Masyarakat Hindu Bali meyakini, semua hal yang memancarkan energi memiliki unsur taksu. Taksu mewakili kekuatan maya dari Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa.
Taksu dapat diartikan sebagai pancaran energi kewibawaan, kecerdasan mental dan spiritual. Karisma yang mengalir dari taksu akan mempengaruhi pola pikir, bahkan tingkah laku orang-orang di sekitarnya.
Penjelasan yang paling mendekati nalar masyarakat awam, taksu adalah ‘ruh’ yang mewakili unsur spiritual dari seluruh hasil karya cipta manusia. Pada rumah-rumah di Bali, taksu berada pada pelinggih atau sanggah yang berfungsi sebagai altar pemujaan dewa.
Sebagai ruh dari rumah, maka taksu harus dipindahkan sementara saat rumah akan dipugar. Ia dikembalikan setelah rumah selesai dibangun. Begitu juga yang terjadi pada proses pemindahan Candi Lumbung.
Taksu mewakili unsur niskala atau hal yang bersifat ruhani dalam kehidupan manusia, melengkapi hal-hal yang bersifat niskala atau badaniah.
Upacara pengembalian taksu Candi Lumbung dipimpin oleh tiga pedanda atau penghulu agama Hindu: Ida Pedanda Gde Dwaju Tembuku, Ida Pedanda Gde Karang Kerta Udiana, dan Ida Pedanda Gde Intaran Kramas.
“Kami akan ngelinggihken kembali taksu (Candi Lumbung). Ruhnya saja. Pisahnya (bangunan candi) secara sekala (badaniah), nanti kami akan menyatukan kembali secara niskala. Secara spritual atau secara ruhani,” kata Ida Pedanda Gde Dwaju Tembuku.
Ida Pedanda Gde Dwaju Tembuku meyakini mengembalikan taksu Candi Lumbung akan memulihkan tujuan spiritual candi saat dulu dibangung oleh Empu Apus.
“Kami harapkan nanti, beliau adalah betul-betul Empu Apus yang bersetanah di sini. Di sinilah letaknya yang paling tepat. Barat laut (Gunung Merapi).”
Baca Juga: Dugaan Pelecehan Seksual di Ponpes Magelang, Adakah Tempat Aman Bagi Para Pencari Tuhan
Menurut Ida Pedanda Gde Dwaju Tembuku, gunung melambangkan lingga dan laut mewakili yoni. Sehingga gunung dapat dijadikan sebagai objek sembahyang umat Hindu.
Objek Pemajuan Kebudayaan
Menurut keyakinan Hindu, posisi Candi Lumbung yang berada di barat laut Gunung Merapi merupakan tempat bersemayamnya Sang Hyang Sangkara.
Menurut kitab Sundarigama, Sang Hyang Widhi Wasa sebagai Sang Hyang Sangkara adalah dewa tumbuh-tumbuhan. Umat Hindu biasanya menggelar upacara Tumpek Wariga untuk menghormati Hyang Sangkara.
“Di sini bersetanah adalah Shang Hyang Sangkara. Itu adalah simbol dari tumbuh-tumbuhan. Jadi di sinilah yang akan menghasilkan oksigen.”
Masyarakat kuno penghuni lereng Merapi biasanya mengadakan ritual di Candi Lumbung sebelum wiwitan panen. Sedikit dari hasil panen dibawa ke candi sebagai persembahan untuk kemudian disimpan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina
- Konser Andrea Bocelli di Borobudur Tetap Digelar, KIBBM Siapkan Tablig Akbar Penolakan
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Legislator Sebut Andrea Bocelli Bantu Perluas Promosi Budaya Indonesia
-
Pemprov Jateng Terus Perkuat Dukungan Pesantren, dari Tali Asih Hafiz hingga Beasiswa Santri
-
Hujan Ekstrem 349 Milimeter Guyur Cilacap, Banjir dan Longsor Terjang Sejumlah Wilayah
-
Warga Dukung Pengusutan Perusakan Warung Mi Babi Sukoharjo, Polda Jateng Jamin Proses Transparan
-
Pekalongan hingga Demak, Ancaman Rob Paksa Warga Pesisir Beradaptasi, Kerugian Capai Ratusan Triliun