- BMKG peringatkan Jateng selatan waspada pancaroba.
- Cuaca ekstrem rawan muncul, dari hujan es hingga angin.
- Warga diminta siaga bencana hidrometeorologi lokal.
SuaraJawaTengah.id - Meski saat ini cuaca cenderung cerah berawan, ancaman cuaca ekstrem justru mengintai di depan mata seiring mendekatnya masa peralihan musim atau pancaroba.
BMKG memprakirakan periode pancaroba dari musim kemarau ke musim hujan akan dimulai pada pertengahan hingga akhir September 2025.
Periode ini disebut-sebut sebagai momen paling rawan terjadinya bencana hidrometeorologi yang datang tiba-tiba dan dapat membahayakan.
Kepala Kelompok Teknisi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo, menyatakan bahwa meskipun saat ini masih musim kemarau, tanda-tanda perubahan sudah mulai terlihat.
Potensi hujan ringan masih bisa terjadi, terutama di wilayah dataran tinggi.
"Kondisi cuaca dalam lima hari ke depan secara umum cerah berawan dan potensi hujan ringan masih ada terutama di wilayah pegunungan," kata Kepala Kelompok Teknisi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap Teguh Wardoyo di Cilacap, Rabu.
Saat ini, pola angin yang masih bergerak dari timur menandakan musim kemarau belum sepenuhnya berakhir.
"Pola angin di wilayah Jateng bagian selatan masih bergerak dari arah timur dengan kecepatan 5-50 kilometer per jam, sedangkan suhu udara berkisar 24-33 derajat Celcius dan kelembapan 58-95 persen," tambah Teguh.
Ancaman Nyata di Balik Pancaroba
Baca Juga: Kolaborasi Kementerian PKP Jateng dan BRI Semarang, Percepat Bantuan Rumah Swadaya untuk Warga
Teguh secara khusus menyoroti bahaya yang kerap menyertai masa peralihan musim.
Menurutnya, masyarakat perlu mewaspadai karakteristik cuaca yang tidak menentu, yang menjadi ciri khas pancaroba. Fenomena ini seringkali diawali dengan cuaca panas terik di pagi hari, yang kemudian berubah drastis menjadi gelap dan disertai hujan lebat.
Kondisi inilah yang memicu potensi cuaca ekstrem yang jauh lebih berbahaya dari sekadar hujan biasa.
"Saat masa peralihan, cuaca pada pagi hari bisa terasa cerah dan panas, lalu menjelang sore muncul awan gelap yang menyebabkan hujan disertai petir dan angin. Kondisi tersebut dapat menyebabkan peningkatan potensi cuaca ekstrem seperti puting beliung hingga hujan es," katanya menjelaskan.
BMKG memprediksi curah hujan pada bulan September 2025 di wilayah Jateng selatan masuk kategori menengah, berkisar antara 101-300 milimeter.
"Khusus untuk Kabupaten Cilacap, curah hujan pada bulan September diprakirakan berkisar 50-200 milimeter, sedangkan di Banyumas diprakirakan berkisar 151-300 milimeter," katanya menjelaskan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- 7 Sepeda Terbaik untuk Pemula Mulai Rp1 Jutaan: dari Hybrid, Lipat hingga City Bike
- Lipstik Wardah yang Bagus Apa? Ini 4 Pilihan Paling Tahan Lama untuk Dipakai Seharian
Pilihan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
Terkini
-
Jaga Sumber Air dari Hulu hingga ke Hilir, AMDATARA Tanam 250 Mangrove di Pesisir Jateng
-
Perempuan Berkebutuhan Khusus Tewas Terpanggang saat Rumahnya Terbakar
-
Kiper Juara Liga 1 Merapat! PSIS Semarang Datangkan Reky Rahayu
-
121 Juru Parkir Semarang Menunggak Setoran, PAD Rp280 Juta Terancam Melayang
-
Kualitas Aset Membaik, JPMorgan Naikkan Rekomendasi Saham BBRI Menjadi Overweight