Tudingan bahwa kremasi Murdaya Poo melanggar Peraturan Bersama Menag dan Mendagri, patah setelah Walubi menegaskan bahwa mereka tidak akan membangun krematorium di Borobudur.
Kremasi Murdaya Poo akan diselenggarakan di lahan milik pribadi dengan fasilitas non-permanen. Ketua DPD Walubi Jawa Tengah, Tanto Soegito Harsono menjelaskan, kremasi di Borobudur atas permintaan pihak keluarga.
Upacara kremasi akan dilakukan secara tradisional tanpa mendirikan fasilitas krematorium. “Kami tidak berencana membangun krematorium,” kata Tanto ditengah mediasi dengan warga Ngaran yang difasilitasi Pemerintah Kabupaten Magelang, pada 16 April 2025.
Hal ini pernah disampaikan oleh Prajna Murdaya, putra kedua Murdaya Poo. Menurut Prajna, kremasi akan menggunakan cara tradisional Buddha India Utara sesuai permintaan mendiang ayahnya.
“Kebetulan kami ada kenalan baik dengan lama dari Phalpung Sherab Ling (India Utara), dibawah nama tinggi, Tai Situ Rinpoche. Beliau mau mempersembahkan lama yang datang dari India untuk bikin kremasi sangat sakti dengan cara tradisional,” kata Prajna Murdaya.
Keluarga kemudian memilih Graha Vipasana Avalokitesvara, Mendut sebagai tempat menyemayamkan jenazah. Sedangkan upacara kremasi rencananya digelar di Vihara Graha Padmasambhava, Dusun Ngaran II.
“Kami rasa ada banyak kaitan dengan Borobudur. Dari agama Buddhis, kalau mau menghormati bapak dengan cara paling bagus, kami rasa di tempat yang sakti (Candi Borobudur).”
Kremasi Tradisional
Tidak seperti di krematorium yang memakai tungku api modern, kremasi tradisional cara India Utara menggunakan kayu untuk membakar jenazah.
Baca Juga: Usai Retret di Akmil, Gubernur Jateng Langsung Tancap Gas Kerja untuk Rakyat
“Kremasi di Buddha memakai kayu ditumpuk sekitar dua meter, (jenazah) dibakar di atasnya. Lalu mereka kasih kayu terus dibawahnya. Detailnya para biksu dari India Utara yang mengetahui karena mereka rutin melakukan ini.”
Setelah upacara kremasi selesai, seluruh perlengkapan seperti batu api dan tenda tempat para rinpoche berdoa akan dibongkar. “Proses pembakarannya sekitar 5 sampai 6 jam.”
Kajian dampak lingkungan pada upacara kremasi secara tradisional belum banyak dilakukan. Rata-rata objek penelitian adalah upacara kremasi modern mengunakan retort atau oven kremasi.
Retort membutuhkan energi besar untuk menghasilkan panas setara 750 hingga 1.150 derajat celcius dalam waktu singkat. Pada suhu ini, fragmen tulang pada jenazah akan hancur menjadi abu dalam waktu 1,5 hingga 3 jam.
Sedangkan proses kremasi tradisional membutuhkan waktu lebih lama, karena panas yang dihasilkan diperoleh secara bertahap. Meski penggunaan kayu masih memunculkan polemik, kremasi dengan cara tradisional dianggap lebih ramah lingkungan.
Toleransi Beragama
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Bulan di Laut, 4000 Marinir di Kapal Induk USS Gerald Ford Harus Ngantri Buat BAB
- 7 Bedak Compact Powder Anti Luntur Bikin Glowing Seharian, Cocok Buat Kegiatan Outdoor
- Kecewa Warga Kaltim hingga Demo 21 April, Akademisi Ingatkan soal Kejadian Pati
- 7 Rekomendasi Lipstik Terbaik untuk Kondangan, Tetap On Point Dibawa Makan dan Minum
- Cari Mobil Bekas untuk Wanita? Ini 3 City Car Irit dan Nyaman untuk Harian
Pilihan
-
Gempa 7,5 M Guncang Jepang, Peringatan Tsunami hingga 3 Meter Dikeluarkan
-
Respons Santai Jokowi Soal Pernyataan JK: Saya Orang Kampung!
-
Pemainnya Jadi Korban Tendangan Kungfu, Bos Dewa United Tempuh Jalur Hukum
-
Penembakan Massal Louisiana Tewaskan 8 Anak, Tragedi Paling Berdarah Sejak Awal Tahun 2024
-
Viral Tendangan Kungfu ke Lawan, Eks Timnas Indonesia U-17 Terancam Sanksi Berat
Terkini
-
Semen Gresik Maknai Hari Kartini dengan Mendorong Peran Perempuan dalam Pengelolaan Lingkungan
-
Semangat Hari Kartini, BRI Perkuat Pemberdayaan Perempuan untuk Ekonomi Inklusif
-
Dorong Bisnis Berkelanjutan, BRI Terapkan Praktik ESG dalam Strategi Operasional
-
BRI Raih Tiga Penghargaan di Infobank 500 Women 2026, Tegaskan Kepemimpinan Perempuan
-
Skandal Investasi Bodong 'Snapboost' di Blora: Nama Guru SMA Terseret, Ratusan Juta Melayang