SuaraJawaTengah.id - Sebuah keputusan besar dan berani diambil panitia Dieng Culture Festival (DCF) XV Tahun 2025. Untuk pertama kalinya sejak diperkenalkan, pentas musik ikonik Jazz Atas Awan resmi ditiadakan dari rangkaian acara utama.
Langkah ini menandai pergeseran fundamental festival yang selama ini identik dengan perpaduan musik dan budaya di dataran tinggi Dieng.
Keputusan "perceraian" ini bukan tanpa alasan kuat. Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dieng Pandawa, Alif Faozi, mengungkapkan adanya kegelisahan mendalam di kalangan panitia.
Popularitas Jazz Atas Awan yang meroket dinilai telah menutupi esensi utama DCF, yakni prosesi sakral ruwatan anak berambut gimbal.
"Kami ingin mengembalikan roh DCF sebagai ajang budaya, bukan sekadar festival musik. Jazz Atas Awan sudah besar dan layak menjadi agenda tersendiri," ujar Alif.
Kekhawatiran ini beralasan. Dalam beberapa tahun terakhir, magnet panggung musik modern itu terbukti lebih kuat menarik minat pengunjung dibandingkan ritual inti yang sarat makna spiritual.
Realitas di lapangan menunjukkan, wisatawan kerap lebih antusias menanti nama-nama besar musisi daripada menyaksikan prosesi budaya yang menjadi nyawa festival itu sendiri.
Kembali ke Akar: Dari Jazz ke Simponi Dieng
Mengusung tema "Back to Culture", DCF XV yang akan digelar pada 23-24 Agustus 2025 di Kompleks Candi Arjuna, dirancang lebih ringkas dan fokus.
Baca Juga: Embun Beku Kembali Selimuti Kompleks Candi Arjuna Dieng, Jadi Buruan Wisatawan
Sebagai ganti panggung jaz, panitia memperkenalkan Simponi Dieng, sebuah konsep orkestra yang memadukan musik etnik dan kontemporer dengan napas lokal yang kental.
Alif menegaskan, semangat bermusik di atas awan tidak dihilangkan, melainkan ditransformasikan. Simponi Dieng tetap akan melibatkan musisi nasional, namun dengan arahan aransemen yang selaras dengan jiwa dan kearifan lokal Dieng.
“Jazz Atas Awan kami ganti, bukan kami hapuskan semangatnya,” tegasnya.
Jantung acara akan sepenuhnya berpusat pada ritual inti: kirab budaya, prosesi ruwatan anak rambut gimbal, dan doa bersama yang ditutup dengan malam penerbangan lampion.
Pengalaman spiritual dan budaya pengunjung menjadi prioritas utama, bukan lagi sekadar tontonan hiburan semata.
Sebuah Pertaruhan: Absen dari KEN dan Ujian Minat Publik
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
- Kronologi Pernikahan Aurelie Moeremans dan Roby Tremonti Tak Direstui Orang Tua
- Bukan Sekadar Estetika, Revitalisasi Bundaran Air Mancur Palembang Dinilai Keliru Makna
Pilihan
-
Nama Orang Meninggal Dicatut, Warga Bongkar Kejanggalan Izin Tanah Uruk di Sambeng Magelang
-
Di Reshuffle Prabowo, Orang Terkaya Dunia Ini Justru Pinang Sri Mulyani untuk Jabatan Strategis
-
Akun RHB Sekuritas Milik Wadirut Dijebol, Ada Transaksi Janggal 3,6 Juta Saham BOBA
-
Danantara Janji Bangkitkan Saham Blue Chip BUMN Tahun Ini
-
Gurita Bisnis Adik Prabowo, Kini Kuasai Blok Gas di Natuna
Terkini
-
7 Langkah Cepat Pemprov Jateng Atasi Bencana di Jepara, Kudus, dan Pati
-
Nama Orang Meninggal Dicatut, Warga Bongkar Kejanggalan Izin Tanah Uruk di Sambeng Magelang
-
7 Fakta Menarik Tentang Karakter Orang Banyumas Menurut Prabowo Subianto
-
Honda Mobilio vs Nissan Grand Livina: 7 Perbedaan Penting Sebelum Memilih
-
7 Mobil Listrik Murah di Indonesia, Harga Mulai Rp100 Jutaan