“Kalau dari sana (Pusat Pelayanan Pemenuhan Gizi) kemarin mengutarakan (yang penting) anak belajar makan sehat. Jadi menunya sudah sesuai kebutuhan (gizi).”
Memastikan apakah sajian makan gratis sudah sesuai kebutuhan gizi masing-masing anak, tentu butuh kajian lebih lanjut. Termasuk menakar apakah menu sudah sesuai dengan kebutuhan asupan gizi untuk semua tingkatan usia anak.
Sebab menu dan porsi makan yang diberikan kepada siswa sekolah dasar, sama dengan makanan yang diberikan kepada siswa menengah atas. Selain ke SD 1 Banyurojo, makan bergizi gratis juga diberikan untuk siswa MTs Negeri 2 dan SMK Ma’arif Kota Magelang.
Acuan kebutuhan makanan, selama ini manut pada tabel angka kecukupan gizi yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan RI. Besarnya asupan karbohidrat, lemak, dan serat untuk menghasilkan kalori diukur berdasarkan berat, tinggi badan, dan jenis kelamin.
Laki-laki kelompok usia 16-18 tahun misalnya, membutuhkan asupan kalori, lemak, dan serat yang lebih banyak dibanding anak lelaki usia 7-9 tahun.
“Jika dihitung sesuai besarnya (kebutuhan gizi berdasarkan bobot dan usia anak), saya lihat porsinya sama. Jadi (tujuannya) tidak memenuhi kebutuhan gizi full. Intinya mengenalkan contoh makanan sehat yang tidak harus banyak dan tidak harus mahal.”
Program ini menurut Pantja Riani, juga mengajarkan pembiasaan baik untuk anak-anak. Anak belajar disiplin dan tanggung jawab menerima makanan dan menjaga kebersihan.
Soal penyediaan susu dalam porsi makan bergizi gratis, menurut Pantja Riani bukan menu wajib. Kandungan protein dan lemak dalam susu bisa digantikan oleh makanan lain.
“Susu itu kan harganya mahal. Mungkin untuk warga menengah kebawah jarang sekali terjangkau. Yang penting makanannya sudah memenuhi gizi.”
Baca Juga: Pemprov Jateng Alokasikan Rp67,13 Miliar untuk Program Makan Bergizi Gratis
Bantuan makan bergizi kata Pantja Riani, sangat membantu siswanya yang kebanyakan berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah. Mereka tidak sarapan sebelum berangkat sekolah.
Meski ada orang tua yang tergolong mampu, rata-rata ibu yang anaknya bersekolah di SD 1 Banyurojo juga bekerja. Kebanyakan mereka bekerja sebagai asisten rumah tangga di perumahan instruktur Akademi Militer, Panca Arga.
“Manfaatnya paling dirasakan oleh anak-anak yang tidak biasa sarapan. Kondisi ekonomi atau karena kesibukan orang tua, anak jarang sarapan. Tapi kalau anak yang sudah terbiasa sarapan, mereka kurang excited.”
Membunuh Katering Sekolah
Isu pinggiran yang sering terkubur oleh berita positif bantuan makan bergizi gratis adalah dampak program ini terhadap usaha kecil menengah. Bagaimana proyek ini berpotensi membunuh usaha katering sekolah.
Para pengusaha katering kelas cere, megap-megap memburu nafas. Suara mereka lindap, ditelan riuh pesta perusahaan besar penyedia jasa makanan yang berebut tender.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Bulan di Laut, 4000 Marinir di Kapal Induk USS Gerald Ford Harus Ngantri Buat BAB
- 7 Bedak Compact Powder Anti Luntur Bikin Glowing Seharian, Cocok Buat Kegiatan Outdoor
- Kecewa Warga Kaltim hingga Demo 21 April, Akademisi Ingatkan soal Kejadian Pati
- 7 Rekomendasi Lipstik Terbaik untuk Kondangan, Tetap On Point Dibawa Makan dan Minum
- Cari Mobil Bekas untuk Wanita? Ini 3 City Car Irit dan Nyaman untuk Harian
Pilihan
-
Gempa 7,5 M Guncang Jepang, Peringatan Tsunami hingga 3 Meter Dikeluarkan
-
Respons Santai Jokowi Soal Pernyataan JK: Saya Orang Kampung!
-
Pemainnya Jadi Korban Tendangan Kungfu, Bos Dewa United Tempuh Jalur Hukum
-
Penembakan Massal Louisiana Tewaskan 8 Anak, Tragedi Paling Berdarah Sejak Awal Tahun 2024
-
Viral Tendangan Kungfu ke Lawan, Eks Timnas Indonesia U-17 Terancam Sanksi Berat
Terkini
-
Semen Gresik Maknai Hari Kartini dengan Mendorong Peran Perempuan dalam Pengelolaan Lingkungan
-
Semangat Hari Kartini, BRI Perkuat Pemberdayaan Perempuan untuk Ekonomi Inklusif
-
Dorong Bisnis Berkelanjutan, BRI Terapkan Praktik ESG dalam Strategi Operasional
-
BRI Raih Tiga Penghargaan di Infobank 500 Women 2026, Tegaskan Kepemimpinan Perempuan
-
Skandal Investasi Bodong 'Snapboost' di Blora: Nama Guru SMA Terseret, Ratusan Juta Melayang