SuaraJawaTengah.id - Tragedi maut yang merenggut tiga nyawa, termasuk seorang balita, dari kebakaran sumur minyak rakyat di Desa Gandu, Blora, Jawa Tengah, membuka ironi pilu yang telah lama terpendam.
Di balik harapan ekonomi yang ditawarkan emas hitam itu, tersimpan kisah keputusasaan warga yang bertahun-tahun berjuang melawan krisis air bersih.
Kebakaran hebat yang terjadi di sumur minyak ilegal di Dukuh Gendono sejak Minggu (17/8) siang, tidak hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban tewas dan dua korban luka bakar, tetapi juga menjadi puncak dari peringatan bahaya yang selama ini diabaikan.
Kepala Desa Gandu, Iwan Sucipto, mengungkapkan bahwa maraknya pengeboran minyak oleh warga ini adalah fenomena yang relatif baru, meledak dalam dua tahun terakhir.
Aktivitas berbahaya ini, ironisnya, lahir dari sebuah ketidaksengajaan saat warga berusaha mengatasi masalah kekeringan.
"Ada sekitar 60 sumur minyak rakyat, 10 di antaranya berada tepat di tengah pemukiman penduduk dan sudah menghasilkan setiap hari," kata Iwan Sucipto di Blora, Selasa.
Menurut Iwan, penemuan minyak ini berawal dari upaya seorang warga yang mengebor tanah demi mendapatkan sumur air.
Desa Gandu memang sudah lama menjadi langganan krisis air bersih, terutama saat musim kemarau tiba. Warga terpaksa membeli air atau berjalan jauh untuk mendapatkan kebutuhan dasar tersebut.
Namun, takdir berkata lain. Bukan air jernih yang menyembur keluar, melainkan minyak mentah.
Baca Juga: Ketua Pemuda Pancasila Blora Diciduk Polisi! Terlibat Penipuan Solar Fiktif Ratusan Juta
“Kabar itu cepat menyebar, bahkan terdengar oleh orang luar desa. Mereka kemudian berdatangan, sebagian ikut membiayai pengeboran. Dari situlah sumur-sumur minyak ini terus bermunculan,” jelasnya.
Harapan baru seketika membuncah. Lahan-lahan di sekitar rumah yang tadinya kering kerontang kini dibor dengan harapan menemukan sumber rezeki baru.
Bagi yang tak punya modal, mereka nekat bekerja sama dengan investor dari luar desa. Dalam sekejap, desa yang kesulitan air berubah menjadi ladang minyak dadakan.
Namun, potensi ekonomi ini berjalan beriringan dengan ancaman maut. Sebagai kepala desa, Iwan mengaku tak henti-hentinya mengingatkan warganya akan risiko fatal pengeboran minyak di tengah permukiman padat.
Imbauannya kerap dianggap angin lalu, kalah oleh desakan ekonomi dan iming-iming keuntungan instan bagi warga yang mayoritas adalah petani.
“Saya sudah berulang kali mengingatkan soal bahaya keberadaan sumur minyak di area permukiman. Tapi warga tetap nekat, karena minyak ini dianggap sebagai peluang untuk memperbaiki ekonomi mereka,” tutur Iwan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lipstik Warna Apa yang Cocok di Usia 50-an? Ini 5 Pilihan agar Terlihat Fresh dan Lebih Muda
- 5 Rekomendasi Sampo Kemiri Penghitam Rambut dan Penghilang Uban, Mulai Rp10 Ribuan
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 5 Cat Rambut yang Tahan Lama untuk Tutupi Uban, Harga Mulai Rp17 Ribuan
Pilihan
-
Duduk Perkara Ribut Diego Simeone dengan Vinicius Jr di Laga Derby Madrid
-
5 HP Xiaomi RAM 8GB Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
Terkini
-
Kudus Darurat Longsor! Longsor Terjang 4 Desa, Akses Jalan Putus hingga Mobil Terperosok
-
5 Lapangan Padel Hits di Semarang Raya untuk Olahraga Akhir Pekan
-
Perbandingan Suzuki Ertiga dan Nissan Grand Livina: Duel Low MPV Keluarga 100 Jutaan
-
Fakta-fakta Kisah Tragis Pernikahan Dini di Pati: Remaja Bercerai Setelah 6 Bulan Menikah
-
Miris! Sopir Truk Kawasan Industri Terboyo Keluhkan Iuran Pemeliharaan Tapi Jalannya Banyak Rompal