SuaraJawaTengah.id - Tantangan kompleks dalam mewujudkan kesejahteraan lintas generasi kini menjadi sorotan utama para akademisi dan praktisi.
Sebuah konferensi internasional di Semarang menjadi panggung bagi para pakar untuk mengungkap temuan-temuan mengejutkan dari perspektif digital, pendidikan, dan psikologi.
Forum bergengsi tersebut adalah Education and Psychology International Conference (EPIC) 2025, yang diinisiasi oleh Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) Universitas Negeri Semarang (UNNES), Rabu (16/7/2025).
Dalam sambutannya, Dekan FIPP UNNES, Prof. Edy Purwanto, M.Si., menekankan betapa relevannya topik kesejahteraan di masa sekarang.
"Saya harap konferensi ini bisa jadi ajang berbagi pengetahuan dan meningkatkan skill dalam mempromosikan wellbeing," ujarnya.
Konferensi ini menghadirkan empat pakar terkemuka yang memaparkan riset terbaru mereka, memberikan pandangan baru yang fundamental tentang cara kerja manusia dan tantangan yang dihadapinya.
Membaca Otak untuk Pahami Perilaku Manusia
Salah satu sorotan utama datang dari Assoc. Prof. dr. Rizki Edmi Edison, Ph.D., dari Universiti Brunei Darussalam.
Dalam paparannya tentang "The Neuroscience of Leadership in Nurturing Generational Well-Being," ia mengemukakan bahwa neuroleadership adalah seni menggerakkan orang menuju tujuan yang berlandaskan pada pemahaman otak dan perilaku.
Baca Juga: UNNES Buka 5 Jalur Mandiri! 5.388 Kursi Tersedia, Cek Jadwal dan Syaratnya!
Ia juga memaparkan kerangka kerja yang menekankan pentingnya pendekatan bebas bias dalam memahami perilaku manusia.
Risetnya yang spesifik tentang "Faking Good Among Porn-Addicted Adolescents" turut menyoroti bagaimana bagian otak Frontal Lobe dan Limbic System berperan dalam perilaku tersebut, membuka jalan baru dalam penanganan isu adiksi.
Ancaman Penurunan Kecerdasan dan Kekuatan "Dorongan Halus"
Fakta menarik lainnya diungkap oleh Dr. Felix Why, Dosen Senior di Worcester University.
Ia mempresentasikan tentang "Sistem 1 untuk Perubahan Perilaku Kesehatan," yang menjelaskan bagaimana intervensi "nudge" atau dorongan halus yang menargetkan proses berpikir otomatis (Sistem 1) terbukti efektif.
Menurutnya, pendekatan ini semakin penting di era digital, terutama saat dunia menghadapi fenomena Flynn Effect Terbalik, yakni tren penurunan tingkat kecerdasan di beberapa negara.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- Menteri Keuangan Purbaya Diganti Hari Ini? Wakilnya Sudah ke Istana Pakai Jas
- Status Terbaru Anak Purbaya: Mafia Ancam Presiden Dibalik Pemecatan Bapak, Ada Foto Raja Juli
- Update Reshuffle Kabinet Hari Ini: Menlu Sugiono Dikabarkan Diganti
- Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
Pilihan
-
Kabar Buruk dari Italia: Jay Idzes Cedera 30-35 Hari Absen Bela Timnas Indonesia
-
Purbaya Ogah Bicara Panjang Saat Sertijab Menkeu ke Suahasil: Terima Kasih Semua
-
Apa Salah Purbaya hingga Dipecat Lewat Panggilan Telepon?
-
Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor
-
Dilantik Jadi Menkeu, Suahasil Akui Tak Berkomunikasi Dengan Purbaya
Terkini
-
BRI DPLK: Cara Buka Dana Pensiun dan Aktifkan Autopayment di BRImo
-
Polisi Libatkan Densus 88 dan Jatanras Usut Pembakaran Warung Mi dan Babi di Sukoharjo
-
Wapres Gibran Serukan Dukungan untuk Stabilitas Ekonomi Usai Pergantian Menkeu
-
20 Ribu Prompt Belum Tentu Jadi Hak Cipta, Pakar Soroti Batas Karya AI
-
UU Ketenagakerjaan Dikejar Deadline, Akademisi Soroti Minimnya Riset Empiris