SuaraJawaTengah.id - Peristiwa keracunan massal dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Gemolong, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, menunjukkan skala yang mengkhawatirkan.
Data terbaru menyebut jumlah korban terus bertambah hingga mencapai 251 orang, yang terdiri dari siswa, guru, hingga orang tua murid.
Insiden serius ini memaksa Pemerintah Provinsi Jawa Tengah turun tangan, menghentikan sementara program, dan melakukan investigasi mendalam.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan bahwa peristiwa ini menjadi evaluasi serius.
Sembari menunggu hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan, program MBG yang bersumber dari dapur umum terkait dihentikan total untuk mencegah jatuhnya korban lebih lanjut.
"Kita berhentikan dulu MBG-nya. Kita sudah buka posko terkait dengan kesehatan 24 jam. Sampai hari ini tidak ada yang dirawat inap, ia hanya rawat jalan. Hasilnya kita lab-kan. Tetapi kondisi anak-anak kita sudah sehat semua," kata Ahmad Luthfi saat ditemui di kampus Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, pada Rabu (13/8/2025).
Keracunan massal ini terjadi setelah para korban menyantap menu berupa nasi kuning, ayam suwir, telur suwir, orek, sayur timun, dan susu kotak pada Senin (11/8/2025).
Tak lama setelah itu, para korban yang tersebar di beberapa sekolah seperti SMPN 1, SMPN 2, dan sejumlah SDN di Gemolong, mulai merasakan gejala mual, sakit perut, pusing, hingga muntah.
Bahkan, beberapa siswa melaporkan keanehan pada makanan yang mereka konsumsi, seperti nasi yang terlalu asin dan sayuran yang tampak rusak.
Baca Juga: Percepatan Program MBG di Jateng, Pemprov Bakal Optimalisasi Aset Jadi Dapur Khusus
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Yunita Dyah Suminar, sebelumnya mengonfirmasi ada sekitar 196 anak yang mengalami gejala keracunan.
Menurutnya, seluruh korban mengalami gangguan pencernaan ringan dan telah mendapatkan penanganan medis tanpa perlu rawat inap.
"Rawat jalan, tidak ada yang rawat inap, karena gangguan pencernaan ringan. Tetapi untuk penyebabnya memang belum diketahui. Sampel makanannya sekarang diperiksa di provinsi untuk melihat apa penyebabnya," katanya.
Pemerintah Kabupaten Sragen, melalui Bupati Sigit Pamungkas, juga telah mengambil langkah cepat dengan menutup sementara dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mitra Mandiri Gemolong-1 yang bertanggung jawab atas penyediaan makanan tersebut.
Insiden ini turut mendapat perhatian dari Badan Gizi Nasional (BGN).
Kepala BGN, Dadan Hindayana, menyatakan akan memperketat Standar Operasional Prosedur (SOP) program MBG secara nasional, mulai dari pemilihan bahan baku, proses memasak, hingga distribusi untuk memastikan makanan aman dan berkualitas.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Desain Final Stadion Kendal Tornado FC Dirilis, Pembangunan Dimulai Tahun Depan
-
Buntut Penggeledahan "Ponpes" di Sukoharjo, Taj Yasin Pastikan Pendampingan Psikologis Anak-Anak
-
Ancaman Megathrust di Wisata Jateng, Sarif Abdillah Desak Hotel dan Destinasi Punya Standar Mitigasi
-
Bikin Bangga Indonesia! Inovasi Kelas Dunia Antarkan Semen Gresik Raih 4 Bintang di APQO 2026
-
BRI Raih Empat Penghargaan, Dorong UMKM Naik Kelas dan Makin Berdaya