil bumi.
Tanah ditempatkan sebagai sumber daya suci yang harus dijaga kelestarianya. Falsafah luhur ini sesuai dengan budi pekerti dalam Pancasila.
Kenduren Mutih
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Mobil Bekas 50 Jutaan dari Suzuki, Ideal untuk Harian karena Fungsional
- Dua Tahun Sepi Pengunjung, Pedagang Kuliner Pilih Hengkang dari Pasar Sentul
- Apakah Habis Pakai Cushion Perlu Pakai Bedak? Ini 5 Rekomendasi Cushion SPF 50
- 5 Rekomendasi HP RAM 8GB Rp1 Juta Terbaik yang Bisa Jadi Andalan di 2026
- 7 Sepatu Nike Tanpa Tali yang Praktis dan Super Nyaman untuk Lansia
Pilihan
-
ASEAN Para Games 2025: Nurfendi Persembahkan Emas Pertama untuk Indonesia
-
Perbedaan Jaring-jaring Kubus dan Balok, Lengkap dengan Gambar
-
Rupiah Loyo, Modal Asing Kabur Rp 27 Triliun Sejak Awal Tahun
-
Izin Tambang Emas Martabe Dicabut, Agincourt Resources Belum Terima Surat Resmi dari Pemerintah
-
Hashim dan Anak Aguan Mau Caplok Saham UDNG, Bosnya Bilang Begini
Terkini
-
Apel Siaga Bulan K3 Nasional, Semen Gresik Tegaskan K3 sebagai Budaya dan Prioritas Utama
-
Warga Pati Berpesta: Kembang Api Sambut Tumbangnya Bupati Sudewo
-
7 Fakta Mengejutkan Kasus Korupsi Bupati Pati: Dari Jual Beli Jabatan hingga Suap Proyek Kereta Api
-
Pantura Jateng Siaga Banjir dan Longsor! BMKG Keluarkan Peringatan Dini Hujan Lebat Ekstrem
-
3 MPV Bekas Rp50 Jutaan Tahun 2005 ke Atas: Mewah, Nyaman, dan Kini Gampang Dirawat!